Butik Sampah Yogya Modal Bungkus Mie Instan

Profil Pengusaha Hijrah Purnama Putra 


  
Dia memang peduli akan lingkungan. Dari pendidikan saja, putra asli Aceh ini, lebih memilih jurusan Teknik Lingkungan. Kepeduliannya pun tidak terbatas akan ras ataupun lingkungan. Hijrah Purnama Putra memilih untuk merealisasikan kepedulian justru di Yogyakarta.

Berkuliah di Universitas Islam Indonesia, Putra sudah peduli lingkungan bermula dari hal kecil. Hingga Putra begitu sapaan akrabnya menemukan konsep bank sampah. Lantas berlanjut membentuk apa namanya butik sampah sebagai media promosi.

Butik sampah layaknya mirip butik pakaian. Bedanya apa dipajang di etalase merupakan hasil daur ulang. Ia membuat aneka produk mirip tas bungkus makanan. Jangkauan produk butik sampah milik Putra sudah merata ke suluruh Indonesia. "...yang belum kita hingga Papua dan Maluku," ujarnya.

Ada impian berpengaruh tidak cuma berhenti di Yogyakarta. Maka Putra berjuang keras supaya bisa membawa konsep sampah modern ini menjadi nyata.

Sampah jadi jualan


Bermula agresi sederhana mirip mengumpulkan sampah di sekitar. Dia mulai dari warung bubur kacang ijo atau burjo dan angkringan. Aksi sederhana semenjak tahun 2008 hingga menemukan butik sampah. Agar tidak cuma peduli lingkungan tetapi menawarkan manfaat, maka Putra mulai membeli sampah dari masyarakat.

Ia mulai membeli sampah. Bersama seorang rekan hingga tahun 2009, sudah menggunung lah itu sampah. Ia mulai kebingungan mau diapakan sampah tersebut. Kemudian muncul wangsit perihal daur ulang sampah. Putra mulai memilah sampah serta memikirkan mau dijadikan apa.

Produk mereka pertama ialah seminar kit dimana dijual Rp.25.000. Perlengakapan itu menjadi booming dalam waktu seketika. Putra melihat peluang lebih besar maka terbangunlah bank sampah. Orderan seminar kit berbahan daur ulang melonjak hingga produksi 250 buah.

Bank sampah ini sudah dipilahkan jenis sampah bukan sembarangan. Fokus utama ialah sampah- sampah bungkus sachet makanan atau minuman.

Sosialisasi terus dilakukan supaya bank sampahnya mendapat perhatian masyarakat. Terus terjual laris produk karya Putra, hingga terkumpul 205 kelompok petugas sampah sendiri. Masing- masing kelompok terdiri dari enam hingga delapan orang.

Dalam pengumpulan sampah terbilang mudah. Kelompok tersebut akan bersama mengumpulkan sampah. Dan nantinya ada tim yang melaksanakan penjemputan kelompok tersebut. Jika diibaratkan mereka ialah cabang bank sampah milik Putra. Harga satuan per- sampah mulai Rp.10- 70 dimana tergantung besar atau kecilnya.

Sebulan saja sudah dapat mengumpulkan 4.000 bungkus sampah. Putra pun menerima penghargaan atas jerih payahnya sebagai wirausaha muda sosial juara pertama.

Bukan urusan ekonomi biasa


Tahun 2011, dibuka butik daur ulang, yang mana menurut Putra fokusnya memasarkan produk- produk dari hasil daur ulang. Utama produk karya Putra dan kawan- kawan. Produk karya Putra antara lain seminar kit, tas sekolah, goodie bag, dompet, tas laptop, bros dan lainnya.

Putra menyebut sudah ada 90 jenis produk berbeda. Butik daur ulang didirikan di Jalan Sukoharjo No 132 tempat Condongcatur, Sleman, Yogyakarta.

Tidak berhenti di produk lama, Putra terus berkreasi termasuk salah satunya produk tas lipat. Masyarakat sendiri meminati produk macam dompet, tas, dan map. Untuk harga jualnya relatif murah mulai Rp.6.000- Rp.275.000. Proses pembuatan terbilang cukup memakan waktu, tetapi mudah dipraktikan.

Pertama kali, Putra mengumpulkan sampah bungkus makanan atau minuman. Lantas ia berhitung berapa jumlah sampah terkumpul. Kemudian masuk tahap pencucian, dikeringkan, dan disortir kembali. Proses itu simpulan sampah plastik akan masuk gudang dulu.

Kemudian sampah plastik tersebut dijahit, dibentuk, dan masuk ke tahap pengontorolan kualitas. Semua itu menjadi tahapan wajib sebelum barang siap dibentuk.

Sayangnya, masih banyak orang ragu untuk memakai produk karya Putra. Selain sebab faktor kebersihan juga faktor aib menjadi kendala. Mereka aib bila harus menjinjing tas hasil daur ulang sampah. Padahal Putra meyakinkan tahap desain sudah dibentuk sedemikian rupa.

Keawetan juga terjaga sebab sistem quality control diterapkan. Putra sendiri masih memiliki banyak mimpi yang belum dicapai dari bisnisnya. Yakni bagaimana supaya masyarakat yang menabung di bank sampah juga memakai produknya. Harus tidak ada keraguan memakai produk daur ulang sampah.

Untuk bank sampahnya, ia sedang menyiapkan sistem cek saldo lewat SMS. Bank sampah besutanya juga diperlukan bisa mengurangi sampah di Yogyakarta pada umumnya. "Kami dapat mengurangi jumlah sampah per hari di Yogyakarta mencapai 16,90%," tuturnya.

Selain dijual melalui butik, Putra juga menjual melalui banyak sekali pekan raya kewirausahaan Expo Wirausaha Muda Mandiri contohnya. Sambutan pengunjung expo juga baik tertarik akan kreasi Putra. Memang Putra tidak sekedar mendaur ulang tetapi terus berkreasi. Banyak tidak menyangka bila produk tersebut dari limbah.

Sekilah memang tidak terlihat mirip sampah. Konsep selalu kreatif serta mengikuti mode membuat butik sampah berasa benar- benar butik. Kreasinya unik dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan daur ulang serampangan.

Bersama kawan Dosen UII ini hobi mengumpulkan bungkus mie instan. Terutama saat mereka nongkrong di warung burjo. Sejak 2005 bersama kawan teknik UII menyambangi warung- warung mie instan yang buka 24 jam. Sebagai anak kos hobi mereka memang nongkrong dan menikmati malam di Yogyakarta.

Sejak 2009 mereka merubah bungkus plastik menjadi tas seminar. Pertama terjual 25 seminar kit dipesan oleh mahasiswa UGM. Tumbuh semakin banyak, Putra bersama kawan mulai rajin menyambangi warung ke warung. Di tahun 2012 barulah wangsit perihal toko khusus didirikan bersama penjualan yang terus meningkat.

Perbulan 300 bungkus sampah plastik bekas makanan dan minuman terkumpul. Berkat bank sampah yang ia gagas maka TPA Piyungan kehilangan sekitar satu ton sampah. Usahanya diperlukan semakin maju dan siap ekspansi membangun cabang di banyak sekali daerah.

Meski berstatus dosen sekarang, Putra mengaku urusan ekonomi sosialnya tidak mengganggu, sebab ia dibantu oleh banyak orang. Banyak orang termasuk mahasiswanya mendukung Putra. "...tidak hanya menawarkan teori tetapi bisa menujukan praktik," tutup Putra.
Read More

Pelopor Wirausahawan Muda IT Ridwan eBdesk

Profil Pengusaha Ridwan Prasetyarto



Dia dikenal sebagai pengusaha kurun 2000 -an. Namanya sempat disebut sebagai pengusaha muda dibawah 35 tahun. Kala itu entrepreneurship masih dalam ketidak pastian. Menjadi pengusaha bukan pilihan utama, internet tidak melaju pesat menyerupai sekarang, maka inilah kisah Ridwan Prasetyo.

Tidak banyak kisah dapat ditemukan dikala dicari. File artikel diantara tahun 2000- 2009 ditelusuri. Yang pasti beliau dikenal sebagai CEO eBdesk. Sebuah perusahaan software perintis bagi masyarakat Indonesia.

"Saya tidak bergaya menyerupai bos," tuturnya. Hanya orang biasa yang mengambil kesempatan. Berani kah kau mengambil resiko. Juga bagaimana memasukan gaya berbisnis kamu. Dijamannya sudah menggunakan metode urusan ekonomi ala startup yang tidak terikat susunan hirarki.

Yang terpenting pekerjaan harus selesai tegas Ridwan. Sebaik mungkin bagaimana mereka mendeliver setiap produk mereka ke pasaran.

Bisnis software


Mendirikan perusahaan dikala umur 35 tahun. Dia bersama tiga kawannya semenjak 1999. Barulah pada tahun 2001 mereka gres masuk ke ranah komersil. Bayangkan mereka memiliki banyak pelanggan besar, antara lain PT. Astra International, Telkom, PT. Rekayasa Industri, Satelindo, PT. Rajawali Nusantra Indonesia juga Pertamina.

Kebanyakan pelanggan dari Indonesia, juga Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Malaysia. Didirikan oleh anak- anak alumni Institut Teknologi Bandung (ITB). Kantornya sejuk sebab berpusat di Bandung, dimana berhawa cuek sejuk, sebuah rumah dan perkantoran jadi satu memiliki pekarangan luas.

Dari Amerika Serikat, pelanggan bonafitnya yaitu Interim Healthcare, jasa outsourcing kesehatan. Kinerja mereka baik dan bisa mengantungi pendapatan Rp.4,5 miliar. Pada tahun 2002 membukukan laba bersih hingga 30%.

Perusahaan software yang melaju mengikuti perkembangan jaman. Dimulai dari perusahaan berjulukan Optima Infocitra Universal (OIU). Perusahaan perangkat lunak berbasis Microsoft dan Oracle. Dimana mereka ini menyebarkan software costumized. Fokus menangani urusan ekonomi khusus, maka eBdesk melepas diri dari OIU.

Sejak pertengahan 1997, Ridwan bersama kawan fokus membangun eBdesk, dimana merupakan tanggapan atas ketidak puasan akan perusahaan software kala itu. Perusahaan dimasanya berorientasi proyek dan jasa konsultasi saja.

"Ini mengakibatkan kita pemakai software bikinan pemain besar dari luar," ujar M. Iqbal Noor, Chief Strategic Alliance eBdesk.

Dorongan memisahkan diri tersebut membuat mereka fokus. Mengerjakan software masal komersil pertama mereka. Namun tidak mudah mendesain perangkat lunak menjadi produk siap pakai. eBdesk butuh waktu hingga satu tahun sebelum akibatnya memasarkan produknya ke halayak.

Mereka bekerja melalui trial and error. Ridwan selaku CEO, mengaku pernah mengalami "salah" desain, yang terjadi sebab tidak bisa mengikuti perubahan pasar. Ketika arah pasar berubah maka Ridwan juga harus mengarahkan perusahaan harus berubah. Padahal perusahaanya itu tengah giat mengerjakan software pertama.

"Kami pun terpaksa mengubah lagi desain yang telah kami buat sehingga investasi yang telah dilakukan kami stop," Ridwan menambahkan.

Analisa pasar tajam dilakukan oleh perusahaan. Belajar lewat keselahan mengakat hasil software mereka ke ranah internasional. Akhirnya produk pertama mereka jadi pada tahun 2001 dan telah terjual hingga 500 lisensi lebih. Sebuah software hasil rekayasa seharga $1.000 buat 25 pengguna, atau $40 per- pengguna.

Banyak pelanggan mengakui software mereka memang cost effective. Lebih rendah biaya dibandingkan hasil perusahaan lain. Produk berjulukan Corporate Portal Software versi 3. Dimana kau bisa menggabungkan semua aplikasi perusahaan dalam satu interface atau layar. Sifatnya costumized dan gampang digunakan oleh siapapun.

Inilah kelebihan software karangan anak negeri ini. Berbasis internet membuatnya terkoneksi melalui sistem komunikasi per- komputer. Ridwan menyatakan faktor harga juga menjadi penentu penterasi produknya ke pasaran.

Sukses tanpa sorotan


Tentu tidak banyak orang Indonesia sadar akan eksistensi eBdesk. Lewat konsep matang serta harga yang bersaing, padahal, perusahaan ini telah hingga ke pasaran luar negeri. Nama Ridwan Prasetyo sempat ikut naik menjadi informasi di media masa online.

Generasi pengusaha muda Indonesia pertama ini menjelaskan. "Produk kami memang tidak bisa menutupi semua kebutuhan suatu perusahaan, tapi produk kami buat ini mencukupi kebutuhan mereka, simple tapi efektif," terang Ridwan.

Harga yang baik didukung kualitas baik. Ingat bukan menjual murah tetapi mengakibatkan terjangkau. Software bikinan eBdesk berbasis Linux membuatnya tidak terikat lisensi. Perusahaan bisa menciptakan perbedaan merebut pasaran. Cakupan pasar pun diperbatasi biar tetap unggul. Mereka menyasar perusahaan ukuran menengah.

Rata- rata pengguna yaitu 25- 500 orang. Segmen tersebut memang sudah semenjak awal. Jika dalam negeri sudah diserbu produk asing, maka eBdesk memilih pasaran luar negeri. Kecondongan ini memang sengaja mungkin menurut kami sebab tradisi kita (mencintai produk asing.red).

Menembus pasar luar negeri memang tidak memudah. Tetapi mereka lebih menghargai value sebuah produk dibuat. Bukan soal branded nya tetapi kualitasnya. Meski begitu kualitas produk Indonesia khusus dibidang teknologi masih sederhana. Oleh sebab itu beliau meyakinkan kekuatan pelayanan biar dipercaya konsumen.

Untuk itu mereka membentuk jaringan di luar negeri. Sebuah kerja sama dalam hal teknologi, pemasaran, dan konsultasi.

Visi Ridwan serta pendiri eBdesk lain memang besar. Menjadikan perusahaan Software Corporate Portal yang memimpin pasaran di luar. Bukan sekala lokal tetapi sekala dunia. Mereka bahkan berani menargetkan negera- negara menyerupai Eropa, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Mereka memasarkan melalui agen independen. Produk mereka didistribusikan melalui para vendor hardware, konsultan software, dan pihak ISP. Melalui mereka lah produk milik eBdesk mencoba memasuki pasar dengan lebih dipercaya.

Uniknya mereka mendanai sendiri, dengan jumlah keryawan 27 orang, yang 23 diantaranya yaitu hebat IT. Ridwan mengatakan investasi awal senilai $500.000- 1 juta. Dialokasikan untuk riset dan pengembangan produk. Jika untung maka akan pribadi diinvestasikan kembali ke pengembangan produk.

Ridwan lantas bercerita kembali perihal perusahaanya. Pernah mereka memasarkan produk, eh ternyata, di luar sana ada perusahaan yang lebih dulu memasarkan produk sama. Sebuah "kecolongan" ujarnya kepada pewarta. Inilah pengusaha, persoalan akan selalu menghadang tetapi harus dilewati sebab kita belajar.

Target keuntungan tahun 2001 yaitu $1 juta, dimana target penjualan 25.000 lisensi. Walau ia dan kawan- kawan telah sukses ekspansi masih dibidang sama. Mereka berprinsip berbisnis di ruang lingkup teknologi industri. eBdesk fokus menyebarkan perangkat lunak. Kunci sukses menurutnya yaitu fokus di satu bidang.
Read More

Donat Mungil Malang Diantara Inspirasi Bisnis dan Agama

Profil Pengusaha Putri Priyanti 



Tidak pernah disangka akan sesukses kini. Putri Priyanti hanya seorang ibu rumah tangga. Hingga beliau sadar bahwa ada potensi urusan ekonomi ditangannya. Melalui makanan donat bisa mengantongi omzet mencapai Rp.25 juta per- bulan. Padahal urusan ekonomi ini awalnya sekedar sampingan tidak sangka akan sebesar sekarang.

Ulet, kerja keras, dan pantang mengalah menarik perhatian masyarakat. Lihat saja produk disuguhkan oleh urusan ekonomi "kecilan" Donat Mungil. Yang lambat laun untung bisnisnya tidak semungil namanya.

"Saya pembeli online, donatnya enak. Adonan tidak terlalu manis ditoping," terang salah satu pelanggan Putri saat diwawancara.

Usaha rumahan bertempat di rumah sendiri, Oma View kawasan Pinggiran Timur, Kota Malang. Modal awal cuma Rp.50 ribu kini menjadi buruan masyarakat di Kota Malang. Ibu muda ini mempekerjakan lima orang wanita menjadi bab produksi dan kurir antar donat.

Dimulai semenjak setahun terakhir dan mengambil banyak perhatian masyarakat. Unik alasannya ialah ia memadukan marketing sosial media serta marketing tradisional. Bisnis Donat Mungil dikemas sedemikian rupa sehingga tidak kalah kemasan dengan produk donat asing.

Aneka toping dibentuk sedemikian rupa jadi imut. Menarik tidak cuma kemasan tetapi topingnya. Coklat berasa enak tidak enek alasannya ialah kecil mungil.

Harga perkemasan yakni Rp.15 ribu hingga Rp.63 ribu. Donat Mungil Putri Priyanti telah bisa menarik perhatian masyarakat Malang. Cuma suatu kejadian sempat membuat gaduh ramai di sosial media. Meski begitu ia tetap yakin tidak akan menghipnotis omzet penjualan.

Alkisah sang pemilik menerima orderan donat bertema Natal. Namun alasannya ialah tidak sesuai dengan apa yang diyakini pemilik sebagai muslim; ajakan itu ditolak halus. Sayangnya, sosial media memang bermata tua, tajam dan tumpul malah membawa problem tersebut merembet ke arah kebencian.

Secara tegas Putri menjelaskan ini problem doktrin dirinya. Pengguna sosial media menyebut dirinya diluar logika alasannya ialah menulis ucapan Selamat Natal bukan hal besar. Bahkan harusnya dilakukan dikarenakan telah menjadi satu bentuk toleransi. 

"Sebagai Muslim kita tidak dibolehkan ya untuk menyerupai itu (mengucapkan selamat Natal)," tegasnya.

Akibat itulah beliau menerima cacian pula. Namun tidak sedikit orang mendukung sikap tegas Putri akan kepercayaanya. Apalagi menurutnya kebebasan agama sudah diatur oleh Undang- Undang. Pihak si Donat Mungil sendiri memang tidak membuatkan SARA, tetapi menolak untuk menuliskan ucapan Selamat Natal.
Read More

Kisah Pelukis Sangkar Burung Ratusan Juta

Profil Pengusaha Sukses Suliyanto 



Cuma lulusan SD bukan berarti berhenti berusaha. Rejeki Tuhan mengatur itulah prinspi dipegangnya. Ia berbekal kreatifitas menembus batas. Hanya warga Dusun Kedungmas, Kec. Kalitidu, Bojonegoro bukanlah siapa- siapa. Kini pengusaha sukses berbekal airbrush mengecat kandang burung perkutut.

Namanya Suliyanto pria 36 tahun bermula dari sekedar menekuni hobi. Bapak dua anak ini dengan penuh hati menjelaskan cerita suksesnya. Dikutip dari blokBojonegoro.com, dirinya mengatakan cuma berbekal keberanian saja.

Latar belakang pendidikan membuatnya cukup minder. Berawal dari beliau bekerja di perusahaan pembuatan kandang burung di Sepanjang, Sidoarjo dan kawasan Pasar Turi, Surabaya. Ia mulai berpikir berbisnis sendiri mulai 2001 -an. Cukup lama beliau bekerja yaitu tiga tahunan. Selepas cukup menimba ilmu maka beliau memulai sendiri.

Untuk modal berbisnis dijual lah sapi peliharaan. Ditambah uang tabungan, hasil penjualan sapi tersebut mulai membeli kandang setengah jadi di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Madura. Dari mulai membeli kemudian dilukis, Suliyanto berguru membuat kandang sendiri.

Dengan bermodal cat dilukislah kandang menjadi indah. Usahanya semakin berkembang alasannya yaitu memang beliau minim persaingan. Pasaran meluas hingga Lamongan, Tuban, Gresik, Surabaya, Monjokerto, Cepu, Blora, Grobogan dan sekitar Purwodadi tentunya.

Pesanan naik maka omzetnya juga naik tinggi. Menurut penjelasannya beliau telah bisa menghasilkan omzet mencapai Rp.100 juta seminggu. Menjadi pengusaha sukses membuatnya bisa membeli rumah sendiri, kendaraan beroda empat pickup, dan dua motor. Apakah pernah ada masalah? Ternyata beliau pernah hampir melarat alasannya yaitu dihutang banyak orang.

Ia sempat patah arang. Akan tetapi beliau tidak mau patah justru semakin berkreasi melalui aneka teknik. Dia melukisa kolam artis melukis di atas kanvas. Sempat diutang pemesan hingga hampir tidak balik modal. Ia lalu menyebarkan aneka contoh baru.

Pria kelahiran 30 Desember 1979, menjual sangka karyanya relatif tinggi, ya alasannya yaitu memang memiliki nilai seni ya banyak pembeli berminat. Harga antara Rp.110.000 hingga Rp.210.000 per- sangkar. Ada 10 contoh paling diminati pelanggan. "...tapi jikalau pesan model berbeda akan tetap dilayani," ujar pengusaha sukses ini.

Pola andalan Suliyanto meliputi hewan, ibarat ikan, burung, naga, adapula contoh pewayangan. Cara membuat beliau menjelaskan: Sebelum dilukis diberi palmir atau cat dasar putih. Dia lantas menjemur kandang di bawah matahari hingga kering.

Untuk lukisan burung beliau butuh waktu satu hingga satu setengah jam. Ia menyebut tergantung pada tingkat kesulitan. Terutama bentuk burung merak menjadi tersulit dikerjakannya alasannya yaitu detail. Keahlian melukis di kandang didapatkan melalui seorang sobat asal Kabupaten Sidorjo, Jawa Timur.

Kini beliau mengerjakan dibantu oleh 15 orang karyawan. Dia menutup dengan mengajak kalian lulusan sekolah dasar ataupun yang minder akan pendidikan jadilah pengusaha. Bekerja keraslah ibarat sosok Pak Sulis dengan urusan ekonomi lukis kandang burungnya.

Semoga artikel ini menjadi pelajaran bagia siapapun dengan latar pendidikan berapapun.
Read More

3 Pelajaran Hidup (Bisnis) Kamu Tidak Akan Pernah Pelajari di Sekolah

Bagaimana Belajar Hal Baru Apapun Dengan Cepat



Pernah kah kau mencicipi bertahun berguru sesuatu di sekolah hanya untuk menemukan bahwa semuanya itu tidak berguna, ataupun lebih parah dari itu, semuanya salah?

Tidak ada hal mengecewakan kecuali menyadari bahwa apa yang kau pelajari di sekolah atau di pelatihan tidak berkhasiat di dunia nyata.
.
Selepas hidup dan bekerja di 6 negara berbeda, dan membiayai startup dari nol menjadi urusan ekonomi jutaan dollar hanya dalam 2 tahun.

"Saya menyadari bahwa ada seni administrasi khusus kau berguru 10x lebih cepat sambil meyakinkan kau tidak akan membuat waktu berguru sesuatu yang sia- sia," tambahnya.

Kamu dapat berguru tiga hal berikut bagaimana kau dapat dengan cepat berguru apapun dari nol:

1. Pelajaran #1: Hanya berguru apa yang paling kau butuhkan

Menurut Heather R. Morgan, Pendiri Salesfolk, ia tidak pernah berguru khusus mengenai sejarah soal Mesir. Karena ia berguru perihal Arab saat berkuliah. Dia ingin berguru perihal Mesir. Sejarah Mesir, terutama perihal ekonomi negara Spinx ini.

Bagaimana berguru mengenai pertumbuhan ekonomi di Mesir. Menurut Heather berguru perihal Arab bukan berarti akan membantu kau berguru perihal Mesir loh.

Kamu tidak akan bisa masuk ke tempat pinggiran Mesir tanpa bahasa Arab- Mesir (Amiya). Belajar pun jikalau cuma bahasa Arab biasa tidak akan membantu. Daripada berguru bahasa Amiya lewat buku, maka ia memilih berguru eksklusif ke supir taksi ataupun penjual di pinggiran Mesir.

Jika ia tidak paham akan sesuatu. Ia akan menulisnya di buku. "Saya akan menulis itu jadi saya akan dapat melihat kata itu di kamus atau bertanya kepada seorang sahabat asal Mesir," Heather bertutur.

2. Pelajaran #2: Bangaun fondasi awal sedini mungkin

Hal pertama yang ia berguru alphabet Arab secara online. Belajar mengenai alphabet bisa membawa ia dapat melihat petunjuk jalan. Mencari tempat maka nyaman di tempat ia berkunjung. Dan yang terpenting ialah ia dapat membuka kamus lebih mudah.

Setelah berguru mengenai alphabet, maka ia dengan mudah bisa menulis puluhan kata, dan frase ia butuhkan untuk hidup, menyerupai memesan makanan, ngobrol dengan pemilik toko, dan bepergian kemanapun.

Dia juga berlanjut berguru perihal menyapa, sanjungan, dan frase buat menanyakan arah, sekaligus bertanya apa yang ia suka dan tidak. Maka frase inilah menjadi landasan baginya berguru gramer dan menggunakan itu langsung.

Intinya menurut penulis ialah kau berguru dari hal kecil menurut kebutuhan, maka kau secara konstan akan berguru keseluruhan.

3. Pelajaran #3: Membuat banyak keselahan menjadi lebih baik daripada menjadi perfeksionis yang tidak pernah mencoba

Ada banyak temannya yang berguru perihal bahasa Arab. Namun, saat mereka tiba di Mesir, mereka tidak merasa nyaman berbicara Arab dengan orang lokal. Pasalnya dialek Mesir kental membuat mereka yang sudah berguru Arab kurang nyaman. Mereka terpaku kepada buku teks Arab mereka pelajari di sekolah.

Alhasil mereka tidak berguru apapun untuk beradaptasi. Bukannya mencoba sebaik mungkin, mereka malah memilih bertahan dengan kepintaran mereka dan duduk di comfort zone mereka. Mereka memang berilmu tetapi tidak berkembang.

Lain hal Heather yang tidak peduli membuat keselahan. Semangat entrepreneurship membuatnya lebih berani dalam mengambil resiko. Tentu, ia berharap tidak akan membuat kesalahan sama sekali, tetapi ia lebih mau memilih berusaha meski mempermalukan diri sendiri daripada tidak sama sekali.

Tentu, beberapa orang lokal akan mentertawakan dia, justru menurutnya itulah ice breaker atau penghancur kekakuan terbaik supaya menyatu dengan penduduk sekitar. Berbeda dengan temannya yang sudah berguru bahasa Arab lima tahun, Heather sudah bisa memesan makanan, menelepon taksi, bahkan bernegosiasi.

Dia bisa bernego dengan para pemilik tempat sewa ataupun toko penjual. Strategi inilah yang membantunya masuk ke dalam budaya lokal, tidak cuma di Mesir, tetapi termasuk ke Korea Selatan, Turki, dan negara manapun ia kunjungi.

Dalam 2 tahun ia menyadari pertumbuhan urusan ekonomi miliknya tidak dipelajari di sekolah. Menjadi penjual jago justru datang saat ia bisa berguru beradaptasi. Dia juga mengandaikan bagaimana developer berguru perihal aba-aba sendiri dan mengaplikasikannya.
Read More

Ular Phyton Wanto Raup Jutaan Rupiah Sambil Beramal

Profil Pengusaha Wanto Goweng



Apa rasanya tinggal bersama puluhan ular phyton. Ternyata bisa menghasilkan jutaan rupiah loh. Sebut saja kisah hidup Wanto Goweng, pria 42 tahun asal Desa Kaliputih, Kecamatan Kutowinangun, Kebumen yang hidup bersama mereka penuh kasih sayang.

Wanto sudah suka dengan ular semenjak umur 13 tahun. Total waktu itu ia memiliki 18 ekor ular phyton raksasa. Ia menempatkan itu di tempat khusus. Menurut sejarahnya sudah dimulai semenjak ular masih kecil. Lelaki yang bertato ini menekuni budidaya barulah pada 1998.

Dimana ia pertama kali berjalan melewati hutan di desanya, lantas menemukan bayi ular phyton di semak- semak. "Ular itu saya ambil dan pelihara serta saya bawa kemanapun saya pergi," tuturnya.

Semula ia cuma memelihara satu ekor saja. Kini ada ratusan ular dipelihara olehnya di rumah. Ia merupakan pecinta binatang. Alasannya memelihara phyton sebab prihatin ular ini diburu dan dipotong. Juga dikuliti lalu dijadikan kerajinan, ataupun jadi olahan masakan.

Ia menangkar ular phyton dibantu istri, Krisyul dan temannya, Julmanto buat memelihara binatang melata ini. Berkat ketelatenan maka ularnya berkembang makin banyak. Untuk hasil penangkaran dijual sedengkan ular yang dipeliharannya khusus tidak diapa- apakan.

Terlanjur sayang, itulah penjelasan Wanto dikala seseorang menawar ularnya hingga ratusan juta. Khusus ia menanggap ular- ular peliharannya sebagai keluarga. Ular peliharaan Wanto sendiri jinak. Warga sekitar juga hening dikala bermain dengannya. "Ular ini sudah jinak," sembari berbaring bersama ular- ularnya.

Untuk ular dirawat semenjak kecil tidak dijual. Tetapi ia tidak menolak buat hasil penangkaran. Yang mana bisa laku jutaan rupiah dibeli para pecinta binatang. Meski bekerja serabutan, ia menyempatkan diri menyisihkan uang buat membeli puluhan ayam.

Para tetangga tidak segan ikut urunan. Jadilah rumah Wanto semacam tempat rekreasi warga. Banyak anak bermain bersama tidak takut. Mulai anak SD, SMP, SMA pecinta binatang datang setiap hari melihat agresi Wanto dan ular- ularnya.

Ular hasil penangkaran Wanto beratnya bisa mencapai 500kg hingga 1 kuintal. Tidak jarang para komunitas hewan reptil banyak sekali tempat berkunjung ke rumah Wanto. Mereka asik berdiskusi perihal eksistensi hewan melata tersebut di alam liar.

Mereka termasuk membeli anakan milik Wanto. "...harga mulai dari Rp.400 ribu hingga Rp.500 ribu per- ekor," tambahnya. Anakan ularnya bisa terjual 15- 20 anakan ular.

Perlua dijelaskan kenapa mereka para pecinta ular membeli. Mereka memang sengaja tidak membeli dari pemburu sebab mencegah kepunahan. Justru ular dari Wanto merupakan trobosan semoga menjaga ekosistem di hutan. Mereka membeli ular Wanto semoga ular phyton tidak punah.

Ular anakan juga masih liar. Mereka pasti bisa bertahan hidup di alam liar. Ular- ular tersebut lantas dilepas ke alam liar.

Wanto bercerita bagaimana ia berguru otodidak menangkar ular. Dia berguru bagaimana mengawinkan ular miliknya. Ular betina bertelur dipisahkan dengan ular jantan. Ular itu disendirikan semoga tidak terganggu dikala mengerami. Telur tersebut kemudian menetas, penetasan akan terjadi selepas 3 bulan hingga 4 bulan.

Selepas itu ular kecil dipisahkan kembali bersamaan dengan seukuran. Untuk ular peliharaan Wanto sendiri memegang 20 ular indukan.
Read More

Amoy Cantik Pengusaha Muda Cincau

Profil Pengusaha Meliana Ling Fang 


 
Menjadi pengusaha merupakan jalan hidup Meliana. Wanita Tionghoa berjulukan lengkap Ling Fang, sudah asik berbisnis sementara teman- temannya sibuk kuliah. Asiknya beliau berbisnis bareng sang pacar, yaitu Elsby Edwin Tjitojo, dimana sekarang menjadi suaminya dan bersama menjalankan urusan ekonomi cingcau khas Singapura.

Dia meracik sendiri resepnya. Tidak dipungkiri urusan ekonomi cingcau bukanlah pertama. Banyak persaingan tentu membuat beliau sempat tegang. Apalagi persaingan terkadang kasar, bisa saling menjatuhkan meski sama- sama mencari makan. Wanita bagus ini sudah terbiasa akan hal tersebut bahkan sudah tidak kaget.

Omzet menurun ya lumrah dijalani pengusaha. Dia bahkan kehilangan tiga outlet cincau hingga tersisa tiga. Meliana tidak memungkiri adanya perbuatan curang. Oleh alasannya ialah itu beliau berhati- hati dalam mengambil pegawai menjaga outletnya. "Itulah tantangannya," tuturnya.

Berjualan belum tentu untung. Usaha yang dijalankan bersama pacar semenjak 2012- an tidak selalu berlimpah. Apalagi beliau memulai sendiri dari nol meski bersama sang pacar tentunya.

Ia pun memperketat komunikasi dengan karyawan. Maksudnya bukan untuk mencurigai loh. Meliana lanjut jelaskan ini biar tidak ada jarak diantara mereka. Perempuan kelahiran 21 Mei 1989 tidak memungkiri jikalau berwirausaha bukanlah hal mudah.

Tetapi beliau menemukan kenyamanan dikala berusaha sendiri. Karena tidak perlu bekerja dibawah perintah orang lain. Bisa bekerja semaunya tanpa ikatan waktu. Tetapi, Meliana mengingatkan kita anak muda biar lebih ulet dan kerja keras alasannya ialah kita bekerja sendiri.

Meski pengusaha muda, bukan berarti Meliana duduk kalem sambil ngopi. Pengusaha cincau bagus ini harus rela bangun pagi- pagi. Sebuah kedisiplinan untuk bangun sempurna waktu dan mengerjakan tugasnya. Ini bentuk kesepakatan pilihannya menjadi pengusaha muda.

"Disiplin dan sadar dengan tanggung jawab perjuangan sendiri," tandasnya.

Menjaga usahanya beliau menjalankan perjuangan semi- waralaba. Meliana tidak pernah bolos mengunjungi outlet setiap hari. Pengembangan outlet tetap perlu meski kegagalan akan menghantui. Ia meyakinkan pengusaha muda harus berekspansi. Termasuk memperkaya varian produk biar tidak membosankan pelanggan.

Sempat urusan ekonomi meredup tetapi kini beliau bangun lagi. Kini beliau mendisplinkan karyawan biar bekerja lebih teliti. Meliana memastikan setiap takaran cincau buatannya tepat. Kalau hingga takaran berbeda maka ia pastikan rasanya akan berubah.

Dia tidak takut dengan bermunculan perjuangan cincau lain. Asalkan beliau bisa mengatur waktu sempurna guna. Ia yakin bahwa usahanya akan lancar. Satu prinsip dipegang beliau dan sang suami soal berbisnis: Orang pandai itu banyak di dunia ini, tapi orang yang berani mencoba sedikit.

"Bagi saya urusan ekonomi bukan untuk dipikirkan tapi dijalankan dengan baik," tutupnya.
Read More

Pengusaha Muda Jago Nego Majukan Moodzystore

Profil Pengusaha Hadlan Feriyanto 



Tidak mempunyai modal sepeser pun. Itulah cerita Hadlan Feriyanto M, memulai modal tanpa sepeser pun di tahun 2011. Lelaki yang bersahabat disapa Feri ini kini telah meraup omzet hingga ratusan juta rupiah perbulan.

Hidup biasa saja sebelum kaya. Feri cumalah pegawai warnet. Fasilitas internet membuatnya bebas mencari wangsit tanpa bayar. Lantas dimulai lah urusan ekonomi jasa pembuatan jaket seragam angkatan. Itulah seragam jaket yang dipakai anak kampus biar seragam dengan kata- kata unik.

Memang masih ngetren waktu itu. Mencari di internet, Feri menemukan cara menerima barang. Ia lantas menjanjikan sahabat komisi jikalau bisa menggaet konsumen. Uang Rp.300 ribu dijanjikan dimana soal hal pembuatan diserahkan sahabat lainnya, seorang pemilik vendor di Malang, Jawa Tengah.

Pria asal Kalimantan Timur ini melanjutkan urusan ekonomi bermodal internet. "Saya hanya punya toko online. Pesanan awal itu 50 jaket," tuturnya. Untuk pihak konveksi meminta uang tanda jadi 50 persen dari berapa harga keseluruhan.

Tetapi ia tidak membayar. Ia bisa meyakinkan vendor bahwa ia tidak butuh itu. Feri meyakinkan orang bahwa ia bisa membayar itu dalam satu setengah bulan. Mahasiswa Fakultas Pertanian Unmul angkatan 2010 ini memang mahir nego.

Usaha itu tidak selamanya mulus. Beberapa jaketnya hilang dicuri. Walhasil Feri harus mengganti uangnya dengan uang pribadi. Berjalan waktu urusan ekonomi berjulukan Moodzystore tersebut menarget tren anak muda asal Samarinda. Contohnya ia menjual pomade, kaus polos, kaus gildan, tas kamera, dan lainnya.

Online store menurutnya mempunyai kelemahan. Terutama bagi pembeli yang menikmati menyentuh eksklusif dan mencoba di tempat. Oleh alasannya itu ia mengajak kawan, Yudha, Dendy, dan Nirwan membuka toko fisik. Ia bisa meyakinkan temannya berhutang supaya memodali urusan ekonomi mereka.

Memang tepat pilihan Feri membuka toko fisik. Berkat hutang teman- temannya yang puluhan juta, arus barang menjadi lancar dan orang bisa menemukan toko mereka. Tidak berhenti, ia mengajak seorang sahabat asal Bali berbisnis perlengkapan surving berharga miring.

"Pokoknya, kami menjual segala sesuatu yang berbau anak muda," Feri menjelaskan.

Lelaki kelahiran Palaran, 14 Februari 1993 ini, melaksanakan serangkaian ekspansi. Mulai membuka jasa kurir, perjuangan membersihkan sepatu, bahkan ia membuka jasa ojek modern terintegrasi. Tetapi terakhir ini belum lah tepat masih mencari konsep matang dan modern lagi.
Read More