Raja Mebel Indonesia Pernah Hutang Miliaran

Profil Pengusaha Frans S. Pekasa 



Kondisi gagal total dalam berwirausaha pernah dialaminya. Keterpurukan tidak menghentikan langkah pria ini, malah semakin bersemangat alasannya yaitu pengusaha yaitu hidupnya. Gambaran aktual perjalanan hidup Frans Satrya. Dan ia bisa membalikan kegagalan menjadi kesuksesan berulang.

Pernah mengalami titik kebangkrutan total saat memasuki tahun 2005. Frans, pria berkacamata ini punya hutang menumpuk. Waktu itu dirinya sempat terpikat oleh batubara. Padahal jiwa wirausaha dalam dirinya ya tidak lain hanya di mabel.

Alhasil ia tidak lagi fokus di furnitur. Ujungnya ia kehilangan perusahaan yang dulu telah ia rintis.

"Bisnis gres itu membuat saya tak lagi fokus pada furnitur," tuturnya. Makanya kau harus fokus pada satu perjuangan dulu. Terkadang pengusaha bisa memilih untuk tidak berekspansi. Perhitungan matang harulah kau lakukan jikalau di titik tertinggi.

Cermati perjuangan kau fokuslah di bahaya mendekati mu. Bermodal nekat dan besar lengan berkuasa ia kembali berbisnis di bidang sama.

Bisnis keluarga


Berawal dari urusan ekonomi sang ayah yang terseok- seok. Hutang menumpuk membuat perjuangan konstruksi ayah jatuh bangkrut. Untuk itulah Frans menjadi sosok lebih prihatin. Cara membantu ayahnya yaitu dengan ikut jadi pengusaha. Frans yang waktu itu masih duduk di dingklik SMA, memilih menjadi makelar mebel.

Selepas lulus kuliah tahun 1998 usahanya semakin getol. Apalagi ia menerima pengalaman eksklusif dari tempatnya bekerja. Ya Frans pernah menjadi pegawai perusahaan furnitur. Pekerjaan magang tersebut telah memberi gambaran wacana urusan ekonomi mebel.

Disisi lain perusahaan ayah diambil alih Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Secara bertahap ia ikut membantu hutang ayah yang masih menumpuk. Memulai perjuangan makeler mebel ternyata tidak terlalu sulit pikirnya. Usaha serius gres dirintis bersama sahabat bermodal Rp.25 juta. Hasil gadai kendaraan beroda empat Honda Civic 1989 miliknya.

Menjadi makelar berarti ia menjadi distributor furnitur. Fokus Frans kala itu yaitu produk rotan dan kayu jati. Satu peran pasti seorang makelar furnitur ala Frans ialah mencari order. Mencari pesanan kepada distributor dan lanjut menyampaikan pesanan tersebut ke pengrajin. Ia harus turun tangan sendiri menyambangi pusat mebel.

Karena menjadi makelar itu sulit. Maka ia memutuskan membanting stir. Jika mencari orang membeli barang furnitur sulit, tidak untuk orang asing. Pasar itu ditangkap oleh jiwa muda Frans. Berbekal pemahaman akan internet dirinya mulai bergeriliya. Ia membuat puluhan situs memperlihatkan mebel rotan dan jati melalui situs.

Dia dibantu dua orang karyawan. Salah satunya sahabat SMA -nya sendiri. Perjalanan urusan ekonomi mereka cukup berjalan baik. Sejak 2001 berbekal jaringan dibangun mereka berbisnis hingga ke luar negeri. Bayangkan ia berhasil mengirim mebel rotan dan kayu jati hingga tiga kontainer setiap bulan. Maka hutang sang ayah pun lunas.

Bermodal kesukses besar membuat Frans percaya diri. Tahun 2004, ia berekspansi berbisnis properti dan watu bara. Sayangnya, malang tidak dapat ditolak, maka kedua urusan ekonomi tersebut melarat menyisakan hutang buat dia. Ditambah lagi, sahabat SMA -nya itu ternyata menusuk dari belakang, malah membawa kabur uang perusahaan.

"Saya dapat dukungan Rp.11 miliar dari perajin yang dulu bekerja dengan saya," tutur dia. Rugi total tetapi untung ia menemukan jalan.

Menanggung utang besar membuat aset pribadi dinego. Baik kendaraan beroda empat ataupun rumah tidak bersisa ia miliki. Ia jadinya menumpang rumah di mertua. Enam bulan berselang Frans memutuskan untuk kembali berbisnis. Ia mendekati pengrajin patner kerjanya sebagai makelar. Hasilnya ia menerima dukungan miliaran rupiah.

Bermodal cuma nama baik membawa kebangkitan Frans. Mencoba berbisnis dari awal lagi selepas gagal total. Dia memiliki semangat pantang menyerah. Dalam dua tahun urusan ekonomi Frans kembali ke jalur semula yaitu di mebel. Berdirilah perusahaan berjulukan PT. Gading Dempar Kencana, yang meraup omzet miliara rupiah.

Pria asli Cirebon, Jawa Barat, bisa mengelola usahanya hingga menembus pasar ekspor. Oleh alasannya yaitu itu, ia menerima penghargaan berjulukan Primaniyatra menjadi eksportir terbaik tahun 2012 dan 2013 silam.

Dia berpesan jangan terburu- buru berekspansi. Sukses Frans bisa mengapalkan 30 kontainer mebel di setiap bulan. Dia menjadi pengusaha furnitur pertama sukses membuka showroom di China. Frans sudah sangat "ngelotok" akan urusan ekonomi mebel. Sejak ia menjadi mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November.

Mengambangkan urusan ekonomi selama ini yaitu internet. Pengusaha satu ini memang mengikuti perkembangan di dunia teknolgi. Memanfaatkan website untuk promosi. Termasuk ikut gabung dalam aneka portal perjuangan ibarat Alibaba dan Indonetwork mempromosikan usahanya.

Total ada 45 negara tujuan ekspor Frans di 3 benua. Yaitu benua Asia, Eropa, dan Amerika. Negara tujuan ekspor meliputi Israel, Guatemala, Nigeria, Italia, Turki, Inggris, dan Australia, dan lain- lainnya. Ekspansi di China menjadi puncak kejayaan Frans berbisnis mebel, di sana berdiri toko mebel yang berjulukan Teak123.

Omzetnya mencapai $5 juta atau setara Rp.57 miliar. Produksi Frans dibantu oleh 136 pengrajin dan 400 orang karyawan bekerj di empat pabriknya di Jepara.
Read More

Awal Aplikasi Hotel Airbnb Menyewakan Tempat Kamu

Biografi Pengusaha Brian Chesky 



Ia berpikir bahwa orang menyerupai dirinya normal masuk kampus seni. Tetapi tidak normal baginya selepas ia kuliah, menjadi pengangguran, dan dalam lima hingga enam tahun kini bermetamorfosis miliarder. Di tahun 2008, Brian Chesky tidak paham teknologi ataupun situs TechCrunch. Apa yang ia lakukan spontanitas dari rasa ingin.

Orang bau tanah mana yang mau anaknya jadi pengangguran. Seorang sarjana Arsitektur Industri, masuk 1999, di Rhode Island School of Design dimana ia memang sangat tertarik akan arsitektur landscape ataupun desain. "Bisnis kami bukanlah (menyewakan) rumah," ujarnya. "Bisnis kami yaitu keseluruhan perjalanan."

Chesky yaitu seorang Yahudi. Kelahiran 29 Agustus 1981, tumbuh di Niskayuna, New York, merupakan anak laki- laki Deborah dan Robert H. Chesky. Dimana kedua orang tuanya merupakan pekerja sosial. Dia punya seorang kakak perempuan Allison.

Ketika muda, ia sudah tertarik akan seni, membangun replika dari lukisan, dan desain, lebih tepatnya ia mendesain ulang sepatu dan mainan.

Bisnis dari mana saja


Mencari identitas hingga ia menemukan sekolah desain industri. Dia sempat berpikir disini mencar ilmu wacana apa empati dan menjadi CEO kelak. Metodenya yaitu bagaimana menaruh diri kau di sepatu orang lain. Yah dimana kalau sekolah lain berbicara wacana analisa data, maka, Chesky menyebut disini kau mencar ilmu terbalik.

Selepas kuliah sempat bekerja di perusahaan desain industri di Los Angeles. Hanya saja, dalam setahun ia menyadari menjadi pegawai selamanya bukanlah apa harapan dia. Dalam hati kecilnya, perasaan untuk ia memulai entrepreneurship mengemuka meski dalam batasan proyek kecil- kecilan. Dan ia berpikir sejenak:

"Kenapa mereka yang melaksanakan bukanya saya?" pikirnya. Hal mendasar menurutnya hasil mengamati ialah mereka melaksanakan sesuatu sementara ia tidak.

Chesky ingin mengambil resiko juga kan. Ia menyebutnya satu momen atau dua ketika seseorang akan siap melangkah ke masa entrepreneurship. Sebuah pilihan besar dan akan merubah masa depan seorang pria di masa mendatang.

Semuanya merupakan rantai panjang sebuah pilihan. Dimulai suatu ketika ia bersama seorang kawan tidak mempunya uang alasannya yaitu pengangguran. Memilih merentalkan rumah sewa mereka di San Fransisco alasannya yaitu telat bayar uang sewa. Kala itu bertepatan dengan sebuah pristiwa konfrensi desain internasional, dan semua hotel penuh.

Tidak lagi bekerja, membawa Chesky berkendara dengan kendaraan beroda empat Honda Civic -nya. Sampai ia "tersesat" di San Fransisco. Bertemulah ia dengan sahabat lama Joe Gebbia, yang kemudian saling menyebarkan uang sewa. Ya tetapi ternyata dikantung Chesky hanya $1.000 dimana ia harus membayar $1.150 ke Gebbia.

Padahal sudah dibagi dua loh. "Jadi saya punya problem matematika -dan saya seorang pengangguran," ia berujar. Sudah dua ahad berada di kota tersebut belum menemukan titik temu. Di Oktober 2007, katanya akan ada konfrensi internasional desain, dan semua hotel ditawarkan pihak panitia sudah sangat penuh.

Jadi ia dan Gebbia memutuskan, kenapa tidak merubah rumah sewa mereka jadi kamar dan menyampaikan satu layanan sarapan untuk uang sewa?

Masalahnya mereka tidak punya cukup kasur. Hanya ada tiga matras dimiliki Gebbia. Jadilah mereka lalu memberi nama urusan ekonomi mereka Airbed and Breakfast. Akhirnya ada tiga orang menyewa matras mereka dan menyebarkan ruangan. Semua berkat website sederhana yang semoga dipaksakan keberadaanya.

Mereka membayar $80 per- malam menerima sarapan di pagi hari, siap makan. Chesky memperlihatkan menjadi guide. Alhasil uang dikumpulkan bisa menutupi biaya sewa mereka. "Ini tidak akan menjadi bisnis; hanyalah cara untuk membayar sewa apatemen," Chesky memberi satu penekanan.

Ketika seseorang terlalu akademis memberi layanan, mereka meberi kebutuhan langsung.

"Bagi kami, problem kami yaitu kami tidak tau bagaimana menyewakan, kami punya ruang lega dan kami mau bertemu orang baru. Jadilah kami membuat inspirasi ini," jelasnya sederhana wacana urusan ekonomi awal Airbnb.

Apa yang dilakukan mereka menerima perhatian sebuah blog desain. Mereka menjadi sorotan singkat di tengah konfrensi internasional itu. Beberapa bulan kemudian satu lagi pendiri Airbnb mulai bergabung. Pada Februari 2008, seorang teknisi arsitektur, Nathan Blecharczyk ambil bab di perusahaan belum terang ini.

Nathan sendiri memang seorang teknisi handal. Maka pada Agustus 2008 lahirlah situs sederhana berjulukan Airbedandbreakfast.com. Yang pada kesudahannya menjadi platform online menyewakan rumah lebih gampang. Chesky adalalah pemimpin atau CEO, sementara Gebbia fokus di desain dan tentu Nathan untuk teknologi.

Untuk menerima dana maka banyak sekali marketing dilakukan. Yang paling menarik ialah Chesky bersama dengan rekannya membuat marketing sereal. Bersamaan mereka memperkenalkan urusan ekonomi mereka sebagai Airbed & Breakfast, dalam program pemilihan calon presiden kala itu untuk Partai Demokrat.

Mereka lantas membuat sereal berkardus gambar calon, yaitu Obama O's dan Cap'n McCains. Mereka lalu menjualnya seharga $40 per- bok. Mereka berhasil menjual 500 boks dan menaruh itu menjadi modal bagi Airbed & Breakfast. Sayangnya, urusan ekonomi mereka kurang menarik, dan mereka harus makan sisa sereal setiap hari.

Karena berniat tidak berbisnis. Kaprikornus sereal cuma menjual dua jenis sereal saja. Banyak mahir asal Silicon Valley meremehkan Airbnb pertama kali. Namun, inspirasi mereka cemerlang, hingga ia bersama pendiri lain dipanggil tampil di Y Combinator, diman mereka bertemu dengan investor ternama yaitu Paul Graham.

Mereka memotong nama menjadi "Airbnb" di animo semi 2009 dan meluaskan pasaran. Tidak cuma rumah, apartemen kamu, kastil, kapal, bahkan rumah pohon boleh dipajang di situs mereka. Mereka juga menerima pendanaan komplemen $20.000 dan dari Sequoia Capital, dan kesudahannya mereka berhenti makan sereal lama.

Bisnis menebak masa depan


Bukan perkara mudah berbisnis online. Pada animo panas 2009, Chesky dan kawan memutuskan untuk siap menarik fee. Biaya komplemen berupa booking fee, Airbnb meminta persentasi kecil dari pemilik daerah dan lebih besar sedikit untuk pelanggan.

Beruntung hitungan mereka cocok. Kaprikornus situs mereka tumbuh pesat, dan membawa 15 orang gres menjadi karyawan mereka. Jika berbicara wacana urusan ekonomi apa dimiliki Chesky yaitu kepemimpinan sendiri. Dia tidak memiliki kemapuan administrasi menonjol. Hanya saja, beda dengan kita semua, ia tau dimana ia harus memulai.

"Itu menyerupai istilahnya, apa yang saya tau?," ia berkata. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain tetapi terus masuk lebih dalam. Chesky mencar ilmu dua cara: pertama lewat trial and error, atau kedua ialah ia mau tidak mau harus mencar ilmu akan satu aspek lebih dalam lagi.

Daripada memilih topik spesifik. Dia memilih mencari sumber utama yang membahas satu topik secara terang dan terperinci, lalu eksklusif bertanya ke orang berkaitan. "Jika kau mengambil sumber tepat, kau akan melangkah lebih cepat," ia melanjutkan. Gaya ini diulang oleh Chesky terus- menerus hingga mampu.

Sebelum memiliki kantor, Chesky lebih memilih daerah yang disewakan oleh aplikasinya. Dia tinggal di dalam Airbnb. Memang prinsip urusan ekonomi Chesky yaitu mencicipi sendiri layanan atau produk kita miliki dulu sendiri. Hingga ia menemukan arti penting sebuah kantor, terutama bagaimana gosip dapat masuk langsung.

Akan tetapi satu hal hilang. Dua orang lantas berangkat ke New York. Mereka mencoba taktik gres semoga listing naik drastis. Lewat layanan door- to- door fotografi memberika perbedaan. Mereka memfoto daerah di banyak sekali sudut New York. Hasilnya pemesanan khusus kota tersebut naik 2x- 3x dari pemesanan biasa.

Dalam setahun, 2011 -an, perusahaan naik 800 persen untuk pemesanan malam, dengan jumlah pesanan yang tersebar di 89 negara. Sampai simpulan 2011 telah menembus angka satu juta pemesanan. Airbnb lantas menyampaikan Social Connections, menyampaikan kau daerah menyebarkan pengalaman menyewa di Airbnb.

Ini termasuk verifikasi komplemen buat penyewa dan pemberi sewa. Di titik inilah, perusahaan melaju pesat dan membuat Airbnb menjadi pilihannya. Airbnb melalukan akuisisi pertama dengan membeli situs yang sama menyerupai mereka di Jerman, Accoleo. Wow, Airbnb masuk ke jajaran perusahaan senilai $1 milair, dan terus naik.

Airbnb memang fokus membuat ekositem. Melalukan serangkain pendekatan ke kebutuhan. Bahkan ketika ada problem kriminal di rumah Airbnb. Secara sigap Chesky membuat tim costumer service 24 jam, melepas beberapa staf dipindahkan menangani keluhan vandalisme, pencurian, atau problem narkoba.

Tahun 2011, selebriti dunia, Ashton Kutcher bergabung dengan perusahaan sebagai penasehat.

Masalah utama Airbnb muncul. Ketika seorang pemilik daerah berinsial EJ mendapati rumahnya dirampok oleh penyewa. Semua hilang kosong tidak berbekas. Ia pun komplain ke perusahaan. Layaknya perusahaan yang sejenis menyerupai Uber, maka itu dianggap kesalahan sendiri oleh perusahaan Airbnb. Sayang ini malah berbalik.

Menolak membantu EJ malah berujung hujatan. Sampai perusahaan kesudahannya meminta maaf kepada EJ dan mau membantu apapun semoga hidupnya lebih mudah. Tidak berhenti hal serupa kembali terjadi. Dan, Airbnb kesudahannya mengeluarkan dana $50.000 sebagai garansi bagi pemilik daerah semoga tetap nyaman menyewakan tempat.

Airbnb membuat gebrakan lewat aplikasi Android. Waktu itu mereka sudah memiliki 2 juta pemesan telah menggunakan layanan mereka, dengan 120.000 pemesanan di situs.

Airbnb pun menjadi salah satu sponsor Olimpic animo panas di Londong, Inggris, pada 2012. Disaat yang bersamaan perusahaan melaksanakan akuisisi Crashpadder. Komunitas Airbnb juga tumbuh pesat hingga butuh pengamanan kesudahannya lahir garansi pemilik daerah senilai $1 juta.

Ketika terjadi bencana angin angin puting-beliung Sandy, membuat ratusan rumah rusak, Airbnb meminta pemilik daerah sewa di New York menurunkan harga sewa. Tahun 2012, secara tertulis, Airbnb telah mengalahkan hotel berbintang lima Hotel Hiltons, dalam hal pemesanan mencapai 300.000 usul di 192 negara berbeda.

Saran untuk lulusan kuliah baru?

"Saya akan berkata, jangan dengarkan orang tua. Mereka yaitu korelasi paling penting di dunia, tetapi seharusnya anda jangan mengambil saran karir mereka, dan saya menggunakan mereka menjadi jembatan untuk semua tekanan di dunia."

Satu hal lagi ia menjelaskan. Apapun karir kau maka berasumsi lah kau akan gagal total. Maka itulah, kau tidak akan bekerja berdasarkan obsesi sukses, uang, dan karir cemerlang. "Kamu hanya akan lakukan itu berdasarkan apa kau cintai."
Read More

Karung Goni Bekas Diubah Menjadi Duit

Profil Pengusaha Khrina Fitriyanto 


 
Karung goni memang masih dipandang sebelah mata kita bahkan di dunia. Diantara pandangan pesimis itulah muncul beberapa orang pengusaha sukses. Mereka yang bisa melihat peluang diantara tumpukan kain kucel amis tersebut. Salah satu pengusaha tersebut berjulukan Krisna Fitriyanto, entah apa dibenaknya tetapi berhasil.

Dia merubah karung kucel amis tersebut menjadi produk. Menariknya bukan sekedar dijadikan karya yang sederhana. Krisna bisa merubahnya mengikuti perubahan jaman. Kerajinan tangan berkelas itulah definisi perjuangan dijalankan pria asal Bantul, Yogyakarta ini, perjuangan yang sudah ditekuni semenjak 2010.

Awal sekali beliau hanya pengusaha sablonan biasa di 2009 -an. Tentu akan banyak pesaing jikalau kau memilih berbisnis kaos sablon. Uniknya tekstur karung goni dirasakan Khrisna memiliki cita rasa. Darah seninya jadi mengalir ingin memanfaatkan karung tersebut menjadi sesuatu.

Ide pertama merubah kain goni menjadi kerajinan sablon. Untuk mewujudkan inspirasi tersebut dibeli lah karung goni seharga Rp.100 ribu. Dijahitnya karung goni menggunakan masin lama punyanya. Kaprikornus modal awal cuma Rp.100 ribuan bersih tanpa membeli materi baru. Produk pertama yaitu alasa makan, ganjal buat piring atau gelas.

Agar tidak monoton, serta menutupi kekucelan karung goni maka ditambahkan aksen diatasnya. Khrisna lalu menyablon gambar diatas produk tersebut. Gambar- gambar sablon hasil karya Khrisna sendiri. "Kebetulan aku hobi membuat desain gambar," ujarnya singkat.

Coretan tersebut dibuat sendiri. Usaha tersebut lantas diberi nama Innside. Kini menjadi perjuangan memproduksi aneka produk berbahan goni. Produknya mulai alasa makan, wallpaper di dinding, tempat majalah, goodie bag, dan lainnya. Produk tersebut dijual antara Rp.90 ribu hingga 150 ribu per- buah.

Untuk produk termahal Khrisna menyebut wallpaper dinding. Karena memang buat mendekor dan butuh banyak materi karung goni. Proses pembuatan aneka karung goni membutuhkan tahapan. Pertama adanya desain khusus disablon diatas karung. Disini kalau ada pesanana besar, perusahaan bisa menyablon logo diatasnya.

"...dibuat khusus custom, sesuai logo atau gambar yang diinginkan pemesan yang biasanya perusahaan," ia menambahkan.

Karung lantas dipotong mengikuti pola. Mengikuti benda apa yang akan dibuat olehnya. Bisnis ini menjual tempat majalah. Kalau tempat majalah sebelumnya ada rangka dari karton dulu. Fungsinya semoga lebih keras dan kekar. Karung goni lantas disablon dijahitkan mengikuti rangka yang telah disiapkan.

Pembeli berdatangan dari banyak sekali tempat menyerupai Bali, Jakarta, Malang, dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Khusus di Bali serta Yogyakarta sudah memiliki pelanggan khusus membeli dalam jumlah banyak. Tidak jarang pembeli mengekspor produknya ke Amerika Serikat.

Permintaan akan produknya sudah banyak. Khrisna bisa menjual 2.000 buah produk aneka jenis. Kalau ditanya omzet ya mencapai puluhan juta per- bulan. Agar tidak monoton maka Khrisna getol membuat variasi produk semoga tetap berjaya.
Read More

Raja Mahar Bangkalan Madura Selalu Berbisnis

Profil Pengusaha Devriansyah Kurniawan



Berbekal kesuksesan semata tidak lah cukup. Dia sempat merasa iri akan pengusaha kota alasannya yaitu dukungan pemerintah pusat. Meski sama- sama menerima penghargaan tingkat nasional. Teman- sahabat Devri diajak makan malam dan bonus oleh pemerintah daerahnya, alasannya yaitu mengharumkan nama daerah.

"Sementara saya, biasa- biasa saja. Iri sih," tuturnya. Berkat perasaan tidak pernah puas membuatnya terus berbisnis bahkan berekspansi. Sebagai pengusaha 28 tahun ini berbisnis merupakan hidupnya. Berbekal jiwa seni tinggi mendulang uang puluhan juta.

Dimulai 2010 silam, ia mempunya hobi melukis diatas kenvas, dan menjalar hingga ke sepatu. Devri jujur mengaku menjadi pelukis di kanvas lukis tidak menjanjikan. Sulit menjual lukisan biasa kalau dijual eksklusif ke masyarakat. Tidak semua masyarakat paham akan nilai seni, mereka membutuhkan produk kasatmata dipakai.

Sempat menyabet banyak penghargaan. Dari sebelumnya mewakili Madura, kini, ia dikenal sebagai salah satu pengusaha ternama membanggakan Jawa Timur. Sang istri, Syahfitri Tika Suci, mengaku gembira akan ketekunan sang suami. Yang kini dikenal sebagai Raja Mahar Bangkalan,  dongeng selengkapnya akan dibahas disini.

Bisnis sederhana


Mulai berbisnis sepatu lukis. Tangan kreatif Devria tertoreh di kanvas berbentuk sepatu. Ini lebih menjual ia mengakuinya. Pemuda kelahiran 8 Desember 1989 ini mulai memasarkan produk sepatu lukisnya itu. Modal ia dapatkan lewat pinjaman koperasi. Dari pinjaman koperasi mahasiswa sebesar Rp.1 juta dibelikan sepatu polos.

"...dan bahan- materi lukis lainnya," tambahnya. Walaupun urusan ekonomi dijalankan tidak sesuai dengan pendidikan yang ia tekuni kala itu.

Mahasiswa Teknik Industri lulusan Universitas Trunojoyo Bangkalan, Jawa Timur, ini tetap berkarya dengan penuh kecintaan. Berkat hobi bisa mempekerjakan sembilan orang karyawan. Berkat pertolongan mereka jadi usahanya berkembang pesat merambah banyak sekali bisnis.

Ia bisa menembus ke pasar luar negeri. Semua berkat seni administrasi marketing online dan offline dijalankan dia. Untuk urusan ekonomi sepatu lukis waktu itu masih menjadi urusan ekonomi utamanya. Alumnus SMK 2 Bangkalan tersebut mau berguru sebagai pengusaha secara otodidak. Ia ingin merubah pola pikir mahasiswa lulusan baru.

"Lulus nanti tidak selalu harus mencari kerja. Tetapi membuka pekerjaan bagi orang- orang di sekitarnya," ia berujar.

Produk bikinan Devria berkembang. Fokus usahanya lebih ke aneka souvenir serta mahar pernikahan. Kita sebut saja lukisan dari materi uang logam atau kertas, kaca, toples fanel berbentuk kudapan manis tart, membuat toples kartun, serta bentuk lain yang cocok dijadikan hadiah.

Intinya ia cuma menyalurkan bakat melukisnya ke bisnis. Kamu pun dapat melakukannya tinggal mencari media sempurna saja. "Dan ini harus diasah dan dilatih terus- menerus," katanya.

Berawal dari pengalaman kesulitan membayar uang sekolah. Keterpaksaan ini membuat hobi menjadi urusan ekonomi serius. Istilah terkenalnya yaitu the Power of Kepepet. Dimulai semenjak 2009 urusan ekonomi terus berkembang hingga ia melegalkan urusan ekonomi menjadi PT. Devri Art Production bersiap bersaing dengan kompetitor.

Dia hanya melaksanakan perubahan. Menaruh lukisan dalam media non- konvensional hingga dijual dan terjual menghasilkan jutaan.

Tahun 2013 memang menjadi titik awal perkembangan bisnisnya. Dia melihat prospek kedepan urusan ekonomi mahar. Dan ia eksklusif mengeksekusi dengan gayanya sendiri. Pengusaha muda asal JL. Jokotole G.III No.2 Kel. Kraton, Bangkalan Madura. Mampu menyebarkan urusan ekonomi mahar hingga tiga cabang.

Cabangnya meliputi Sumenep, Sampangan, dan Pamekasan.  Tetapi tetap sentra urusan ekonomi mahar miliknya ya di Bangkalan. Produk andalan Devria yaitu mahar berbentuk masjid. Untuk produk satu ini sudah dipesan bahkan oleh orang Kalimantan Barat hingga Sumatra.

Ia membuat harga mahar terjangkau. Modelnya variatif dan motifnya menyesuaikan. Bisnisnya juga menjamin tidak akan butuh waktu lama pengerjaan. Harga mulai Rp.250 ribu hingga Rp.1 jutaan. Penjualan utama ya melalui penjualan online.

Peluang mahar


Kreatifitas tersebut berakhir ditempat yang tepat. Devrian kini dikenal sebagai pemilik perjuangan Raja Mahar. Ia memang bukan pemain gres di urusan ekonomi souvenir. Pengusaha muda asli Bangkalan ini telah bisa mengantongi omzet mencapai Rp.17 juta per- bulan. "...dan akan meingkat ketika trend kawin," imbuhnya.

Raja Mahar fokus berpromosi online dan offline. Pengembangan urusan ekonomi offline melibatkan agen, yang sudah tersebar di empat kabupaten Madura. Promosi online meliputi website juga Facebook. Bentuk pelayanan optimal terus ditingkatkan supaya Raja Mahar semakin terkenal.

Kunci sukses menurutnya yaitu kejujuran dalam bisnis. Bentuk kejujuran contohnya kesanggupan suatu hari, Raja Mahar menerima pesanan uang mahar Rp30 juta dengan uang pacahan Rp.100 ribu. Devrian mengaku sempat terkejut dan takut. Uang tersebut tergolong nominal besar selama ia mengerjakan mahar.

Kepercayaan memegang uang sebanyak itu bukan main. Bisa saja ia memanfaatkan bisnisnya buat mencari untung lebih. Bayangkan uang Rp30 juta tetapi jasa merangkainya cuma Rp.300 ribu. Meski begitu ia tetap senang alasannya yaitu Raja Mahar makin terkenal. Kedepan ia berharap penjualan mencakup penjuru Jawa Timur.

"Di Madura sendiri belum ada kompetitor, kami satu- satunya," akunya.

Geliat urusan ekonomi mahar Devri mulai terdengar. Menjual aneka mahar ibarat mahar ijab kabul berbahan dasar uang kertas atau logam bermotif Masjidil Haram, Mekah, ataupun minatur Suramadu, bentuk ikan arwana, atau kau bisa memesan minatur kau dan pasangan kamu, yang contohnya tertata rapi di etalase.

Paling menarik perhatian yaitu lukisan siluet Walikota Surabaya, Tri Risma, dan juga Presiden RI, Jokowi, yang terbuat dari materi uang logam. Menurut Devri untuk produk satu ini tengah hit. Membuat aneka siluet tokoh nasional menjadi pekerjaan sehari ia dan pekerjanya.

"...hanya membutuhkan waktu sehari," Devri berujar.

Musim nikah menjadi berkah, dibulanan Juli, maka ia bersama perusahaanya CV. Devri Art Production akan dicari. Julukan Raja Mahar -sekaligus brandnya- sudah melekat disosok pengusaha muda ini.Setiap hari 10- 12 pesanan mahar dikerjakan. Jika hari biasanya (diluar trend nikah) maka cuma bisa mengerjakan 1-2 per- hari.

September 2015, Devri melepas masa lajangnya, dimana maharnya ia menyebutkan mahar empat dimensi berbahan uang kertas. Promosi pun dilakukan bersamaan berupa panflet untuk Kantor Urusan Agama (KUA), Kantor Kecamatan, dan Salon.

Mulai berbisnis dengan sepatu lukis yang laris dijual di hari valentine. Agar tetap menghasilkan, Devri lantas putar haluan berbisnis toples flanel berbahan kain bludru bermotif bunga. Toples- toples tersebut lantas ia jual pas bulan Ramadhan 2011 lalu, hingga Idul Fitri. Disusul urusan ekonomi siluet wajah pada 2015 yang merembet ke mahar.

Melihat peluang di Madura ada. Maka ia mantap berbisnis mahar dan terbukti pesanan sudah setiap hari. Ia bahkan jarang tidur kalau trend pengantin. Berkat urusan ekonomi mahar, putra sulung empat bersaudara ini telah mempekerjakan empat orang, yang ternyata sahabat kuliahnya dulu.

"Kendalanya ya modal. Belum ada pertolongan dari pemerintah," ia menyebut. Bantuan gres sebatas memberi tau kalau ada event atau pelatihan wirausaha. Disaat ia memanangkan lomba tingkat nasional dapat juara I tetapi ketika tingkat kawasan cuma juara II.
Read More

Tas Bungkus Kopi Ebibag Berbisnis Lingkungan

Profil Pengusaha Edy Fakar Prasetyo 



Sampah menjadi problem sekaligus berkah. Pasalnya mereka dibuang seenaknya di jalan. Siapa mau ambil mereka maka gratis. Dan salah satunya yang ikut mengambil mereka ialah Edy Fakar Prasetyo. Mengambil jurusan Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Pengusaha muda satu ini terobsesi akan problem sampah. Sisanya Edy terobsesi akan UKM. "Saya, inginya menulis skripsi wacana pembiayaan UKM," paparnya. Maka tidak heran jikalau dirinya menjadi pengusaha. Ia kebetulan termasuk pemerhati lingkungan.

Ia ingin merubah sampah menjadi berkah. Ditangan kreatifnya bungkus kopi, teh, dan sampah plastik lain, ia rubah menjadi gantungan kunci, dompet, dan yang terindah dompet wanita. Tahun 2013, dimulailah inspirasi urusan ekonomi wacana merubah sampah di sekitaran lingkungan kampus, bagaimana ya supaya sampah bisa dijual.

Lantas cowok berkacamata ini menemukan konsep upcycle. Jika sampah plastik dibuang maka akan beliau rubah menjadi barang jadi. Daripada dibuang ke sungai, terus mengalir ke laut, sampah plastik bisa- bisa merusak ekosistem kelautan. Karena kau tau sampah bisa tergoda ikan atau menghalangi sinar matahari.

Edy jujur tidak mudah. Uang modalnya memang cuma satu jutaan. Tetapi beliau tidak berkembang hingga di tahun 2014. Setahun sudah Edy mencoba merintih perjuangan pengolahan sampah, hanya kok sepertinya gagal. Ia tidak berputus asa dan terus berjuang.

Masalah dianggapnya ialah bagaimana meyakinkan orang. Edy berusaha bagaimana meyakinkan sampah plastik dapat diolah menjadi materi bernilai jual. Anak muda kelahiran September 1992 ini terus berusaha ya dengan terus mengedukasi serta menawarkan contoh.

Bisnis fasion sampah


"Prosesnya tidak gampang, kita awalnya tidak menerima antusias," ujar dia.

Akhirnya beliau bisa mengajak ibu- ibu sekitar berkreasi. Dengan ketekunan bisa mengajak keluarga di sekitar kampus masuk. Bersama mereka mengerjakan urusan ekonomi fashion sosial mereka.

Mereka membayar warga Rp.50- 80 persaset. Tidak sedikit cuma mau diberikan produk karya Edy. Total ada 10 orang ibu membantu. "Kami tidak menyebutnya pegawai," tegasnya. Prinsip urusan ekonomi Edy ialah Women Empowering untuk menuhi pesanan datang. Edy juga memberdayakan mereka menjadi trainer saat sukses.

Sukses ia bisa menciptakan produk fasion. Produk terkenalnya mulai dompet, tas, dan souvenir dengan corak menarik. Siapa menyangka bahwa produk tersebut dulunya plastik bekas kopi. Dalam sebulan beliau bisa memproduksi 30 hingga 50 item. Untuk menembus pasar maka ia rajin mengikuti bazar selain toko online.

Tidak cuma di dalam negeri, tetapi produknya sudah hingga ke luar negeri. Melalui aneka macam ajang bazar termasuk di Malaysia. Produk berjulukan Ebibag memiliki selera fasion. Maka tidak salah jikalau menjadi satu produk laris hingga memenangkan penghargaan juara tiga kategori sosial.

Omzetnya dibilang lumayan hingga jutaan. Edy tidak menyebut angka pasti. Tapi beliau memberi sinyal angka 14 juta bisa dikantongi.

Mungkin alasannya ialah pasarnya masih terbatas. Kaprikornus meski Edy membuat tidak dalam jumlah banyak hasil dari penjualan tinggi. Edy sendiri lebih memilih mengedukasi dibanding sekedar untung. Salah satunya lewat satu jadwal berjulukan Petaka atau Pemberdayaan Tenaga Kreatif. Dia mengedukasi lalu memberi perlindungan dalam pemasaran.

Harga murah untuk souvenir yakni Rp.5000, hingga Rp.350 ribu buat tasnya ukuran besar. Untuk penjualan lewat toko online www.ebibag.com. Walaupun khan berjualan di luar negeri besar, prinsip edukasi yang ia tengah tonjolkan. Kaprikornus beliau memilih mengedukasi pasar dan memasarkan produknya di dalam negeri.

Ambil pola ada seorang mahasiswa Belgia, tengah melaksanakan aktivitas isu terkini panas, dan memborong banyak sekali buat dijual kembali. Pasar internasional diakui olehnya memang masih besar.

Bisnis komunitas


Dia tidak berorientasi urusan ekonomi semata. Buktinya mahasiswa semester 7 ini mengajak sahabat sekampus. Lewat satu jadwal berjulukan Eco Business Indonesia (EBI). Komunitas urusan ekonomi kecil berbasis lingkungan. EBI ialah urusan ekonomi hijau atau green business dimana memiliki konsep sendiri. Mengusung tema 3P, yaitu People, Planet, dan Profit.

Penjabarannya People berarti berbisnis pemberdayaan manusia. Tidak ada namanya pegawai tetapi semua orang bekerja bersama. Planet sendiri berarti fokus pada kepedulian akan lingkungan. Bagaiman upaya yang besar berkontribusi akan pelestarian lingkungan. Upaya mengurangi limah plastik memperpanjang daya guna.

Melalui daya upcycle menjadi kerajinan tangan, dari tas aneka ukuran, dompet, soft case, dan masih banyak lain.

Kalau Profit apalagi kalau bukan menghasilkan komersialisasi. Bagaimana memutar roda bisnisnya melalui pengembangan pemberdaya luas. Tidak sekedar menghasilkan keuntungan sebesar- besarnya. Tapi juga satu sinergi dengan Planet dan Peoplenya. Bagaimana melestarikan lingkungan serta membedayakan manusia.

Edy sendiri aktif memfasilitasi pelatihan pengusaha. Lewat GEO atau Green Entrepreneur Organizer bagi mereka pengusaha muda bidang lingkungan. Menjadi wirausaha merupakan jati diri seorang Edy. Meski ini bukanlah perjuangan beruntung tinggi. Tetapi beliau menyadari urusan ekonomi hijau merupakan sebuah bentuk sedekah lingkusngan.

Dulu, semenjak dingklik sekolah dasar, menjadi wirausaha merupakan hal biasa. Ia pernah menjual stiker saat bersekolah dasar. Masuk SMP, Edy tidak aib menjual kopi dan gorengan di sekolah. Ketika masuki ke masa SMA beliau menjadi penjual nasi uduk di kelas. Maka di SMA dirinya didaulat menjadi siswa berprestasi berwirausaha.

Anak kelima dari enam bersaudara sempat tidak ingin jadi pengusaha. Orang bau tanah tidak mendukung secara finansial. Kaprikornus lepas SMA beliau berharap menjadi pegawai bergaji biasa. Apalagi menjadi wirausaha banyak ketidak pastian. Ditambah beliau masih punya banyak saudara. Hidup Edy mencoba lebih realitis dikedepan hidup.

Masuk Ujian Nasional, Edy mulai ikut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Dia mengaku tidak memiliki persiapan khusus. Selepas lulus SMA, perlu kau tau beliau sudah bekerja dan berniat masuk kuliah sambil kerja. Kaprikornus beliau tidak punya waktu buat seleksi masuk akademi tinggi; Edy sibuk kerja.

Dia tidak ikut bimbel. Mengakali keadaan maka Edy mencar ilmu dari sahabat yang ikut bimbel. Bermodal itulah ia berharap bisa lulus. Agar peluang makin besar maka beliau mengambil jurusan yang jarang. Menurutnya jurusan itu sangat jarang dilirik mahasiswa. Tidak disangka beliau diterima di UIN Jakarta.

Tahun 2012, beliau menyabet juara Bank Indonesia Green Entrepreneur. Tahun sama menjadi juara Wirausaha Mapan diadakan oleh Pemkot DKI Jakarta. Dia juga masuk dalam finalis Social Entrepreneur Academy tahun 2014. Walapun sukses begitu problem SDM dan modal menghantui kinerja usahanya.

"Secara teknik, kami masih butuh tenaga ahli," ujar dia. Edy bersama empat rekan bersama sibuk juga soal pelatihan ibu- ibu PKK. Hingga berdirilah E- bi Institute dan kaderisasi ISIS (istri sukses idaman suami). Ia mencetak ibu menjadi kaum kreatif berwirausaha mandiri.

Untuk hitungan masih belum gaji. Ia menyebut upah, atau insentif berupa produk sama bagi hasil. Nilainya 30:70 merupakan penghasil beberapa produk. "...kita tambah upah," ujarnya. Insentifnya tergantung pada hasil produksinya. Dengan sumber materi baku banyak dan tidak jarang gratis, maka omzetnya berlipat.

Mungkin problem utamanya diedukasi bagaimana menjual. Penjualan memanfaatkan Instagram dan Twitter yaitu @Ebi-bag. Kemudian ada website edukasi berjulukan www.menebarmanfaat.com. Hasil karyanya tidak cuma produk, termasuk edukasi hijau, praktik prakarya limbah, "per-bulan 2- 3 juta," imbuhnya.

"Fluktualif, pemasukan lebih besar dari edukasi, sekitar 60:40," ungkap dia. Masalah pertama beliau hadapi yaitu mencari bungkus kopi dan SDM buat produksi.
Read More

Bagaimana Caranya Berbisnis Fasion eCommerce

Profil Pengusaha Sherlyn Tan 



Lulusan terbaik dibidang keuangan Multimedia University. Sherlyn Tan pribadi bekerja untuk Groupon. Di waktu itu, Groupon masih dikenal sebagai startup hebat, dan Sherlyn menjadi yang berkontribusi membuka departemen baru. Dalam 10 hari masa target beliau membuka peluang lain salah satunya, ekspansi ke Penang, Malaysia.

Sherlyn bisa menjadi eksekutif, Business Development Director, hanya dengan waktu satu tahun setengah semenjak bekerja. Disela- sela pekerjaanya, ia menuliskan nama situs Twenty3, membuktikan ambisi di umurnya 23 tahun bahwa kelak beliau akan memiliki urusan ekonomi online sendiri. 

Twenty3 sendiri tidak terang mau berbisnis apa. Sheryln cuma mau memiliki sesuatu yang bisa mensuport ambisinya. Sesuatu yang mensuport ambisinya menjadi artis. Dulu beliau pernah mempunyai blog fasion hanya lantas dijualnya. 

Ia memiliki mata jeli wacana apa kesukaan wanita Malaysia. Jadi, beliau memilih berbisnis ecommerce fasion.

"Saya cuma mau sesuatu yang bisa mensuport mimpi saya sebagai artis panggung. Saya pernah menjual satu blog fasion melalui blog lama itu dan memiliki cita rasa akan sesuatu disukai oleh gadis Malaysia, jadi saya memutuskan merubah Twenty3 menjadi toko ecommerce fasion," tuturnya.

Awal sekali, tanpa bekerja kembali, Sherlyn akan mengerjakan Twenty3 seharian dan menyanyi di kafe di malam hari. Itu semua berjalan selama tiga tahun semoga tetap bisa makan. Kurun waktu tersebut Twenty3 bisa menjadi urusan ekonomi besar, menjadi salah satu brand fasion terbesar di negara, kini pendapatan mencapai RM10 juta.

Di urusan ekonomi tersebut ada 20 orang pegawai, dua toko retail, dan melalui toko onlinenya itu bisa melayani pengiriman barang 40.000 ke banyak sekali negara.

Brand tangguh


Buat kalian yang tidak mengenal brand ini. Bukanlah perkara mudah baginya mencapai titik disini. Twenty3 telah memiliki 400.000 'like' di Facebook. Pastilah pencapaian tersebut tidak mudah. Dari menjual pakaian wanita, kemudian menjaul pakaian pengantin atau pakaian keseharian, Twenty3 telah menoreh nama di urusan ekonomi fasion.

Dia bukanlah seorang berpendidikan fasion menyerupai kita bicarakan diatas. Tetapi berkat pendidikan keungan banyak membantu wacana berbisnis. Pengalaman lah yang mendorong beliau menjadi pengusaha sukses. Dia ini menyukai menciptakan urusan ekonomi dan oleh karenanya, Twenty3 merupakan hal natural dalam kehidupan dia.

Akar urusan ekonomi Twenty3 memang sudah cukup lama. Dimulai semenjak mendaftarkan domainTwenty3 pada tahun- tahun lalu. Dia terbiasa bereksperimen dengan pakaian semenjak muda. Kini, diusianya yang matang, beliau lebih memilih pakaian gym. "Ini mendorong saya untuk berolah raga," candanya.

Memotivasi lewat olah raga membentuk brandnya merupakan prinsip bisnis. Dengan pakaian yang tepat, dan ditambah filosofi wacana brand dapat menyuntikan kekuatan, percaya diri dan kekuatan kepada pemakainya. Oleh sebab itulah Sheryln lebih ke filosofi brand dibanding sekedar menjual pakaian.

"..dan kami berharap untuk menginspirasi wanita dimanapun semoga tidak mau mengalah akan mimpinya," ia melanjutkan.

Sheryln selalu melihat kedepan. Tidak pernah kehilangan arah tujuan. Itu beliau dedikasikan lewat kerja keras dan berolah raga. Olah raga baginya merupakan kawasan mencek kesehatan. Termasuk kesehatan mental di dalam berbisnis mendatang. Ia mengakui inilah caranya terlepas dari depresi. Hanya lima menit sudah cukup baginya.

Lima menit melalukan dorongan keras sudah cukup, mendorong lebih jauh dan kau bisa melihat apapun itu mungkin. "Saya berguru melihat setiap duduk perkara hidup menyerupai lima menit itu," ucapnya. Dan duduk perkara pasangan yaitu penting baginya memiliki kekasih yang mengerti. Dimana mau mengajaknya ke gym memulai satu sesi fitnes.

"Itu merupakan fital untuk memiliki seseorang yang mengetahui diri mu dan dimana kau percayakan dimana bersama kau memulai perjalanan," terang Sheryln mengenai kekasih idaman.

Depresi terbesarnya perasaan kurang percaya diri semenjak kecil. Maka selama hidupnya jadi pendorongnya semoga tidak lekas puas. Contohnya, ya dikala beliau bekerja keras untuk sekedar menerima akreditasi tetapi tidak pernah cukup. Mukin terlihat kegilaan, tetapi ini menjadi pendorong beliau ke dalam entrepreneurship.

Dia pun sembuh dari perasaan tersebut dikala membagi perjalanannya. Mungkin menyerupai sebuah pengalaman beliau hampir mati. Dimana semenjak itu contoh pikir wacana kehidupan Sherlyn berubah. Ia mulai melihat kencatikan di setiap benda dan mencicipi bahwa dirinya tidak pernah rasakan sebelumnya.

"Saya mulai menghargai pemandangan cantik dari kondominium saya setahun setelah saya pindah! - Dan saya menyadari apa yang benar-benar saya inginkan dan tidak ingin keluar dari kehidupan," dan hari ini, Sherlyn lebih berfokus pada apa yang penting -dan itu yaitu kehidupan .

Prinsip hidup mendorong dirinya mencapai tingkat tertinggi. Baik dalah kehidupan berbisnis maupun dalam personal. Ini akan sangat mendukung kamu, apalagi dikala tidak ada satupun percaya padamu, tidak ada satupun pintu terbukan bagi mu. Kamu harus tetap memiliki kepercayaan diri wacana visi kau tersebut.

Ia mengaku sulit membangun urusan ekonomi dan keluarga bersamaan. Apalagi dikala beliau harus merawat bayi mungil tetapi beliau menikmati hal tersebut. Pencapaian baginya tidak mencoba membangun sesuatu buat orang lain, rasa kepemilikan akan entrepreneurship yaitu keberuntungan dan menikmati melihat anaknya tumbuh.

Bisnis kuat


Twenty3 merupakan platform bagi desainer muda. Mereka menimbulkan ini kawasan berguru wacana fasion. Dan bagaimana berkreatifitas dengan efisiensi sebab fasion berubah cepat.

Sheryln memulai urusan ekonomi dengan modal RM 15.000 (ringgit Malaysia) di akun bank. Dia mengeluarkan uang sebesar RM.10.000 untuk banyak sekali developer website semoga sesuai keinginan. "Saya menemukan satu orang bisa memenuhi spesifikasi saya."

Dengan uang sisanya, beliau pergi ke Bangkok, dan membeli pakaian dijual lagi. Pimikirannya bagaimana bisa untung paling tidak RM 10.000 semoga tetap hidup, dan beruntung beliau berhasil. Ia menjelaskan lagi duduk perkara ada utama yaitu arus kas.

Kalau diceritakan beliau pernah sewaktu- waktu bertahan hidup hanya makan roti. Inilah kenapa beliau harus berstrategi ulang wacana keuangan urusan ekonomi menyesuaikan diri pasar.

Pertengahan tahun pertama beliau menyadari hal. Dia harus mendesain sendiri produknya semoga lebih terlihat. Ia menerima banyak pesanan, jadilah Sherlyn mengalihkan produksi ke China. Hanya saja pabrikan China mengisaratkan pemesanan minumun besar. Untuk itulah beliau harus bisa menyesuaikan ajakan dan pesanan.

Di tahun ketiga, Sherlyn memutuskan mendesain sendiri -dimana urusan ekonomi fasion ecommerce penuh penjiplakan desain. Orang gres akan mengkopi desain miliknya. Dia lantas mempekerjakan desainer sendiri, membuat peragaan busana di KL Fashion Week, brandnya semakin stabil, bukan lagi pabrik fasion cepat ataupun reseller.

Beruntung banyak majalah fasion mulai melirik brand miliknya. Menjadi sebuah transisi dari sekedar blog shop menjadi fasion label. Bisnis modelnya tumbuh dan diakui oleh costumer sebagai brand bukan penjual pakaian. Sherlyn pun memenangkan akreditasi Alliance Bank SME Innovation Challange 2015.

Ada perasaan begetar dikala orang keluar dari toko dan memakai pakaian Twenty3. Meski urusan ekonomi di bidang fasion sangat ketat, beliau percaya diri dengan filosofi serta kekuatan brand -dimana desain mudah ditiru tapi tidak nama baik.

Sosial media merupakan hal fital dalam hal marketing pakaian wanita, tetapi penuh ranjau. "Salah menginjak bisa meledak, jadi perlakukan hati- hati," saran Sherlyn.

Bisnis fasion memang wacana industri ketahahan. Dimana kedepan tidak ada kepastian dalam soal fasion. Ia menjelaskan tidak ada loyalitas dalam membeli pakaian. Maka diharapkan brand berpengaruh bagaimana mencicipi wacana brand kamu.

Kesulitan di urusan ekonomi fasion dikala kau tumbuh maka orang dan pabrikan akan lepas kendali. Pada kesudahannya ini cuma soal ketekunan. Ketika kau sudah diatas, maka percayalah bekerja keras akan bisa membawa ketidak kontrolan menjadi terkendali. Pemerintah juga kendala, dikala kau berlari, mereka sangat lambat menanggapi.

Sukses bagi pengusaha menurutnya menciptakan batasan diri. Sejujurnya, dikala kau telah mencapai satu pencapaian, kau akan menciptakan pencapaian lain sebab ini tidak akan pernah berakhir. Kunci sukses di entrepreneurship ada dua: jadi keras kepala dan ketekunan. Itu tidak akan tepat dikala kau memulai sesuatu.

"Jadi jangan membuang waktu cuma merencanakan urusan ekonomi sempurna," ia tambahkan lagi. Karena kau akan mulai terjebak dalam kebekuan analisis. Jangan terlalu banyak berpikir tetapi mulailah. Meloncat lah berguru bagaimana membangun pesawat ke tujuan mu.

"Memaksakan diri, menantang diri sendiri, lakukan saja sekarang dan berpikir wacana hal itu kemudian - yang terbaik dan tercepat untuk berguru wacana urusan ekonomi anda. Ide dapat datang mudah, itu yaitu eksekusi yang membuat atau mendobrak bisnis," tutupnya kepada Asianentrepreneur.org.

Facebook: Facebook.com/Twenty3my
Situs: Twenty3.my
Read More

Dianggap Gila Sepatu Pisang Suminah Sampai Eropa

Profil Pengusaha Suminah 



Pertama kali berbisnis pelepah pisang bukan sepatu. Namun, Pemprov Bengkulu menyarankan Ibu Suminah untuk mencoba sepatu, saran tersebut ditanggapinya serius. Suminah memang dikenal sebagai pengusaha semenjak lama. Waktu itu, awal- awalnya ia mengerjakan aneka kerajinan berbahan pelepah pisang biasa.

Tidak ada spesial hanya aneka gantungan kunci, tas cantik, tempat tisu, atau banyak sekali aksesoris. Penjualan pun terbatas seruan masyarakat. Berbisnis terkesan aneh saat pertama kali masyarakat menanggapi produk miliknya. Apalagi saat Suminah berencana mengeluarkan produk sepatu, apakah menghasilkan?

Mau diapakan lagi nih pelepas pisang?

"Saya sempat dikatakan orang gila oleh tetangga," celetuk Suminah. Mereka geli melihat ibu dua anak ini tengah mengumpulkan pelepas. Dipotongnya pelepas menjadi ibarat kain. Kemudian dijemur sinar matahari di depan rumah. "...buat apa? Seperti tidak ada kerjaan saja."

Suminah memang gemar berkreasi. Cara unik ini ditemukan semasa kecil. Hanya gres ditekuninya menjadi urusan ekonomi saat masuk tahun 1995. Dimulai dengan membuat aneka pernak- pernik kecil. Untuk menambah pendapatan suami, Suwarso, seorang PNS maka Suminah mencoba- coba kembali tetapi lebih serius.

Mulai membuat aneka gantungan kunci, dompet, dan seterusnya. Ia sendiri saat memulai juga memakai materi sampah plastik. Kedekatan akan alam lebih mendekatkan ia dengan kerajinan daun. Pelepah pisang disulapnya menjadi perjuangan menghasilkan meski mesih kecil.

Bisnis besar


Suminah tidak berpuas. Penghasilan berbisnis aksesoris pelepah pisang tidak banyak. Untuk itulah saran dari Pemprov diprosesnya dengan cantik. Bisnis kecil di tahun 2009, masuk tahun 2012, ia mulai mengikuti program sekolah khusus menganyam sepatu dari Balai Persepatuan Indonesia di Sidoarjo. 

Tahun 2014, ia mengikuti sekolah kembali dalam hal pecah contoh sepatu. Sepatu buatan Suminah mengikuti tren fasion jadi bukan sembarangan. Mencoba menjual, penjualan sepatu pelapah pisang ini awalnya tidak begitu populer hanya kalangan tertentu. Pemesan kebanyak di luar Bengkulu, mulai Gorontalo, Jateng, dan Jakarta.

Pemesan termasuk istri kalangan pejabat, mulai Gubernur dan Bupati. Pemerintah lantas merespon dengan ia dikirim ke ajang festival di Tingkok. Bahkan ia dikirim ke Ukraina pada 2014 mempromosikan sepatu dari materi baku pelepah pisang tersebut.

Dicermati dari hasil sepatu karyanya, cukup modislah buat jalan ke mal. Bisa digunakan baik cukup umur maupun ibu muda.

Beruntung berkat menyasar sepatu saban hari pesanan mencapai 10- 15 buah. Sepatu berbahan batang pisang ini dijualnya seharga Rp.150.000 hingga Rp.250.000. Variasi produk termasuk sepatu batang pisang bermotif batik buserek khas Bengkulu. Masalah pertama ia hadapi berbisnis apalagi jika bukan modal.

Memakai brand Mega Souvenir bisnisnya melalang ke pasar Eropa. Hanya materi baku susah buat dibeli tapi bukan soal batang pisang. Sejak awal, Suminah memang sadar Bengkulu tempatnya pelapah pisang. Tetapi buat materi baku lem, insol, high heel -nya, dan pengkilap maka butuh beli di Pulau Jawa.

Bisnis sederhana bikin kaya


Bayangkan urusan ekonomi ini dimodali uang Rp.150.000. Kini omzetnya sudah mencapai puluhan juta rupiah. Jika beberapa pengusaha mengeluh, Suminah bersyukur akan pemberian pemerintah kawasan alasannya ikut melahirkan ide. Tinggal persoalan modal ekspansi saja diharapkan ia dan empat karyawannya.

Butuh waktu pula bagi Suminah menemukan pelepah pisang berkualitas. Layaknya urusan ekonomi lain ada namanya materi baku bermutu dan tidak. Untuk sepatu pelepah pisang diharapkan yang bertekstur khusus. Apalagi kadar air dan getahnya tinggi, butuh sentuhan panjang supaya pelepah nantinya bisa dianyam.

Wanita kelahiran Nganjuk, 12 Agustus 1968 ini, mengatakan pertama kali berbisnis cukup mengambil dari belakang rumah. Batang pohon pisang acak-acakan mudah didapat. Berbeda sekarang saat berbisnis, mata harus jeli supaya produk Mega Souvenir semakin berkualitas.

Dimulai semenjak ikut pelatihan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bengkulu. Selama dua pekan Suminah telah paham betul wacana kualitas pelepah pisang. Keyakinan akan kualitas produk tetap terjaga, harga yang terjangkau, serta memiliki nilai seni tinggi menjadi landasan urusan ekonomi Suminah.

"Saya diajarkan cara membuat sepatu, cara membuat polanya, dan mendesainnya," kenang Suminah. Seperti kami jelaskan diatas banyak orang menerka ia gila. "Terkadang, muncul bisikan menyuruh saya berhenti saja dan perasaan bahwa saya tidak akan berhasil."

Ia membuang jauh perasaan tersebut. Suminah tetap ngotot alasannya didasari banyak alasan. Jika sebelumnya ia didasari kebutuhan, lambat laun ia mulai berpikir wacana membuka lapangan kerja, juga termasuk cara supaya memajukan kawasan Bengkulu. Sebisa mungkin ia memanfaatkan kelebihan Bengkulu di produknya.

Pelepah pisang dengan tekstur unik menjadi keunggulan. Butuh proses panjang untuk menerima pelepah kering. "Saya hingga lupa, saking seringnya mencoba," terang Suminah soal berapa kali hingga ia berhasil. Ia mulai memotong, dijemur, direndam, hingga benar- benar kering. "Tapi faktanya masih lembab juga."

"Saya coba terus, hingga dikatakan tetangga tidak waras," ujarnya lagi. Sampai ia menemukan satu formula yang tepat. Cara pengeringan melalui oven menjadi andalan. Pertama kali mendesain dan contoh sepatu hanya mengikuti pelatihan belum sekreatif sekarang.

Pemesan pertama datang dari kalangan ibu pejabat. Seiring mengikuti mode produknya bisa masuk ke pasar lebih luas. Semakin banyak pesanan semakin banyak merekrut karyawan. Cerdas ia memberdayakan ibu- ibu sekitar -yang menganggapnya gila dulu. Sebagian besar mereka menjadi pensuplai pelepah pisang.

Ada 10 orang warga ikut berbisnis dengannya menerima penghasilan tambahan. Agar lebih mahir mereka diajak Suminah ke balai pelatihan ke Balai Persepatuan Indonesia di Sidoarjo. Meskipun materi baku masih rumit, masih harus mencari di pulau Jawa, untuk urusan pembuatan dan penyelesaian dilakukan sendiri.

"Saya sama sekali tidak takut bersaing, malah senang membantu orang," jelasnya tidak takut mengajari orang lain.

Sukses Suminah menari perhatian Bank BNI Syariah melirik. Ia pun diangkat menjadi Duta Mutiara Bangsa Berhasanah. Dia menjadi 13 wirausahawan unggulan dari 415 kandidat. Visinya semakin ke arah dimana ia mau menyebabkan orang lain berwirausaha.

Sukses Suminah menembus pasar Eropa melalui reseller asal Spanyol. Karena merupakan produk ramah lingkungan maka laris manis. Walau bukan ia eksklusif memasarkan -dia bersyukur produknya dipakai di Eropa sana. Tidak mau lekas puas, kedatangan seorang bule ke Bengkulu disambutnya menjadi prospek kerja sama.

Ia menargetkan produknya akan masuk pasar Eropa lebih dalam. Agar menguatkan brand maka ia sudah merencanakan mematenkan sepatu pelepah pisang menjadi produk khususnya. Biar lebih mecing dengan pembeli luar negeri, Suminah berencana mengganti nama Mega Souvenir atau agaknya membuat satu nama khusus.

Suwarno, suami Suminah, memang mengakui kegigihan sang istri. Apalagi juga ditambah semangat pantang mengalah dan bekerja keras. Jadia keluarga benar- benar mencicipi perbedaan signifikan. Suminah sendiri tidak berubah, tetap menjadi sosok bersyukur alasannya bisa membantu orang banyak.

"Anak- anak sekolah semua meskipun ia sendiri tidak bersekolah secara layak," ujar Suwarno.

Putra pertama pasangan ini sudah lulus Sarjana dan menjadi pegawai Bank. Putra keduanya tengah sibuk kuliah Sarjana. Dan putra ketiganya masih duduk di dingklik Sekolah Dasar. Cita- cita Suminah yaitu bisa menyekolahkan mereka jika perlu hingga jenjang pendidikan S2.
Read More

Life is Good Kaus Sederhana Memotivasi Hidup

Profil Pengusaha John dan Bert Jacobs 


 
Bert dan John Jacobs merupakan dua bersaudara dari enam orang anak. Sebuah pertanyaan selalu terngiang dalam benak mereka. Apa yang akan mereka lakukan dengan hidup mereka? Sebuah pertanyaan sederhana setiap malam yang menggugah hati dua anak bandel ini.

Mereka yaitu dua bersaudara pendiri urusan ekonomi kaus Life is Good. Brand kenamaan dengan omzet mencapai $100 juta. Mereka terlahir dari keluarga menengah di Boston. Ketika masuk Sekolah Dasar, kedua orang renta mereka hampir mati alasannya yaitu kecelakaan mobil, maka pertanyaan tersebut diatas pantas ditanyakan.

Sang ibu menderita patah tulang dan utuh. Sementara ayah mereka kehilangan tangan kanannya. Karena satu kecelakaan merubah ayah mereka menjadi keras. "Dia banyak sekali berteriak dikala kami lulus sekolah," John berkata kepada Business Insider. Dan hidup tidaklah tepat kembali.

Kedua bersaudara tersebut mencicipi susah tinggal di rumah. Tetapi ibu mereka, Joan, masih percaya akan hidup itu baik. Life is good. Setiap malam mereka duduk bersama buat makan malam. Joan akan bertanya kepada ke enam anaknya yaitu apa hal baik kau rasakan seharian itu.

Satu pertanyaan sederhana merubah suasana. Dan tanpa mereka sadari hidup mereka, penuh dengan energi positif, kelucuan, dan hari itu menjadi hari paling absurd mereka. John mengatakan sebuah pelatihan mental biar tidak menjadi sosok bermental korban. "Oh, kau tidak akan percaya hal buruk ini terjadi kepada saya hari ini."

Ketika pulang sekolah bukannya berbicara wacana peran sekolah. Bukan wacana dimarahi guru, tetapi akan bercerita wacana lucunya bagian rambut sahabat sekelas, ataupun pekerjaan menarik selain apa yang telah mereka gagal lakukan. Optimis merupakan hal terbaik dimiliki keluarga mereka hingga sekarang.

Life is good


Mereka berdua merupakan dua termuda dari enam bersaudara. Mereka dalam sebuah buku Life is Good, menjelaskan hidup mereka tepat sekali tidak sempurna. Rumah mereka tidak punya penghangat. Para anak- anak juga lebih menyenangi bermain di luar. Ketika jam makan mereka akan berlari ke meja makan.

Ibu mereka akan bertanya, "ceritakan sesuatu yang baik terjadi hari ini." Daripada komplain wacana sesuatu menyebalkan terjadi, mereka memilih bercerita positif. Tidak ada kisah wacana adu dengan anak lain dan juga duduk perkara pelajaran.

Tahun 1988 menjadi awal perjalanan mereka selama tujuh hari. Dimana John dikala itu mau sekolah dalam rangka pertukaran pelajar. Hingga mereka berkeliling mencari tujuan hidup. Mereka mulai kehilangan uang simpanan. Cuma ada peta usang Amerika dari kakak mereka, Allan. "...dengan rencana khusus tidak ada rencana."

Tidak cuma berenang di danau mengagumkan Southern California, bertemu sahabat baru, dan bermain basket pinggiran pantai Venice Beach. Jika saja mereka tidak melaksanakan perjalanan ke daerah baru, orang baru, dan sebuah pengalaman, mungkin mereka tidak akan membuka teladan pikir tidak mungkin mereka memulai berbisnis.

Tidak ada alasan mereka berdua tidak berbisnis. Keduanya kan bersaudara bisa melaksanakan urusan ekonomi bersama -meskipun terdengar gila dikala itu bagi sahabat mereka.

Awal sekali, sebelum perjalanan, dikala kedua bersaudara ini mulai pindah dari rumah dan mereka mulailah menjual aneka kaus dibawah nama Jacob's Gallery dan dijual di jalanan Boston.

"Langsung sukses? Bahkan tidak sampai," terang dia.

Mereka menyadari bahwa anak kampus bisa menjadi pasar baik. Hanya saja mereka tidak dapat terkait dengan brand mereka. Mereka lantas membeli kendaraan beroda empat fan Playmouth Voyager untuk $12.000. Mereka lantas bergerak mengunjungi banyak kampus.

Mereka lantas menamai The Enterprise padahal cuma berdua dan kaus. Banyak orang lalu berpikir ini kendaraan beroda empat yang hebat. Padahal mereka banyak kesulitan alasannya yaitu kendaraan tidak bagus. "Kami mencoba dan gagal seratus kali," imbuhnya. Penjualan tidak mencapai target mereka harapkan padahal sudah memakai mobil.

Apakah alasannya yaitu desain jelek, apakag mahasiswa tidak punya uang, atau alasannya yaitu mereka bangkit pukul 1 pagi dan bertanya,"mau membeli kaus?". Entahlah, mereka berdua cuma meyakini bahwa kau akan sukses atau gagal dan berguru -kedua hal tersebut sama- sama memenangkan sesuatu.

Umur 20 tahun masih bekerja separuh waktu. Mereka hidup dari satu cek ke cek lain. Pacar Bert lantas minta putuh alasannya yaitu ibunya menyadarkan dia. "Dia hampir berumur 30 tahun, dan ia masih membuatkan kendaraan beroda empat dengan saudaranya. Kamu butuh menyadarkan diri," ujar pacarnya.

Bisnis motivasi


Hidup bersama seorang ibu ahli -yang menyanyi di dapur, bercerita kisah bergambar, dan berakting menyerupai tokoh di buku fiksi. Apapun duduk perkara mereka akan hadapi bersama. Pelajaran didapat dua bersaudar ini ialah apapun terjadi kebahagiaan tidak bergantung oleh keadaan.

"Dia memperlihatkan kami optimisme yaitu pilihan berani kau bisa buat setiap harinya, terkhusus dikala menghadapi banyak sekali kemalangan," lanjutnya.

Tagline urusan ekonomi mereka yaitu "Life is not perfect. Life is not easy. Life is good." Maka dikala mereka telah memiliki urusan ekonomi besar. John dan Bert menanyakan hal sama kepada pegawai mereka. "Ceritakan kami suatu yang baik." Ketika mereka bercerita wacana pengalaman menyenangkan, maka inspirasi muncul dalam semangat.

Kemudian pegawai mereka akan lebih semangat sukses. Mereka malah tidak menunda akan bekerja. Kisah ini tidak semudah dibayangkan. Mungkin Life is good bagi mereka tetapi perjalanan urusan ekonomi mereka cukuplah rumit.

Pertanyaan sang ibu menjadi pendorong mereka berjalan jauh. John dan Bert Jacobs melaksanakan perjalanan selama seminggu dari California ke Boston di 1988. Waktu itu mereka masing- masing umur 20 tahun dan 23 tahun melaksanakan perjalanan merubah hidup. Mereka lantas berbisnis dengan berjualan kaos di jalanan saja.

Dari asrama kampus lantas tidur di jalanan. Mereka berpindah dari PB&J dan tidur di kendaraan beroda empat kami. Bisnis ini dimulai selama 5 tahun tetapi tidak mengambarkan kesuksesan. Dalam perjalanan, namanya anak muda mereka merasaka gejolak informasi negatif. Berkembanglah urusan ekonomi kaus berkonsep Life is Good dan mulai terlihat hasil.

Awal berbisnis mereka mengambil nama Jacob's Gallery. Mereka melalukan travling lama hingga ke East Cost menjual kaus ke anak kampus. Bisnis mereka dilema, mereka menyadari bahwa uang di bank mereka tinggal $78. Ketika urusan ekonomi mereka menjadi Life is Good mengakibatkan urusan ekonomi mereka lebih ngejreng dan laris.

"Kami mencari bertahun- tahun untuk, "what do we stand for?"," ucap John. Ide tersebut lantas ditaruh  ke dalam desain. Respon pun datang cepat menyerupai mereka harapkan.

Mereka menamai ulang urusan ekonomi mereka. Rebranded menjadi Life is Good, hingga dalam setahun, mereka telah bisa mengantungi $1 juta penjualan. Dan kini mereka telah menjual hingga $100 juta -menjual produk itu ke 4.500 toko retail berbeda.

Bisnis jiwa


Mereka selalu besar lengan berkuasa meski banyak orang meragukan. Justru dikala kau disepelekan, menjadi pengusaha itu berarti siap untuk membuktikan bahwa mereka salah. Mereka semakin bersemangat buat berbisnis kembali. Mereka tidak mau pulang kerumah, mencari jalur aman, dan melupakan disana potensi besar belum digali.

Pola pikir inilah membawa mereka tetap berpesta. Selepas melewati satu daerah maka mereka akan siap menjadi daerah pesta -seberapa pun penjualan dicapai. Pesta menyenangkan dengan bir gratis serta kisah hangat wacana perjalanan mereka. Tamu akan datang mencari hiburan disisi lain menunjukkan saran buat kaus mereka.

Menggunakan uang tanpa berpikir bahwa mereka gagal. Hasilnya mereka kehilangan banyak uang. Dengan sisa uang di Bank sejumlah $75 menyerupai kami ceritakan diatas -mereka kembali akan berpesta walaupun itu berarti pesta terakhi mereka.

Ketika mereka pulang mereka membahas desain baru. Disana mereka membahas wacana informasi negatif di banyak sekali media masa. Apa sulit menjadi positif di jaman sekarang yang begitu penuh kenegatifan. "Tetapi bisa saja mungkin disana ada seseorang yang selalu besar hati apapun terjadi kepada merek?" mereka berandai.

Kemudian John menggambar sosok itu. Seseorang dengan janggut berbaret dan kacamata tersenyum lebar itu menyerupai seniman. Desain mereka ternyata terjual super laris di pesta "terakhir" mereka. Satu komen sangat mengena yaitu "Orang ini bisa menemukan arti hidup". Inilah awal lebih terang wacana kaus Life is Good nanti.

Mereka mulai mengeprin 48 kaus, dan menjual mereka di jalanan Cambridge pada 1994, Massachusetts. Kaus ini terjual dalam waktu sejam -bahkan dua lagi terjual milik mereka pribadi. "Orang menyadari akan ini dan mereka membeli.Tidak butuh penjelasan lebih lanjut," tulis mereka di buku.

Dua bersaudara ini bersemangat atas hasilnya. Mereka berharap kaus mereka dapat dilihat lebih banyak Ini cikal bakal The Enterprise penuh semangat. Mereka berkeliling Boston tanpa hasil. Sampai ada sebuah toko berjulukan Cape Cod. Nancy, pemilik toko, meminta 24 kaus dan berkata,"Siapa nama orang tersenyum ini?

"Jake" mereka sepakat menamai ditempat kepandekan dari Jacobs. Kemudian mereka menemukan hal yang mengejutkan. Jake berarti sebuah kata memiliki arti lengkap "semuanya akan baik- baik saja." Kaus terjual dalam dua minggu. Di tamat minggu, Life is Good terjual hingga kaus senilai $87.000.

Ternyata undangan naik dan mereka mengambil pegawai pertama. Kerrie Gross, seorang cowok berumur 23 tahun yang tinggal di apartemen dibawah mereka. Ketika mereka menggaet Manajer maka mereka penuh percaya diri memberi gaji $17.000. Untung, di tamat tahun, mereka mencapai penjualan $262.000 jadi bisa menggaji.

Percaya diri akan penjualan mereka. Life is Good kemudian ditempatkan di kantor berbeda yakni dalam satu kontainer dengan tinggi 40 kaki pada 1996. Sebuah desain menarik untuk kaus menarik semenarik judul Life is Good.

Mereka kemudian menempelkan pengingat lucu,"tolong bayar tepat waktu jadi kami bisa menyalakan lampu dan membayar staf toko kami."

Pada 1997, mereka hingga dengan penjualan $1 juta, dan risikonya bisa menggaet tiga pegawai kembali ke kantor asli mereka Needham, Massachusetts, dimana mereka mulai membangun kultur perusahaan yang mendapatkan humor kantor. Tertawa menenangkan bisa mendorong kita berkomunikasi dan menyelesaikan masalah.

Life is Good melebarkan produk mereka selain kaus. Dimana mereka telah memiliki 160 pegawai, terjual di 4.500 toko, dan berdonasi 10% dari pendapatan mereka. Mereka mengarahkan optimisme menjadi jalan bagi perusahaan mencapai kesuksesan.

"Kami ingin menyebarkan pesan ini dan membantu orang memahami kedalaman apa artinya," kata John l. "Ini bukan berarti bahwa hidup yaitu mudah atau kehidupan yang sempurna. Ini bahwa hidup itu baik. "
Read More