Pemilik Bika Ambon Zulaikha Rasanya Enak Halal

Profil Pengusaha Hajjah Mariani


 
Sudah 20 tahun lamanya, di Jalan Mojopahit, Medan Sumatra Utara, menjadi sentranya jajanan khas yang berjulukan bika ambon. Namun tau kah kau ada bikan Ambon spesial. Baru berjualan lima tahun saja nama Bika Ambon Zulaikha melejit menjadi salah satu yang terpopuler. Lima tahun sudah pengusah paruh baya ini berjualan.

Kue bika Ambon Zulaikha terkenal seantero Sumatra. Bahkan namanya merambah hingga ke pasar negara tetangga. Alkisah pengusaha pemiliknya ialah mantan apoteker. Hajjah Mariani mantan ajudan apoteker salah satu perusahaan farmasi nasional. Sudah 35 tahun kenapa beliau tidak berhenti dan membuka perjuangan saja.

Berawal dari toko kudapan manis biasa berjulukan Zulaikha, nama putri pertamanya dan satu- satunya. Nama anak itu ialah Ira Zulaikha Ray. Sejak 2003 usahanya berkembang fokus berbisnis kudapan manis berjulukan ATI atau Acay atau sekarang namanya bika ambon. 

"Tapi sekarang yang favorit ialah Zulaikha, milik Hajjah Mariana," tutur seorang.

Menurut sejarahnya memang makanan ini aslinya buatan orang China di Medan. Berkat cita rasanya makan nama kudapan manis ini menjadi khasnya Medan.

Bisnis pasaran


Memulai urusan ekonomi bika Ambon bukan perkara mudah bagi Mariani. Wanita berkerudung ini menyebutkan hal istimewa perihal bikanya ada di rasa. Tidak terpikir sama sekali dirinya akan menjadi wirausaha. Hanya ia merasa butuh melaksanakan sesuatu dikala pensiun. Selepas bekerja 35 tahun, Mariana memilih berjualan bika Ambon.

Dalam kurun waktu enam tahun namanya sudah dikenal. Ia bisa menyaingi perjuangan bika Ambon lainnya yang sudah eksis duluan. Kiat sukses Mariani menurutnya terletak pada kemampuan menebak pasar. Dia bisa menyuguhkan bika Ambon dengan tujuh varian rasa.

Selain bika Ambon, makanan menyerupai bolu gulung, brownis, manisan jambu, sirup markisa, dimana resepnya bikinan keluarga sendiri. Bahan alami menjadi andalan Mariana, meski alhasil cuma bertahan 3 harian saja.

Nastar juga menjadi andalan Mariana. Dulu sih pengusaha bika Ambon kebanyakan warga Tionghoa. Dia menambahkan mungkin lantara itu pulalah bikanya menjadi terkenal. Karena memiliki gelar haji tentu bika dibuatnya menjadi lebih menarik oleh masyarakat Indonesia lebih banyak didominasi muslim.

Selain itu kualitas bika bikinan Mariani terjaga. Dia juga mengambangkan aneka rasa. Seperti bika Ambon warna hijau berbau pandan. Istri Bapak Ismeth Fuad Rangkuty Al- Haj ini memiliki tujuh varian rasa yakni ada bika biasa, pandan, pisang ambon, durian keju, dan pandan keju.

Guna mendukung usahanya Mariani melengkapi usahanya dengan sertifikasi halal. Mariana mengaku bisa menghabiskan 200 liter gula nira. Dalam sehari bika Ambonnya bisa terjual hingga 500 kotak. Bahkan hingga 1.000 kotak dikala ekspresi dominan liburan. Harganya dari Rp.35.000 hingga Rp.65.000, menjadi 15 iris atau 40 iris.

Membuat aneka varian rasa gres hukumnya wajib. Selain itu beliau menunjukkan kemasan menarik dengan warna dan kualitas bahan. Bika Ambon miliknya memiliki varian rasa yang berbeda dibandingkan bika sebelumnya.

Ada cara unik setiap pembelian bika Ambon. Pembeli tinggal ambil bika kemudian membayar ke kasirnya dikala akan keluar. Konsepnya menyerupai minimarket khusus jajanan. Akan ada kasir siap sedia mendapatkan pembayaran dari wisatawan. Nama bika Ambon memang sudah dikenal dan bika miliknya menjadi salah satunya.

Bisnis pensiunan


Dia hanya ingin bagaimana tidak menganggur. Ingin tetap bermanfaat dimasa bau tanah mendatang. Maka dikala ia pensiun membuat kudapan manis menjadi pilihan. Dari kegemaran ternyata respon masyarakat sangat mengejutkan Dia mengaku sepanjang berbisnis jarang sekali merugi.

"Saya sudah biasa bekerja dan ingin waktu saya bermanfaat. Kaprikornus saya tidak mau jadi pengangguran," tutur dia.

Motivasi lain ternyata ialah perasaan miris. Ketika Hari Raya, ia melihat banyak orang muslim berjuble buat mengantri membeli bika Ambon di daerah non- muslim. Dia ingin menunjukkan rasa nyaman bagi mereka. Kaprikornus lelah mengantri terbayar dengan kenyamanan hati.
'
Sebelum membuka perjuangan bika Ambon. Mariani lebih dahulu mencar ilmu aneka membua kue. Salah satunya ya cara membuat bika Ambon. Bermodal Rp.10 juta beliau mencoba peruntungan menjadi pelopor. Menjadi pengusaha bika Ambon muslim pertama. Marketing awal dijajakan ke teman- sahabat sewaktu beliau bekerja dulu.

Ternyata kuenya disukai temannya. Kepercayaan diri Mariani meningkat dan mulai mencari celah. Dalam ketatnya persaingan bika Ambon, menunjukkan selain rasa nyaman juga inovasi. Alhasil ya beliau kebanjiran orderan meski gres buka beberapa tahun saja.

Ketika Hari Raya usahanya akan dipadati pengunjung. Bahkan menurut penuturannya sudah menyerupai antrian sembako. Memang rasanya tidak meragukan. Itulah kenapa pernah satu kompi tentara datang pukul 01.00 pagi. Mereka datang cuma buat memborong bika Ambon buatannya.

Masuk tahun 2005, usahanya sudah memiliki dua gerai, dimana gerai keduanya dijalankan oleh anakanya, yaitu Ika Zulaikha dan suaminya.

Mulai dari nol


Dia bermodal uang Rp.10 juta. Usahanya berjalan statis tarus naik. Bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah beliau merugi. Karena itulah banyak bank menawari pinjaman. Mariani mengaku tidak tertarik menarik pinjaman. "Saya mau bangkit di atas kaki saya sendiri," pungkasnya.

Dia tidak pernah menyangka usahanya akan besar. Memang rezeki sudah diatur oleh Tuhan. Meski banyak orang akan memilih ekspansi ke luar kota. Mariani memilih membuka gerai tetap di Medan. Alasannya itu simple alasannya ialah bika Ambon miliknya merupakan khas Medan.

Mariani yang sadar telah diberikan rejeki berlimpah. Dia tidak pernah lupa berbagi. Dia selalu membayar zakat dan sedekah. Ia rajin menyumbang ke masjid dan aktivitas dakwah. Jika ada karyawan bujang maka akan diberika daerah tinggal dan mendapatkan pembinaan.

Hajjah Mariani juga menjalin kerja sama dengan tukang becak. Jika ada tukang becak mempromosikan daerah usahanya akan diberi hadiah: Kue bikan gratis. Terkadang tukang becak pengantar para pembeli juga dapat air minum gratis. Untuk mendukung usahanya sudah bersertifikasi Halal LPPOM MUI.

Usaha yang dijalankan semenjak 6 Agustus 2003 ini tidak pernah sepi. Berawal menjual 8 boks lalu naik hingga 500 boks. Awalnya cuma fokus menyasar waktu lebaran. Ketika awal di buka, tempatnya hanya menjadi penampungan yang tidak kebagian antrian di toko lain. Berkat kualitas pengunjung dadakan malah datang lagi.

Lambat laun namanya malah lebih dikenal dibanding toko lain. Rupanya rasanya lebih cocok buat orang kita sendiri. Kini usahanya sudah mempekerjakan 50 orang karyawan. "Omzet agak rahasia," tutur Zulaikha, putri bontot empat bersaudara Hajjah Mariani.

Usahanya bukan main- main. Setiap bika dibuat dengan kurun waktu dua jam. Bahan niranya memakai nira divermentasi selama semalam. Kalau bika dibuat sore maka dijualnya besok sore. Bika bikinan mereka ini hampir setiap hari ludes dan tutup pukul 21.00. Saat Idul Fitri nanti penjualan naik 2 hingga 5 kali lipatan.

Selain bika Ambon yang best seller yaitu lapis legit. Penjualan mencapai 500 boks terjual. Selain menjual di toko juga menjual di online inilah kelebihan bika Ambon Zulaikha.
Read More

Biografi Pengusaha Distro Cosmic Bandung

Profil Pengusaha Yudhi Febriantono 



Pengusaha asli Bandung ini menceritakan sedikit kisahnya. Kalau sudah bicara passion maka tidak akan ada matinya. Yudhi Febriantono bekerja sebab suka senang akan fasion. Tetapi bukan sembarangan fasion ia tengah geluti sekarang. Dia yaitu pengusaha muda memulai perjuangan semenjak kursi kuliah

Mulai merintis perjuangan semenjak kuliah. Apa saja dilakoni Yudhi, ibarat membuka rental VCD, jualan kembang, bahkan jualan kambing pernah. Sarjana ekonomi Universitas Widyatama ini lantas menemuka passion pada urusan ekonomi distro.

Brand Cosmic dirintis semenjak 2011 silam dan sudah dapat dibanggakan. Bisnis Cosmic mulai dari membuat kaus, topi, juga termasuk kemeja, sweater, ikat pinggang, sendal, dan jean. Untuk usahanya ia sudah punya 300- 400 distributor penjualan tersebar di Jawa, Sumatra, Brunei, Australia, Malaysia, dan Jerman.

Selain itu, Yudhi, juga membuka perjuangan berbasis konyasi mulai di Surabaya, Cilegon, Serang, Yogyakarta, dan Bandung sendiri. Para distributor memperluas pasarnya ke aneka distro lain, yang besar ibarat Globe Jakarta dan Chamber Makassar.

Usaha modal dengkul


Sebelum sukses ibarat sekarang dibawah bendera PT. Injoynesia. Yudhi berbisnis modal dengkul. Pertama kali membuka usaha, ia nekat membeli kaus golf senilai Rp.3 juta. Memang pria kelahiran Bandung, 2 Februari 1978, nekat tetapi memiliki keahlian dibidang desain. Dia memang dulunya hobi menggambar.

Kalau soal produksi kausnya, ia menunjukkan peran kepada pihak lain, dimana ia menerima untungnya Rp.600 ribu. Uang tersebut dijadikan modal awal kembali. Dia menggunakan bahan, mencetak desain, dan selanjutnya dititipkan ke distro- distro lain, contohnya Anonim Bandung, dan aneka macam distro di Jakarta.

Keterbatasan dana tidak membuatnya putus asa. Yudhi harus berpikir ekstra kreatif. Ia menambahkan salah satunya mengajak anak SMA magang. Pada ketika liburan membuka kesempatan anak muda berkreasi di bidang distro. Selain itu menunjukkan aneka program downhill, ibarat tur ke Bromo, Bali, dll, juga vespa riding Bandung.

"Kami melaksanakan semuanya berdasarkan kesenangan (joy). Definisi joy inilah yang diterapkan ke proses berbisnis," papar Yudhi.

Kenapa berbisnis di Bandung, ya sebab ia terlahir dan besar dilingkungan Bandung. Banyaknya factory outlet sedikit menunjukkan dorongan bagi pria ini. Ada dua hal kenapa ia memilih berbisnis pakaian: Karena Bandung merupakan sentra wisata dan kreatifitas orang Bandung tinggi.

Sebuah gabungan antara kebutuhan besar wisatawan. Dan dengan mudah Yudhi menciptakan aneka produk berkualitas dari sumber daya insan berkualitas. Harganya Rp.120 ribu hingga Rp.400 ribu, dimana ia mengakui perjuangan menyasar pasar kelas menengah atas.

"Bandung cepat tumbuh menjadi lahan urusan ekonomi yang baik," jelasnya. Menciptakan komunitas juga menjadi cara jitu Yudhi menyebarkan brand.

Fasion baginya sudah menjadi passion. Besarnya suatu negara terlihat dari perkembangan fasion. Memiliki identitas merupakan cerminan negara kuat. Perubahan fasion mengikuti perkembangan suatu negara. 

Sekarang Yudhi telah memproduksi kaus sendiri di Jl. Aceh, Bandung, yang mana menghasilkan 10 ribu potong per- bulan. Tahun 2002, ia meluncurkan brand terbaru yakni Cosmic Girl, yang mana disusul nama Infamous (2004) dan Mighty (2006). Tidak lekas puas tahun 2010 diluncurkan She' Infamous dan GDB Infamous.

Kalau Cosmic lebih menengah maka Infamous khusus kelas atas. Sementara Mighty digadang buat pasaran kelas bawah. Untuk memperkuat brand ia banyak mengendors tokoh ibarat David Naif, Kaka Slank, dan Heru Shagy Dog. Tidak cuma kontrak urusan ekonomi Yudhi mengaku memiliki kontak batin ke tokoh endorsnya.

Bagi bapak dua anak ini nama Cosmic harus makin berkibar. Maka pernah ia membuka outlet di Singapura. Sayangnya, outlet disana itu sudah tutup, katanya sih patner bisnisnya kurang bagus. Meski begitu ia sama sekali tidak terpikir akan masuk ke Singapura sebagai brand clothing sendiri.
Read More

Nulis Kata- Kata Menjadi Kaos Yajugaya Omzet 50 Juta

Profil Pengusaha Randhy Prasetya dan Teman 


 
Ini kisah seorang dosen yang menjadi pengusaha. Namanya Randhy Prasetya, yakni pengusaha muda yang sukses berkat kaos kata- kata. Usaha yang dijalankan semenjak 2010 dan akibatnya bisa menghasilkan omzet hingga Rp.50 juta. Padahal menurutnya beliau memulai cuma bermodalkan Rp.50 ribu.

Alkisah pria 31 tahun ini mulai iseng di Facebook. Mulai membuat kata- kata sastra elok di tahun 2010 -an. Nah, kemudian seorang sahabat nyeletuk, namanya Tiwi bilang ke Randhy kenapa tidak memanfaatkan kata- kata tersebut menjadi peluang bisnis.

Bisnis mepet


Prinsipnya, "karena kata- kata tidak bisa dipegang, maka kita kaoskan." Maka dimulailah perjalanan beliau dan dua orang temannya berbinsnis kaos. Modalnya cuma Rp.50 ribu dibelikan materi kaos sederhana. Cetak kata- katanya pakai peralatan sablon sederhana. Biaya murah tetapi goresan pena dikaos benar- benar menyentil.

Kata- katanya cerdas kemudian dibungkus dalam Yajugaya. Kenapa sih tidak membuat goresan pena bahasa asli kita menjadi sekeren bahasa Inggris. Walaupun sudah dijalankan semenjak 2010 -an. Butuh waktu hingga tahun 2013- 2014 menjadi urusan ekonomi bahu-membahu menghasilkan untung.

Tiwi menyebut semua orang mengekspresikan lewat kata. Yajugaya merupakan kalimat berbahasa Indonesia tetapi memiliki kebijakan menyerupai kata ajaib lainnya. Untuk menaikan pamor bahasa Indonesia ketiganya lalu membuat dari goresan pena menyindir, tetapi berkelas, dan mahal kesannya.

Ketiganya tidak memiliki latar belakang fasion. Tetapi nekat membuka perjuangan fasion bermodal beberapa ribu. Kenekatan mereka didukung keseriusan buat belajar. Mereka mencari tau cara menyablon. Mereka aktif mencari daerah mencar ilmu menyablon yang berkualitas.

Tiwi, istri Aga, sahabat Randhy bukanlah sembarangan. Randhy yakni seorang produser. Sedangkan Tiwi sendiri yakni trader saham. Kemudian suaminya memiliki pekerjaan di agensi periklanan. Kalau soal kreatif dua orang lelaki ini memiliki jiwanya. Dibantu Tiwi sebagai manajar ketiganya mencoba peruntungan sendiri.

Bisnis 50 ribu


Randhy ingat betul cuma megang uang selember warna biru. Kaos pertama dari selember digunakan menjadi pancingan gratisan. Ketika orang pesan dua maka dapatlah kaos itu. Istilah dipakai Randhy yakni jualan ala per- satuan. Atau sistem lebih jelasnya jualan berdasarkan pesanan atau meet the order pembeli.

Mereka memesan bisa minta dibuatkan berdasarkan status Instagram @Yajugaya. Randhy sendiri sudah siap 500 kalimat tinggal orang pesan dulu dan dibuatkan. Hasil untungnya digunakan sebagai modal mengikuti aneka pekan raya atau pop- out market.

Uniknya mereka tidak ngoyo memproduksi kaos. Karena orang dibuatkan saat memesan katanya dari Instagram mereka. Lain ceritanya kalau mereka mengikuti pekan raya sudah disiapkan dulu. Ratusan potong bisa terjual habis lewat program pekan raya produk. Kalau online cuma menjual 20- 30 bajuan per- minggunya.

Awal mereka memasarkan lewat Facebook berbentuk gambar. Karena responnya semakin baik Randhy makin bersemangat membuat aneka tulisan. Dia juga menuliskan kata- kata sastra indah. Ketika booming Instagram, maka ia memindah jualannya melalui Instagram tersebut.

Harga jualnya mungkin Rp.190 ribuan. Buat produk bantal seharga Rp.250 ribu dan frame kata seharga Rp.150- Rp.250 ribu, dan mereka mengantungi Rp.50 juta saat mengikuti acara. Ketiganya tidak punya latar belakang urusan ekonomi jadi usahanya cuma untung- untungan.

Ide dibalik kenama kata diatas kaos. Randhy menyebut fenomena garuda di dadaku. Kalau gambar saja bisa dijadikan kaos dan memberika semangat. Maka Yajugaya juga dapat mempresentasikan motivasi bagi kita anak muda. Kaos Yajugaya uniknya lagi cuma memperlihatkan dua warna baik goresan pena atau kaosnya: hitam putih.

Total ada 200 kata selah satu contohnya Se(n)iman, Mampu(s) Tanpamu, dan lainnya. Penjualan kaos milik mereka penjualannya semakin baik. Usaha yang dirintis semenjak enam tahun silam sudah memiliki pasar. Dia menyebut setiap hari sudah bisa 30 kaos dipesan. Tidak cuma lokal, dari Malaysia bahkan hingga Jerman.

Bagi kau mau memesan atau mau menjadi biro eksklusif kunjungi Instagram mereka.
Read More

Casing Handphone Batik Berbahan Bambu Omzet 100 Juta

Profil Pengusaha Nurlita Afrizal



Casing handphone asal China sudah marak. Nah, mengusung budaya kental, Nurlita menjajal masuk diantara ketatnya urusan ekonomi tersebut. Dia menciptakan kesempatan lewat batik. Nurlita menciptakan casing telephon yang bermotif batik dan wayang. Biar lebih unik, Nurlita menggunakan materi bambu biar terkesan lebih budaya.

Kenapa dari bambu ternyata ada alasan. Nurlita mungkin pernah mempelajari jam tangan kayu. Lewat materi bambu maka beliau lebih mudah berproduksi. Lantaran bambu lebih cepat tumbuhnya. Kemudian satu fakta menarik yakni bambu lebih cuek kalau dijadikan casing handphone.

Bayangkan dalam 1- 3 tahun sudah dapat ditebang. Usaha ini kemudian diberinya nama Batik Geek. Ia lalu menjelaskan kenapa urusan ekonomi casing handphone. Ternyata Nurlita pernah berjualan aneka komplemen handphone dulu. Kalah saing Nurlita justru membuat casing handphon buatan dirinya sendiri, unik.

Bisnis kreatif


Dia dibantu seorang sahabat erat Afrizal. Usaha bermodal Rp.3 jutaan bermula di tahun 2012 silam. Uang tersebut merupakan hasil lomba perencanaan bisnis. Kalau dapat dibilang, Nurlita sama sekali tidak keluar uang hanya bermodal kertas proposal. Mereka eksklusif mencari materi mengaplikasikan rencana mereka.

Tahun 2009 Nurlita pernah berjualan online. Salah satunya ya beliau berjualan aksesoris handphone impor. Lalu tahun 2012 barulah beliau berbisnis serius lewat brainstorming dan penelitian. Kebetulah ketika kuliah ada peran membuat business plan hingga balasannya dilombakan.

Awalnya Nurlita menjual casing handphone garsing. Waktu itu saingannya banyak sekali. Dia menjual lebih mahal yakni Rp.80- 100 ribu, padahal di pasaran harganya antara Rp.10- 50 ribu. Yah kalau orang tau ini pastilah mereka akan memilih membeli ke tempat lain.

Disisi lain batik tengah booming layaknya casing garsing. Dia lantas berpikir kenapa tidak membuat serupa tapi tak sama. Ia kemudian membuat contoh batik original lewat ukiran. Mahasiswa Universitas Telkom ini lantas menceritakan apa kesulitanya: Banyaknya model handphone menjadi masalahnya.

Permintaan banyak tetapi Batik Geek hanya memproduksi buat produk tertentu. Jadinya Nurlita harus siap mengecewakan antusias masyarakat Indonesia. Casing dijual kisaran Rp.300- 400 ribu. Per- harinya telah memproduksi 30 hingga 50 casing handphone. Omzetnya jangan kaget ya bisa hingga Rp.50- 100 jutaan.

Ia menyebut tidak cuma Indonesia. Berkat kekuatan internet, bisnisnya bisa merambah pasar Jerman, ia bahkan memiliki reseller sendiri. Untuk penghargaan mereka pernah diikutkan ke proyek Little Bandung ke Paris oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil.

Nama negara tempat Eropa, terutama Jerman, Belanda dan bahkan hingga Korea, sudah menjadi peminat perjuangan casing batik ini.

Bisnis proposal


Banyak dilakukan biar business plan mereka sukses. Menyempurnakan urusan ekonomi diatas kertas bukanlah satu perkara mudah. Penilitan soal materi sudah dilakukan Afrizal. Bagaimana dasar pembuatan, desain motifnya, serta ikon ponselnya. Afrizal lantas traveling ke beberapa daerah di Indonesia.

Ia menyebut motif tribal. Tahun 2011 hingga 2012 masih ramainya motif aztec dan tribal. Dan ketika tengah berpergian ke penjuru Indonesia, ia menyadari Indonesia memiliki potensi soal motif. Banyak desain dapat ia gunakan dari Sabang hingga Marauke. Sekalian mereka melestarikan budaya lokal milik Indonesia lah.

Proses pembuatan terbilang singkat awal- awal. Casing bambu Afrizal lantas memenangkan Entrepreneurstar 2012 oleh SBM ITB di Jakarta. Karena peringkat dua mereka menerima uang Rp.3 juta. Memanfaatkan internet beliau semakin garang memasarkan produknya.

Di Juni 2012, mereka resmi melaksanakan test market, dan responnya diluar dugaan. Permintaan akan casing handphone mereka melonjak. Bahkan bisa masuk ke toko retail, yakni di toko- toko alun- alun Grand Indonesia, ada di People Project by Localfest di Kuningan City dan The Addict Menado dan di Surabaya.

Tips sukses seorang pengusaha muda. Inilah beberapa tips kau dapatkan dari Afrizal. Jika kau galau akan wangsit bisnis, carilah sesuatu yang disukai. Apabila kau sudah memiliki wangsit urusan ekonomi jangan ditunda. Mulai suatu urusan ekonomi secepat mungkin, jalankan satu wangsit dulu hingga maksimal, barulah berbagi unit lainnya.
Read More

Blog Fasion Dunia We Wore What Dari Hobi

Profil Pengusaha Daneille Bernstein 


 
Berawal sebuah blog berjulukan We Wore What. Yang mana beliau harapkan, awalnya, menjadi sebuah kawasan buat foto- foto fasion miliknya. Dia menyukai foto. Dan bermaksudkan menangkap gaya anak muda aslinya New York ibarat dirinya. Talenta Danielle Bernstein ternyata lebih dari sekedar memfoto saja.

Selera berpakaian miliknya membawa beliau ke depan kamera. Wanita kelahiran 28 Mei 1992 ini memutuskan untuk memperdalam hobinya. Dia yaitu mahasiswi Fashion Institute of Technology -jurusan periklanan dan marketing-, yang hobinya memfoto sahabat satu kampus fasion nya.

Mahasiswi rajin


Ketika beliau pindah ke kampus FIT. Dia menemukan dunia berbeda. Bayangkan sebagai kampusnya para desainer atau jago fasion. Banyak hal menarik perhatian Danielle dimata kamera. "Saya membawa kamera saya dan segera memfoto para mahasiswa fasion," ujarnya kepada Barneys.com

We Wore What mengambil nama unik dari www (internet) itu sendiri. Blog tersebut menangkap fasion para anak muda New York. Dalam perjalanannya beliau kemudian diundang memfoto gaya urban buat program New York Fashion Week. Dia malah tertangkap difoto oleh banyak fotografer alasannya yaitu gayanya.

Dalam perjalannya blogging, Danielle menyadari bahwa fasion ihwal personal style lebih menarik. Banyak pembaca lebih tertarik apa yang beliau pakai sendiri. Pakaian apa, make- up apa, sepatu apa, dari ujungnya kepala hingga kaki Danielle.

Akhirnya beliau merubah gaya blognya. Dia lebih fokus ke gaya fasion beliau sendiri. Berkeliling Kota New York, Danielle berpetualang mengenakan fasionnya sendiri.

"Hubungan paling penting dalam hidup kau ialah kekerabatan kau dengan diri mu sendiri. Karena apapun yang terjadi, kau akan selalu menjadi diri kau sendiri," singkatnya.

Dimulai semenjak enam tahun lalu semuanya bermula. Dari hobi bermetamorfosis full- time blogger dan menjadi bisnis. Membangun brand diri sendiri sebagai sosok fasion stylist. Dia selalu mencoba jujur dengan gayanya berpakaian sendiri.

Selain melalui blog, Danielle lantas masuk ke ranah sosial media. Ia merambah Instagram pribadi melejit dengan 1,4 juta pengikut. Dia juga aktif posting di Snapchat. Tugasnya hanyalah pertanda apa yang beliau lakukan keseharian. Inilah penggabungan antara blog dengan segala artikel dan di kehidupan pribadi sosial media.

Tahun 2012, Refinery29 menamakan beliau salah satu blogger stylist masa depan, dan menjadi awal membuka mata dunia. Maka tidak salah jikalau Macy's -sebuah brand- mengajak Danielle bekerja sama. Dia kemudian mempromosikan dirinya dalam lebel mereka. Gaya Danielle pribadi tercetak melalui kerja sama tersebut.

Memasuki Desember 2016 Danielle berubah. Dia mulai mengerjakan ihwal topik interior design dan juga pakaian pria. "We Wore What menjadi brand gaya hidup," tuturnya. Danielle juga mulai mengerjakan brand sepatu sendiri. Juga membuka bab lain blog ibarat We Traveled Where dan We Ate What.

"Saya ingin mampu membagi bab lain saya tidak hanya soal fasion," ungkap Danielle. Juga termasuk menulis buku dibalik dongeng sukses blognya.

Meski sosial medianya besar. Faktanya beliau memiliki tim kerja masih kecil. Seorang fotografer profesional akan mengambil gambar buat blognya satu kali seminggu. Dan tim inti kerjanya hanya ada dia, manajer proyek, dan intern. Dia sih berharap dapat mempekerjakan lebih banyak orang lagi.

Barapa beliau dapat dari blog fasionnya. Antara $5.000 hingga $15.000 buat postingan bersponsor. Nilanya mampu naik atau turun tergantung jeda waktu kontrak dan fokus produknya.
Read More

Bank Mempersulit Pengusaha Keluhan Pengusaha Peci Lontar

Profil Pengusaha Mulyadi 



Menjadi pengusaha terkadang tidak ada dibenak. Apa yang dilakukan kita terkadang menjadi rejeki. Seperti dongeng Mulyadi, melihat bagaimana daun lontar dapat dibentuk sedemikian rupa. Ujungnya beliau menciptakan peci lontar karyanya sendiri. Selain peci beliau juga membuat aneka topi berbahan daun lontar nan- elok.

Produk buatannya sudah berkelana hingga Amerika dan Korea. Manfaatnya sedemikian rupa hingga orang NTT menyebutnya pohon kehidupan. Buahnya mampu dirubah menjadi minuman segar berjulukan nata de nira/ lontar. Buahnya setengah renta dapat dijadikan materi pakan. Kalau sudah renta dapat menjadi materi make up.

Pria 31 tahun ini sudah mendesain topi dan peci semenjak 1992. Menurutnya pohon lontar kok seolah-olah pohon kelapa. Lalu beliau berkesimpulan serat pelapahnya dapat menjadi bahan. Kini harga jual serat lontar yang ia telah rubah menjadi topi atau peci antara Rp.25 ribu hingga Rp.50 ribu.

Sebulan beliau memproduksi paling sedikit hingga 1.000- 3.000 buah. Omzet penjualan Mulyadi juga lumayan hingga Rp.30 jutaan.

Produknya menyebar tidak cuma Sulawesi, tetapi sudah Jakarta dan Surabaya. Namun tidak berhentik, ia menjualnya hingga ke Jepang, Korea, Malaysia, dan Amerika Serikat. Itu sudah berkurang jumlah negara tujuan ekspor. Ia mengaku sangat kesulitan untuk memenuhi pasar ekspor.

"Sekarang enggak ekspor lagi," keluhnya. Sulitnya menghimpun dana buat berproduksi. Sulitnya mengajukan dana dari Bank membuat Mulyadi berkecil hati. "..dipersulit, jadi malas," sanggahnya.
Read More

Pengusaha Kopiah Tasikmalaya Inspirasi Tanpa Henti

Profil Pengusaha Asep Mulyadi 



Umat Islam di Indonesia kan identik dengan peci. Nah inilah kenapa putra asal Tasikmalaya ini berbisnis. Dia berjulukan Asep Mulyadi. Pengusaha sederhana memproduksi aneka peci keren. Menurutnya tidak banyak orang mau bergelut di bidang ini.

Bermula dari sebuah usaha konveksi baju sendiri. Tetapi usahanya tidak berjalan lama. Untuk meneruskan hidup jadinya Asep memilih mengajar di sebuah pesantren. Asep juga mengejar pendidikan formalnya dulu. Makanya usaha konveksi tersebut tidak ia perjuangkan kembali.

Masuk tahun 2010, dimana ia menerima putra kedua, tuntutan hidup memaksa Asep berwirausaha lagi. Kali ini ia memilih berjualan kopiah atau peci. Modal uang Rp.1.500.000 -menggunakan uang anak. Uang tersebut diberikan orang bau tanah Asep buat anaknya yang gres lahir itu. 

"Saya gunakan uang anak... lalu saya belanja dengan uang tersebut," jelasnya. Mau membeli kopiah buatan sobat malah harganya tinggi. Asep sendiri buta pasaran kopiah. "Tapi susah laku," kenang Asep. Karena ia merasa bahwa membeli dari sobat dan dijual kembali susah; Asep terpikir sesuatu.

Berpikir pasti usahanya tidak akan bertahan lama. Asep memutuskan membuat kopiah sendiri. Tujuannya biar ia paham soal harga pasaran. Meski tanpa pengalaman ia tetap membuat. Dia mencoba. Tetapi hanya beberapa bulan gagal. Asep tetap mencoba lagi hingga kedua kali.

Bapak dua anak ini cuma paham sedikit perihal ilmu ekonomi. Buta soal produksi, distribusi, pemasaran, ia lakukan semua secara intuisi saja. Asep hanya tau ia harus terjun sendiri mencicipi pahit getir.

Bisnis perjuangan


Ilmu ekonomi Asep berbekal pengalaman. Satu bulan pertama membuat kopiah gagal. Bulan kedua jadinya ia dapa dijual tetapi belum bagus. Asep memang mempedulikan kualitas. Dua bulan berselang fokusnya ialah bagaimana membuat produk lebih bagus. Dia mencoba beberapa kali dalam setahun.

Sampai, Asep menemukan formula bagus, waktu itu ia membuat kembali meski semua sendirian. Tekun dan tabah kopiah buatannya kini laku dipasaran. Bertahap kopiah buatannya laku dipasaran. Dan jadinya Asep mampu membuka lapangan pekerjaan. Dia lantas dibantu 10 karyawan mengerjakan.

Semakin sukses, kini ia sudah memiliki 140 karyawan ditambah 10 orang karyawan freelance. Kopiahnya diproduksi 10 kodi per- hari. Usaha ini seratus persen berguru urusan ekonomi otodidak. Asep tidak mengenyam pendidikan manajemen. Boro- boro kuliah, Asep tercatat cuma lulusan paket C atau setara SMA.

Ia mengajak mitra bekerja sama. Alhasil usahanya semaki membesar. Modal kepercayaan merupakan hal terpenting. Bagi Asep kepercayaan harus selalu dijaga. Sisanya yaitu soal bagaimana menerima sumber daya insan berkualitas. Nah, disinlah problem utama bagi setiap pengusaha muda menyerupai kita ini.

Kunci mengumpulkan modal uang Asep mudah. Ia tidak mau ke bank. Keribetan tersebut diakali lewat ia meminjam ke pengusaha kain, pengusaha benang, pengusaha bordir. Ada semacam simbiosis saling untung diantara mereka.

Bagianya membangun contoh pikir kesukaran sendiri. Modal berupa sumber daya insan berpola pikir baik sukar. Dia tidak ada lelahnya mendidik karyawan. Sebuah seni dan keindahan sendiri dari berwirausaha. Ia selalu menekankan bekerja lah dengan tanggung jawab.

Tidak cuma bertanggung jawab dengan diri sendiri. Bertanggung jawab lah dengan produk kita buat. Lalu kepada masyarakat yang menggunakan produk kita. Produksi harus semakin bagus biar konsumen puas. Hingga nanti jadilah perusahaan semakin maju dan berkembang mensejahterakan di karyawan sendiri.

Untuk karyawan paling enak mengajari lulusan sekolah dasar. Walau kebanyakan karyawan Asep jebolah sekolah menengah. Mereka lulusan sekolah dasar memang enak diajari adegan produksi. "Tetapi saya enjoy saja Kang, ini kan ibadah juga," Asep mengaku tenang.

Bisnis sederhana berkembang


Jika ditanya hingga mana urusan ekonomi kopiah miliknya. Dengan besar hati Asep mengaku sudah hingga ke Malaysia, Thailand, Pakistan. Pulau Jawa sendiri hampir sudah seluruh pelosok nama Al Markaz Collection ada. Ia mengatakan mereka penjual selalu mencari produknya. "Bisa jadi kopiah produk saya sangat menarik."

Semula permulaan urusan ekonomi Asep jeblok. Bertahap dari kaki lima, toko hingga grosi dimasuki Asep. Dalam kurun waktu tiga tahun Asep terjun sendiri mencari pelanggan. Ia berguru sendiri perihal pasaran. Semua ia geluti sendiri dengan tujuan mempelajari urusan ekonomi dari hulu hingga ke hilir.

Pernah kopiahnya dikomplain pelanggan. Ada orang bilang jelek lah lalu tidak mau bayar. Bangganya saat kerja kerasnya terbayar saat kopiahnya masuk televisi. Dia besar hati banyak artis memakai kopiahnya. Juga saat momen pemilihan Perdana Menteri Malaysia, banyak warga Malaysia memakai kopiah buatan Asep.

Asep mengaku senang sebab bisnisnya tumbuh. Soal omzet mencapai 10% hingga 20% dari 2.000 hingga 3.000 kodi per- bulan. Harganya bervariasi per- kodi seharga Rp.280 ribu dan produksi 100 kodi setiap harinya. Pria kelahiran 28 Agustus 1982 ini ingin perusahaan lebih besar dan mempekerjakan lebih banyak.

Asep kini tengah menambah varian produk. Merambah urusan ekonomi fasion, Asep juga mau membuat aneka baju koko. Ia juga sudah berinvestasi di properti loh. Dia ingin membangun sekolah gratis mandiri. Yakni sekolah menghasilkan uang buat membiayai siswa yang masuk disana.
Read More

Profesional Muda Belia Venture Capitalist 19 Tahun

Profil Pengusaha Patrick Finnegan


 
Umurnya sih gres 19 tahun, tetapi Patrick Finnegan merupakan salah satu venture capitalist ternama. Nama cowok kece ini menjadi buah bibir banyak media besar menyerupai CNBC dan CNN. Dia lah pola wujud generasi Z, generasi termuda dari milenia.

Berawal dari cita-cita mendirikan startup sendiri. Ia mulai fokus mengejar mimpinya menjadi pemodal. Dia pindah ke Manhattan dengan segala kesuksesan.

Drop out sekolah


Anak muda kelahiran Connecticut, dan tumbuh besar di daerah Willaimstown, Mass -sebuah kota kecil di Berkshire. Dia bersekolah di sekolah asrama berjulukan Eaglebrook School. Itu merupakan sekolah khusus laki- laki hingga kelas enam. Sebuah pengalaman menyenangkan ujarnya. Selepas lulus hingga hingga kelas delapan ia berjalan dalam kebosanan perjalanan akademis.

Finnegan memiliki pandangan masa depan. Di umur 14 tahun, contohnya, urusan ekonomi pertama Finnegan dimulai dan ini wacana startup kupon. Itu loh, urusan ekonomi online yang menunjukkan kupon aneka diskon baik makan atau traveling. Untuk mengakali umurnya ia terpaksa membuat identitas palsu.

Tidak buruk alasannya ialah ia mengantungi untung $80.000, mengerjakan aneka proyek online. Dan banyak urusan ekonomi dijalankan tetapi tidak selalu berhasil. Ia tidak menjelaskan detailnya kenapa. Yang pasti membuat identitas palsu membuat Finnegan kecil khawatir.

Memang hingga lulus ia tidak pernah tertangkap guru. Tetapi ketika itu ibunya yang memergoki KTP palsu miliknya.

Semua urusan ekonomi dijalankan dari balik pintu kamar asrama. Selepas sekolah menengah pertama, Finnegan malah drop out ditengah jalan ketika menengah atas. Mungkin bagi orang renta atau orang tidak mengenalnya, ini menjadi keputusan paling menyedihkan, tetapi salah besar.

Beruntung ia diterima kerja di perusahaan periklanan, Wieden+Kennedy. Dimana merupakan perusahaan agensi yang menangani iklan terbaik Nike. Tidak cuma itu Finnegan juga mendirikan perusahaan sendiri yang berjulukan WorldState.

Perbedaan terbesar dari generasi milenia ialah brand. Dimana brand "kesusahan" mengenali demografi dari anak- anak jaman sekarang. Inilah kenapa bermunculan anak muda menyerupai Finnegan. Perjalanan karirnya kemudian melangkah dari satu firma, perusahaan marketing, dan pendanaan startup.

"Saya memiliki beberapa orang saya panggil, dan berkata, "bisakah kau menaruh (investasi.red) $50 ribu?" atau beberapa $1 juta, sewaktu $2juta," ujar Finnegan bangga.

Meski membangun perusahaan kebanyakan berakhir gagal. Finnegan menemukan karirnya dibidang venture capital. Pengalaman bekerja dibidang periklanan dan diajari oleh para veteran. Nama Finnegan dipercaya oleh perusahaan berjulukan Studio.VC, untuk memahami bagaimana generasi gres kita dapat dipahami.

Alhasil ia menjadi yang termuda diantara VC di New York. "Patrick ialah networker yang menakjubkan, dan ia sangat cepata berguru mengenai apa orang akan sukai," puji Liam Lynch, pemilik Studio VC.

Pengusaha muda belia


Dia tidak menyebut berapa gajinya. Hanya Finnegan disebutkan mengerjakan proyek senilai $5 juta. Dia cuma menyebutkan pendapatan konsultasi antara $3.000 hingga $7.000. Totalnya ia mengaku sudah dapat mengantungi enam digit angka nol.

Kelebihan Finnegan ialah kegagalan terus menerus. Dari sinilah ia berguru bagaimana memahami wacana generasi kekinian.

"Saya sangat naif. Menjadi muda, kau bisa memanfaatkan saya," ujarnya. Ia mencontohkan ketika umurnya 16 tahun ia pernah bekerja. Sebuah perusahaan berjulukan MetricsHub yang kemudian dibeli Microsoft. Dan sebagai pegawai pertama perusahaan, ia tidak dapat apa- apa.

Pelajaran terpenting dalam hidupnya. Kekurangan pendidikan formal bukanlah masalah. Ini terjadi delapan bulan lalu ketika ia bertemu dengan salah satu mentornya di New York. Kehidupan sosial kota besar dan bekerja di banyak perusahaan membawanya bertemu orang hebat.

Waktu itu sang mentor sangat mempercayainya. Sayangnya, ia gagal, mengecewakan mentor padahal ia dianggap lebih tau wacana generasi sekarang. Karena orang telah percaya dengan dia, maka tidak ada waktu berpesta sekarang.

"Saya harus menyampaikan 150% saya setiap saat," jelasnya.

Bagi anak muda menyerupai dirinya wacana bersenang- senang tidak lepas. Tetapi sekarang baginya menjadi lebih besar merupakan aset. Mimpinya menjadi pengusaha mogul, sukses dalam hal merombak tatanan pengusaha sekarang dan menstabilkan bisnisnya.

Dia bukanlah lulusan Harvard. Namun Finnegan bisa melihat pola pasarnya anak muda. Para milenia lebih melihat perusahaan berbeda. "Apakah itu trendy? Apakah tahan lama?" terang Finnegan. Berbicara mengenai tip sukses ala pengusaha muda 19 tahun. Maka tiga hal penting dapat kau pelajari sebagai berikut:

1. Kamu harusnya mengikuti arus

Dia pindah ke New York dan merasa dikalahkan. Orang berhasil mengejar pengalamannya dulu. Karena ia waktu disana cuma berbicara tidak melakukan. Dan Finnegan menyadari bahwa jikalau kau mau menjadi pengusaha besar, kau membutuhkan penyaluran.

"Saya mau mangatakan bahwa hal paling penting ialah menyalurkan," paparnya.

2. Bicara kurang, mendengar lebih banyak

Menjadi pengusaha berarti berbicara. Tetapi meski kau butuh menyalurkan lebih banyak, akan ada waktu lebih banyak buat kau berbicara kurang dan mendengar. Tidak membicarakan semua progres kau di sosial media lebih penting. Karena itu semua ucapan kau ke publik, maka kau tidak akan jadi spesial.

3. Selalu bekerja keras

Kita memiliki terusan keluar lebih banyak ketika kita tidak ada internet dulu. Sekarang keluar lah dan kejar mimpi kamu. Yang mana penulis isyaratkan bahwa terkadang internet berarti membuang waktu. Perhatikan apa yang kau lakukan dan dunia faktual lebih baik.
Read More