Menjual Bandeng Cabut Duri Untung Muslim Semarang

Profil Pengusaha Sukses Muslim 



Tidak mudah bagi Muslim memulai usaha. Namun tekat menjadi pengusaha menghantarkan sosoknya ibarat sekarang. Dia dikenal sebagai pengusaha bandeng cabut duri. Bukan perkara mudah sekali lagi, ia pernah bekerja menjadi kuli panggul, cleaning service, menjajal jualan bakso, kemudian urusan ekonomi pengiriman paket.

Semua dilakoni Muslim guna memenuhi kebutuhan keluarga. Selain, memenuhi hasratnya menjadi pengusaha sukses, siapa sangka setelah tiga tahun barulah berasa sukses. Muslim mau bekerja apapun. Hingga ia mulai menggeluti urusan ekonomi bandeng. Inspirasi urusan ekonomi berkat ketrampilan yang ditularkan sahabat asal Rusun Kalegawe.

"Karena saya ingin belajar, saya hingga ikut juga mengantarkan pesanan (bandeng)," imbuhnya. Mulai lah ia mencar ilmu seluk beluk bandeng cabut duri. Selepas paham betul ia lantas mengajak beberapa sahabat membuka perjuangan ini.

Sayang tidak kecocokan membuat mereka bubar. Muslim memilih berbisnis bandeng cabut duri sendiri. Ia cuma berpikir perjuangan tersebut belum banyak di Semarang. Bermodal uang tiga jutaan ditambah tekat berpengaruh jadi tenaga pelengkap Muslim.

Bisnis nekat


Dia cuma berbekal peralatan seadanya buat cabut duri. Uang Rp.3 juta dibelikan 10 kilogram ikan bandeng. Lalu ia mencabut durinya lewat teknik khusus. Selesai ia lantas memasarkan produknya lewat program arisan atau pertemuan warga. Lambat laun perjuangan dijalankan Muslim dikenal masyarakat.

Pembeli tidak cuma orang Semarang, hingga luar kota. Usaha tersebut memang masih gres lantaran bangkit pada 2013 silam. Meski begitu perjuangan ini jangan dipandang sebelah mata. Jika awal hanya mengolah 10kg sekarang ia mengolah 65kg bandeng cabut duri. Bandeng tersebut lantas dipasarkan ke Pasar Kaligawe, Semarang.

Muslim tidak memakai jasa pemasok. Kalau kau mau menjadi penjual baiknya datang langsung. Makara mampu memilih pribadi bandeng berkualitas dan barapa banyak dibutuhkan. Proses produksi masih memanfaatkan rumah sendiri. Dia sendiri memilik target membuka pabrik bandeng cabut duri sendiri.

Ia membuka daerah lagi tepatnya di sebelah timur rumahnya. Dia dibantu empat orang karyawan. Tugas mereka berbeda- beda mulai membersihkan ikan, menyembelih ikan dan membersihkan kotoran, mencabut duri, hingga ke pengemasan di freezer.

Tips memilih bandeng ialah masih segar, tidak terlalu kenyal ataupun gembur, lalu mata ikan juga tidak merah. Jika dulu sendirian bekerja dari pagi menjelang hingga larut malam. Kini, dibantu karyawan, usahanya gres dimulai pukul 9 pagi, istrihat pukul dua belas, lalu dilanjutkan kembali pukul setengah satu hingga setengah lima.

Bagi Muslim apa dikerjannya dimasa lalu ialah kewajiban. Bagi kau mau jadi pengusaha sukses harulah bekerja keras. Tidak mengenal kata libur. Adalah kewajiban memastikan permintaan pelanggan. Rajinlah berpromosi meningkatkan pengetahuan masyarakat ihwal produk kita.

Usaha ini menang tender mengirim ke RSUP Dr. Karyadi, juga sudah masuk dua restoran di Semarang, dan masuk pasar tradisional. Ekspansi urusan ekonomi Mulsim termasuk nuget bandeng yang dipesan RSUP Dr. Karyadi baru- gres ini. Produk nuget karyanya mencapai 30- 35kg.

Meski sudah sukses problem juga ada. Termasuk bagaimana mensinergi usaha, termasuk dengan pemerintah, kemudian startegi urusan ekonomi mendatang, bagaimana menata keuangan dan lainnya. Dia mengaku butuh seorang konsultas bisnis. Bandeng cabut duri dibutuhkan ia menjadi oleh- oleh khas selain bandeng presto.


Usaha dilakoni Muslim bukan tanpa hambatan. Namun pemberian istri terutama, Bu Fikri, membuat ayah dua anak ini tetap maju. Ketika ditemui mahasiswa magang sang istri tengah membantu. Waktu itu ia tengah jadi pengganti pegawai yang sedang pulang kampung. Pengusaha 32 tahun ini merupakan warga Tambakaji, Ngaliyan.

Muslim mengaku keluarga merupakan faktor utama. Awal usahanya untuk menghidupi keluarga. Mulai dari menyekolahkan anak dan hidup tenang. Dengan pemberian keluarga usahanya tumbuh stabil. Meskipun telah sukses ia tetap sederhana.

Omzet Muslim mencapai Rp.50 juta per- bulan. Faktor sukses seorang Muslim ialah konsisten, terutama soal kualitas produk, termasuk bertanggung jawab kalau terjadi problem dipengiriman. Bahkan Muslim berani mengganti kalau ada masalah. Merajakan pelanggan ialah cara Muslim memenangkan hati pelanggan.

Kendala lain yaitu dimana pada bulan sembilan dan delapan susah dapat ikan. Harga ikan juga naik di bulan tersebut.

"Teruslah mencar ilmu dan mencoba serata jangan takut gagal. Kegagalan bukanlah final dari segalanya" saran dari Muslim.
Read More

Kisah Tukang Cupang Kaya Berkat Botol Bekas

Profil Pengusaha Sukses Yono


 
Yono bukanlah pemulung botol. Cuma ia hobi mengumpulkan puluhan botol bekas. Buat apalagi ya bila bukan buat dibisniskan. Bisnis pria empat puluh lima tahun ini terbilang unik. Dia tidak menjual. Tidak pula dijadikan kerajinan. Dia menyulap botol menyerupai aquarium buat budidaya ikan.

Pengusaha kecil ini berbisnis botol bekas dijadikan tempat budidaya. Usaha kecil yang diam- membisu bisa menghasilkan puluhan juta. Jika kau berkunjung ke rumah Yono, kau akan melihat puluhan botol tersusun rapih berjajar berisi ikan hias indah warna- warni.

Tidak cuma puluhan bahkan Yono kini punya ratusan. Bisnis yang ditekuninya semenjak 5 tahun terakhir. Yaitu apalagi bila bukan budidaya ikan cupang atau Betta Splendens. Budidaya cupang memang sudah dikenal luas tidak membutuhkan ruang luas. Dapat dilakukan memanfaatkan botol bekas orang.

Ia menceritakan bila indukan betina dan jantan siap. Mereka akan dimasukan ke media lebih luas. Ingatlah mereka harus berumur 4 bulanan. Siap menikah kedua ikan tersebut akan jadi sendiri. Selesai, dalam kurang dari 2 bulan sudah menghasilkan telur. Pakan pakai ulat sutra pagi dan sora hari, gampang kan?

Hasil membudidaya ikan cupa Yono tersebar. Kebanyakan dijual di kawasan Banjarnegara. Tetapi tidak juga hingga disana, Yono sudah mengirim hingga ke Sumatra, Surabaya, dan Jakarta. Sekali panen ia bisa menghasilkan 1.000 ekor. Ikan cupang dijualnya persatuan seharga Rp.5.000 hingga Rp.70 ribu.

Berkat ekspansi luas memasarkan ikan. Yono dikenal bisa menghasilkan omzet mencapai puluhan juta rupiah. Ini tentu sangat menginspirasi kita bukan. Dari cuma ikan cupang bermodal botol bekas bisa hasil jutaan rupiah. Sementara orang bekerja siang dan malam belum tentu berhasil.

Guna ikan cupang selain buat ikan hias, dapat membasmi jentik- jentik nyamuk, apakah kau tertarik buat membudidaya ikan cupang?
Read More

Pengusaha Sekaligus Trainer Gelas Lukis Alia Kraft

Profil Pengusaha Laksmiwati Etty  



Seorang ibu rumah tangga telah sukses membuka peluang bisnis. Berkat kemampu seni menghantarkan ibu rumah tangga satu ini sukses berkat Alia Kraft Glass Painting. Melalui media beling meraup jutaan rupiah dari urusan ekonomi gelas lukis. Dari hobi membuat souvenir kemudian melukis gelas beling meraup sukses.

Warga Sidoarjo, Jawa Timur, gres mendalami sebagai urusan ekonomi pada 2009. Melalui urusan ekonomi sederahan tersebut, Laksmiwati Etty sudah bisa mengantongi omzet Rp.20 juta. Dimana perlu kau tau prospek margin untung telah mencapai 50% nya.

Namun tentu hal tersulit dalam hal ini menyangkut cita rasa. Sisi lain yaitu bagaiman kita memasarkan ke masyarakat. Aneka media beling bisa digunakan. Jika Laksmi menggunakan media gelas minum. Kamu bisa mencoba dari botol minuman ataupun gelas lain.

Masalah lain ialah menyangkut penjiplakan desain. Untuk pemasaran, melalui sosial media, memang lebih bisa mengena di hati masyarakat kita. Bahan digunakan tergolong barang bekas. Cuma diperlukan jiwa seni yang memang tidak semua orang memiliki. Inovasi aneka media gelas dilakukan biar pasarnya tidak bosan.

Sukses unik


Laksmi memiliki empat orang karyawan membuat lukisan diatas kaca. Tidak cuma gelas tetapi vas bunga, guci, toples kaca, lampu, tempat permen, piring kaligrafi, serta benda lain yang kaca. Tetapi memang paling laris menurutnya ialah gelas kaca. Gelas bukan buat minum, tetapi buat dipajang. 

"Kecuali toples beling buat tempat kue," tuturnya. Untuk gelas yang panjang Laksmi bisa menghasilkan 50 buah per- hari. Kalau vas bunga atau kuci besar gres bisa menghasilkan satu buah per- hari.

Soal harga bervariasi dari tingkat kesulitan serta ukuran. Kalau buat souvenir ijab kabul Laksmi menjual antara Rp.15 ribu hingga Rp.25 ribu per- buah. Kalau yang besar- besar menyerupai lampu, guci, dan lainnya dijual Rp.100 ribu hingga sejuta.

Soal materi baku, Laksmi sudah memiliki sumber sendiri yakni diambil di daerah Kedawung, Jawa Barat. Kalau produknya kelas premium maka tidak segan ia mencari sendiri. Dia rela berkeliling suatu tempat hanaya buat menerima gelas unik. Laksmi dikala berkunjung ke suatu kota, maka tidaklah lupa mencari gelas.

Biasanya khusus untuk gelas panjang, vas bunga, ataupun guci juga dicari khusus. Sedangkan untuk gelas- gelas kecil cukup dipesan saja ke pengepul.

Laksmiwati sendiri yaitu seorang trainer. Selain berbisnis sendiri aktif mengajarkan aneka kerajinan tangan. Dia juga seorang penulis loh. Contoh buku pernah ditulis olehnya, antara lain Kreasi Bunga dari Biji, Glass Painting, Modern Patchwork, Kriya Kertas Semen, Art Painting, dan Gift BoBox.

Trainer kerajinan


Laksmi disibukan hari- harinya dengan mengajar. Selain berbisnis gelas lukis ia sibuk mengajarkan kepada siapapun yang tertarik akan kerajinan tangan. Sudah puluhan buku diterbitkan oleh wanita asli Surabaya ini. Ia pernah melatih ke Malaysia. Ibu 58 tahun ini memang lihai menggerakan jari- jarinya horizontal- vertikal.

Ia sibuk mengajari para calon wirausaha. Terutama mereka yang tertarik akan kesenian melukis gelas. Ia memastikan setiap final pasti akan ada wirausaha baru. "Setelah ini (pelatihan) selesai, saya pastikan dari mereka ada yang benar- benar menggeluti perjuangan ini," tuturnya.

Dua pekan pelatihan buat 30 orang. Laksmi memilih 10 orang terbaik dari pemantauan dan pendampingan proses seminar. Ia memang dikenal suka berkeliling mengajarkan ilmunya. Semua undangan dari aneka macam kota dipenuhi. Sambil mengajar ia mulai menulis buku kembali. Buku ke 11 yang masih perihal kerajinan tangan.

Tahap pelatihan sudah diperhitungkan. Mulai proses paling bawah sederhana dulu. Kalau urutan bekerjsama sih apa diajarkan Laksmi tidak berurutan. Ia mencoba menghitung kemampuan penerima saja. Tidak adanya kesulitan berarti membuktikan keahlian Laksmi.

Memang diperlukan pengulangan terus menerus. Tujuannya biar semakin cekatan nempel bagaimana cara melukis garis. Tiga tahun sudah ia mengajari banyak orang melukis gelas terutama di Jawa Timur.

Tidak cuma gelas lukis loh, ia juga memiliki keahlian kerajinan tangan lain, hebat lukis kain, kemasan kraton, daur ulang barang bekas, hantaran pernikahan, dan membuat bros. Pasar gelas lukis dianggap Laksmi masih luas. "Gelas lukis masih jarang," imbuhnya. Kalau dilihat cantik, apalagi jikalau kena cahaya bisa memancar.

"Orang beli kebanyakan untuk hiasan atau souvenir," imbuh Laksmi. Bisa dibilang untuk seniman gelas lukis masih jarang di Indonesia. Ia menyebut empat orang terkenal. Sisanya merupakan produk impor dari Italia, Republik Ceko, dan Turki.

Dia menyebut jikalau mau memulai mulailah yang mudah. Jangan eksklusif melukis gelas dengan motif batik. Memang motif batik akan susah apalagi medianya gelas. Buat mempertegas warna disarankan gunakanlah warga emas. Dilanjutkan dengan teknik menggunakan warna biasa. Warna gunakan sesuai selera kemudian keringkan.

Keringkan dibawah sinar matahari. Lama pengerjaan antara enam jam dapat 10 gelas. Kalau media gelasnya besar bisa hingga seminggu.
Read More

Pabrik Hanger Pakaian Rajawali Raup Ratusan Juta

Profil Pengusaha Joko Ibrahim 


 
Menjadi pengusaha tidak disangka- sangka. Siapa sangka niat hati menyenangkan calon mertua, eh ternyata, malah menjadi urusan ekonomi berbuah ratusan juta. Inilah kisah Joko Ibrahim seorang pengusaha alat rumah tangga. Ia menceritakan awal kisah beliau sama sekali tidak berniat menjadi pengusaha muda.

Dia awalnya berkunjung ke rumah kekasih di Dusun Ngunut, Tulungagung. Ternyata calon mertua Joko itu pengusaha alat rumah tangga. Dan kebanyakan warga dusun memang pengrajin peralatan rumah tangga. Satu kecamatan tersebut menjadi pusat alat rumah tangga. 

Kan kalau beliau bisa mengambarkan diri, siapa tau makin mudah. Kaprikornus mudah buat Joko melamar sang kekasih. Lalu beliau menunjukkan diri untuk menjualkan hanger buatan calon mertua. Pria lulusan IAIN Wali Songo ini lantas menunjukkan tetangga, kebetulah beliau tengah melanjutkan sekolah Universitas Paramadina Jakarta.

Tawaran tersebut diterima senang hati. Jadilah Joko pengusaha alat rumah tangga dadakan. Ditawarkan itu ke tetangga kawasan beliau bertempat. Tidak cuma berhenti disitu saja, ia lantas membidik pasar internet melalui situs gratisan.

Bisnis siapa sangka


Joko sendiri bukan orang susah. Lahir dari keluarga berkecukupan membuat beliau bisa bersekolah tinggi. Dia pun mengingat masa kecil menyenangkan. Ayah Joko sendiri yaitu seorang kepala sekolah. Mereka sudah memiliki sepetak sawah. Kemudian ibu Joko merupakan penjual tanaman palawija.

Tumbuh menjadi cowok biasa hingga berkuliah. Waktu kuliah di Semarang, ia juga aktif mengikuti aneka kegiatan kemahasiswaan. Berkat itu beliau memiliki kemampuan komunikasi baik. Dalam hal membangun hubungan juga mudah.

Itulah kenapa, ketika lulus 2003, pekerjaan bagus dapat digenggam Joko yakni menjadi manajer sebuah yayasan pendidikan di Solo. Namun karir dijalani Joko sangat lambat. Lima tahun berlalu kemudian ditawari beasiswa S-2, tanpa berpikir panjang Joko mengiyakan berkulih kembali ke Jakarta.

Sambil kuliah sambil bekerja. Joko bekerja di sebuah kantor pengacara. Disaat bersamaan juga menemukan wanita kekasihnya, yang sekarang istrinya, Prisa Ani Yulia.

Prisa sendiri merupakan warga Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur. Ketika berkunjung ia melihat orang renta kekasihnya mengerjakan hanger kawat. Sebuah perjuangan yang kelihatannya maju alasannya banyak pekerjaan tiap hari. Dia mencoba mengambil hati mertua. Joko hingga rela berhenti dari kantor pengacara.

"Sebab, bisa jualan sambil pacaran lebih menyengangkan,"cletuknya.

Ketika di Jakarta beliau menjual melalui internet. Ternyata hanya berbekal situs penjualhanger.multiply.com bisa menghasilkan banyak pesanan. Transaksi online dijalankan Joko sudah ibarat sekarang. Selepas membayar transfer barang akan eksklusif dikirim. Untuk penjualan dengan syarat tertentu tidak dipungut biaya mengirim.

Dia gres tau dahsyatnya berjualan hanger. Apalagi penjualan alat rumah tangga melalui internet kan masih sangat jarang. "Hasilnya lumayan," imbuh Joko. Produk dijual Joko masih produk hanger kawat biasa tidak ada spesial.

Penjualan melalui internet berbeda dari langsung. Ketika menjual rumah ke rumah, bayangkan Joko hanya bisa menjual 2- 3 calon pembeli. Dan ketika ia pindah berjualan dari multiply. Bayangkan beliau melayani pembeli hingga belasan. Jika pembeli eksklusif membeli sedikit, pembeli internet akan membeli jauh lebih banyak.

Makin banyak dibeli


Suatu hari beliau kedatangan seorang pembeli asal Korea. Ternyata beliau merupakan pemilik laundry asal Korea. Ia pun menunjukkan kerja sama urusan ekonomi menarik. Dia menginginkan hanger dibuat khusus. Kemudian datanglah seorang kawan menunjukkan pola hanger khusus. Hanger sesuai dengan keinginan pengusaha Korea itu.

Sang pengusaha laundry menginginkan hanger khusus. Bukan hanger kawat bekas, namun hanger dengan gesekan di gagang. Joko lantas membuat sampel. Kemudian beberapa pola tersebut diberikan kepada si pengusaha Korea tersebut. Akan tetapi pemesan tersebut tidak kunjung memesan. Ia merasa dikecewakan sekali.

Namun, apa sudah berlalu tinggal pelajaran, banting stir Joko menunjukkan hanger sama ke orang lain. Sabar beliau menunjukkan ke beberapa laundry. Hasilnya satu pesanan datang dari laundry di Nusa Tenggara Barat pada Mei 2009 silam. Tidak tanggung mereka memesan hingga 250 unit hanger.

"Saya senang sekali, tetapi juga bingung," ia berlanjut. Pasalnya Joko belum berproduksi sebanyak itu. Pria kelahiran 19 Maret 1980 ini lantas memberitau kesusahan ke pacar. Sang calon mertua ternyata merespon persoalan ini mengejutkan.

Calon mertua menunjukkan modal Rp.2,5 juta kepada Joko. Maksudnya semoga beliau dapat membelikan mesin cetak buat hanger. Untuk menambah modal usaha, ia menarik uang tabungan Rp.5 juta, lantas dibeli gulungan kawat dan materi kimia buat mewarnai hanger. Sukses besar Joko memenuhi pesanan tersebut sempurna waktu.

Kisah berlanjut beliau membuat kembali hanger berdesain sama. Dia bekerja bersama empat orang karyawan yang dipinjamkan mertua. Kisah berlanjut tetapi tidak sesuai keinginan dia. Pesanan malah kembali sepi tidak ada pesanan banyak.

Bertahan sabar


Ia sempat menawarka ke eksportir. Namun ditolak alasannya waktu itu belum punya mesin. Ia sempat bersedih cuma beliau tetap semangat. Dia merasa bertanggung jawab bahwa beliau sanggup. Keinginan memajukan perjuangan mertua membuat dirinya lebih bersemangat. Alhasil pesanan hanger gres membuka peluang urusan ekonomi pembuatan sendiri.

Hanya saja, bagaimana bila ternyata pesanan kembali sepi ya? Padahal beliau barulah menikah. Juga masih ada stok 30.000 hanger. Mereka pasangan suami istri gres terpaksa berhemat. Mereka memenuhi kebutuhan hidup dari pesanan hanger yang sepi.

Tidak mau lama- lama berdiam diri. Apalagi hingga gila alasannya pesanan tidak kunjung datang. Joko memiliki pandangan gres brilian. Dibukannya buku YellowPage, mencari- cari internet, bagaimana beliau bisa menemukan pasar lain potensial.

Akhirnya Joko membuat surat penawaran, ditawarkan hangernya kepada 7 laundry dari Bali dan Makassar. Startegi ibarat ini ternyata tidak sia- sia. Pesanan mulai berdatangan. Namun, ketika sudah bersemangat, ia menemukan tidak se- "wah" dibayangkan. Dimana tidak setiap ketika mereka akan butuh hanger tergantung musim.

Tujuh bulan berlalu, hingga Joko bisa menguasai pasar hendak dicapai. Joko hasilnya bisa memetakan calon pelanggan.

Masuk Idul Fitri 2009, pesanan mulai menaik, dan pesanan datang salah satunya Simply Fresh. Ya laundry besar tersebut memesan hanger ke Joko. Selain Simply Fresh, ada nama Martinizing Dry Cleaning memesan hanger juga. Dua bulan stok hanger produksinya habis tanpa sisa di gudang.

Simply Fresh Yogya pun secara teratur memesan hanger dari Joko. Kemudian semenjak itu lahirlah nama produk Rajawali Hanger. Secara rutin mereka memasok hanger 8.000 buah ke Simpy Fresh setiap bulan. Kemudian dari Marinizing Dry Cleaning memesan hingga 2.000 unit setiap bulan.

Visioner bisnis


Rajawali Laundry masuk pasar ritel berbekal semangat. Bayangkan mereka memproduksi hingga 360.000 hanger setiap bulan. Juga termasuk masuk ke pasar grosir. Ternyata banyak orang membeli peralatan rumah tangga disana. Tidak berhenti di hanger, banyak orang meminta dipasok sapu, keset, dan kemoceng.

Melihat potensi itulah beliau mulai mencari produk lagi. Dia menampung produk karya warga Desa Ngunut. Ia melalui perusahaan Rajawali Hanger berekspansi. Dari menjual aneka peralatan kebersihan, Joko lantas masuk ke urusan ekonomi pembuatan peralatan dapur hingga 100 jenis.

Ia menjalin kemitraan dengan pengrajin sekitar. Dia bertindak sebagai distributor. Kemitraan memasok alat- alat dapur. Dari empat orang karyawan derma mertua, Joko merekrut empat lagi karyawan lepas buat membantu dia. Omzet jangan ditanya, Joko bisa meraup omzet hingga Rp.250 juta per- bulan.

Semua alasannya tidak cuma lokal. Joko bahkan menerima ajuan ekspor. Joko mengekspor hingga ke Kanada lewat PT. Seven Continent, dimana mereka merupakan pemasok display buat produk ke Amerika ibarat Lea Jeans. Tidak berhenti beliau menerima ajuan ekspor lain dari dua perusahaan asing.

Tetapi beliau cuma mau bila bisa dikerjakan disela- selag kesibukan. Joko sendiri lebih nyaman berafiliasi eksklusif dengan pelanggan, baik website, Twitter, ataupun Facebook. Meskipun begitu beliau tetap merekrut orang buat menjalankan marketing. Karena itu merupakan kunci sukses sebuah perusahaan berbisnis.

Meski efek internet membantu, nyatanya, penjualan tidak 50% datang dari internet. Semua justru kerena ia memiliki kedekatan eksklusif ke konsumen. Cuma bedanya sekarang beliau telah membangun citranya. Sudah memiliki brand awareness berkat internet. Kini, beliau sibuk mengunjungi mereka bahkan ke seluruh Indonesia.

"Mungkin banyak yang bilang itu buang- buang duit tapi yang penting bisa menjaga hubungan baik," imbuh dia.

Menjalin hubungan dengan pengrajin rumahan sulit. Ia mengakui mereka cenderung sensitif. Ketika beliau mulai menyusun data untuk keperluan jaringan distribusi. Mereka melihat Joko penuh curiga. Apalagi ketika mulai beliau beralasan mengambil gambar dan banyak bertanya.

"Mereka tidak mau kalau sekedar kita tanya- tanya dan ambil gambar tanpa membeli," Joko menjelaskan lagi.

Oleh alasannya itulah setiap survei, maka Joko akan membeli barang dari mereka. Tujuh bulan lamanya hingga beliau benar- benar menyusun data base. Dia hasilnya bisa memetakan produk apa saja. Dia juga mulai menyusun rencana pendekatan. Lantaran kebanyakan mereka sudah memiliki pengepul sendiri jadi susah.

Dia hasilnya mendekati pengepul juga. Mereka yaitu pemberi orderan kepada perajin. Pendekatan dalam hal bagaimana meningkatkan penjualan. Serta menyampaikan sedikit pelatihan pengembangan produk. Karena mereka kebanyakan memproduksi satu jenis produk sesuai pesanan.

Mereka memang terbiasa memproduksi apa adanya tanpa inovasi. "Saya ajarkan bagaimana pengemasan, ukuran, atau pengembangan model baru," ia menjelaskan lebih lanjut. Joko sendiri ingat betul bagaimana ia berawal. Sebagai pembuat hanger pemula berbekal kawat bekas dibentu seadanya.

Dia berharap mitra juga mencicipi pengalaman. Bagi Joko, kesuksesan milik siapa saja, bukan mereka yang terlahir kaya ataupun keturunan tertentu. Siapapun mau bekerja keras pasi bisa. Memulai perjuangan yaitu soal keberanian. Keberanian mengambil keputusan penting dan fokus akan apa pekerjaan kita.
Read More

Akbar Karikatur Dituduh Menipu Sukarnya Bisnis Online

Profil Pengusaha Akbar Satriawan



Bisnis online sering dituduh menipu. Memang dunia digital menawarkan fasilitas total. Tetapi tidak semua orang memiliki kemampuan. Yakni kemampuan membedakan dunia konkret dan internet. Beberapa malah kerepotan mengerjakan urusan ekonomi mereka disini. Dunia internet menawarkan fasilitas juga kesukaran.

Seperti dongeng pemilik Akbarkarikatur. Dia menerima banyak komplain wacana pesanan. Banyak mereka komplain bahkan merasa tertipu. Orderan tanpa didukung sumber daya manusia. Padahal Akbar katanya menyanggupi pesanan tetapi sulit dihubungi dan gagal memenuhi pesanan. 

Padahal sudah mengirimkan uang pembayaran. Penulis tidak menjudge tetapi menyoroti fenomena. Dalam berbisnis diperlukan profesionalisme. Ingat bahwa pembeli ialah raja. Maka sebagai pengusaha layaknya tidak menjanjikan jikalau tidak sanggup.

Bisnis cerdik


Kamampuan membuat karikatur digital Akbar berbuah bisnis. Kisah pengusaha berjulukan Akbar Satriawan, seorang pengusaha muda asal Semarang. Bekal kemampuan menggambar digital. Akbar lantas iseng buat memasarkan karyanya lewat sosial media. Salah satu hasil karyanya yang menarik ialah dikala Pilkada Kota Semarang.

Akbar menggambar karikatur buat salah satu calon Wali Kota. Setelah gambar selesai, kemudian dapat ia perbanyak diatas kaos. Nah, lewat ajang inilah, nama Akbar semakin dikenal sebagai pembuat kaos asal Semarang. "Saya mulai serius membisniskan gambar karikatur digital semenjak 2011 silam," terang Akbar.

Pada awalnya beliau mulai membuat blog sendiri. Diunggah kemudian dikomentari orang bahwa hasil karyanya bagus. Berjalan waktu beliau mulai membuatkan konsep kaos printing. Sebelum itu Akbar menerima banyak job membuat gambar buat web Pemprov.

Lambat laun beliau juga dikenal sebagai hebat dekor. Salah satunya menjadi pendekor aksesoris gambar untuk Achmad Dhani Masterpiece Karaoke. Kemudian menggambarkan ke kaos buat dipasarkan lewat aneka macam event. Melalui urusan ekonomi kaos printing usahanya mulai menggurita tidak cuma online.

Tahun 2004 barulah kaos karikatur Akbar dipasarkan. Dengan pengalaman seadanya beliau mencari tau, cara bagaimana sih menempelkan gambar ke kaos. Bagaimana beliau menjahit, mendesain, dan bagaimana caranya menjual ke orang banyak.

Ia menyasar pasar backpacker awal. Dia menganggap pasar ini masih sepi. Memang kala itu demam traveling semacam ini belum booming. Kaos berkata- kata dan gambar simple diunggah Akbar. Isinya kebanyakan wacana sindiran untuk menikmati hidup dengan traveling. "Anda kerja, aku libur. Anda libur, aku liburan."

Kalau Akbar lebih memilih menjadi pelopor. Dia tidak suka mengikuti demam program televisi. Seperti kaos yang bertuliskan My Trip My Adventure ataupun National Geography. Akbar memilih membuat gambar yang original dengan goresan pena nyeleneh khas.

Pria asli Wonosobo, kelahiran 29 April 1990 ini, memang memiliki idealis dalam berkarya. Jiwa kesenian di dirinya lebih kental dibanding sekedar bisnis. Karya gambar Akbar lain menyerupai menggambar hewan- hewan yang hampir punah menyerupai gambar rino bercula satu.

Ia menerima ilham selama menjadi backpacker. Ya Akbar memang hobi bertraveling jadi pantaslah kalau beliau tau betul. Anak ketiga pasangan Supardi dan Yuli memang suka bepergian ke beberapa negara. Terutama di daerah Asia Tenggara menyerupai Bangkok. Dari sanalah ide wacana gambar dan kata muncul.

Uniknya, Akbar menjelaskan, untuk menawarkan kesan spesial setiap desain diproduksi maksimal 22 kaos jadi benar ekslusip.

Bisnis online


Akbar juga mengadakan lomba quotes kata- kata unik. Melalui Instagram berhastag mengajak konsumen ikutan membikin kata- kata unik. Pemenang lomba akan menerima dua kaos gratis. Satu kaos berdesain kata pemenang sendiri, dan satunya lagi bebas memilih. "Satu dengan desain quote tersebut, satu lagi bebas memilih."

Alumnus Universitas Dian Nuswantaro (Udinus) tahun 2014 ini, semakin eksis berbisnis lewat perpanduan antara sosial media dan nyata. Belum ada setahun sudah menghasilkan puluhan juta. Tidak cuma masuk ke pasaran Semarang tetapi juga luar Jawa, mulai Sulawesi, Kalimantan, hingga ke Papua.

Bahkan pernah beliau menerima pesanan hingga 150 potong dari Hong Kong. Memanfaatkan internet bagi Akbar ialah memperluas pasaran sekarang. Dia juga rajin bertemu konsumen langsung. Salah satunya yaitu lewat ajang Car Free Day Jalan Pahlawan Semarang.

Harga ditawarkan Akbar juga kompetitif. Yakni Rp.55 ribu untuk kaos lengang pendek dan harga Rp.65 ribu buat lengan panjang. Walau murah tetapi margin untung dihasilkan pria gondrong ini besar. Mungkin ini berkat uniknya karya Akbar.

Dia dibantu empat karyawan bisa mengerjakan 3 lusin per- hari. Baru setahun berbisnis omzet Akbar sudah menyentuh puluhan juta. "Kalau omzet bulanannya sudah cukup buat memenuhi kebutuhan sehari- hari dan uang saki backpackeran," selorohnya.

"Rencananya, tamat tahun mendatang, mau plesiran ke Turki sekalian bulan madu," tutup Akbar. Mungkin ini alasan utama kenapa Akbar menjadi sukar melayani. Disisi lain beliau masih di luar negeri -seperti kasusnya beliau katanya sedang di Bangkok tidak ada sinyal- sementara internet tidak pernah tutup.
Read More

Jadi Petani Jahe Merah Setelah Lulus SMA

Profil Pengusaha Wahyu Widodo 



Umur masih muda tapi mau jadi petani. Tentu orang renta akan berpikir dua kali keputusan Wahyu. Pria yang berjulukan lengkap Wahyu Widodo memilih bertani. Alkisah semua bermudal dari perpustarakan yang digagas oleh CSR Coca- Cola Foundation. 

Keinginan wirausaha


"Bapak ibu saya seorang petani. Tahun lalu selepas SMA saya tidak mampu melanjutkan kuliah," cerita Wahyu wacana kehidupan keluarganya. Tetapi satu hal tidak pernah ia tidak lanjutkan yaitu kebiasaan membaca.

Dia memang petani semenjak kecil. Membantu keluarga bertani memang sudah kebiasaan. Namun mana ada orang renta mau anaknya menjadi petani jaman sekarang. Mereka lebih suka melihat ia bekerja di pabrik. Apalagi saat gagal panen susah hidup mereka terasa. Namun dibenak hati Wahyu ada impian membuka usaha.

Waktu itu ia belum terpikir menjadi pengusaha agro. Bayangan cowok 19 tahun tersebut itu mengambang antara impian merubah nasib tetapi tidak tau caranya. Bak pungguk merindukan bulan niat Wahyu menjadi pengusaha ditanggapi kedua orang tuanya seolah tidak mungkin.

Pola pikir mengenai berwirausaha butuh modal melekat. Anak petani gurem ini cuma hingga bermimpi pikir orang tuanya. Hingga sebuah program pelatihan kewirausahaan diadakan dalam bentuk perpustakaan. Mereka mengajarkan bagaiman menjadi wirausaha lewat buku.

Seorang pengelola perpustakaan desa (perpusdes) lantas mengajak ia ikutan. Bayangan pertama ia mana mampu berhasil. Perpustakaan kan kawasan membosankan. Awal ia menolak alasannya bayangan kawasan berdebu, kumuh, gelap dan membosankan menghantui. Tetapi ayah ibu Wahyu mendorong ia supaya mau ikutan saja.

Mereka paham impian sang anak mau berwirausahaan. Meski mereka pesimis mereka tetap memahami. Akhirnya Wahyu ikutan mendaftar dan ia menerima kejutan disana.

Orang renta cuma bilang mungkin disana merupakan jalan Wahyu. Omongan orang renta ternyata benar adanya. Ia menerima pelatihan internet dan cara memakai internet. Bayangan wacana perpustakaan jadul tidaklah terlihat sama sekali. Wahyu juga menerima cekokan banyak video motivasi menjadi wirausaha sukses.

Video berisi orang- orang sukses berwirausaha. Perpustakaan desa membuat Wahyu tidak cuma ingin. Dia mulai membangun mentalnya, urusan ekonomi apa yang akan dijalankan, dan semakin ingin lagi. Tidak cuma Wahyu mencar ilmu sendirian. Ada kawan sesama pelatihan dapat menyebarkan obrolan termasuk perjuangan apa menarik.

Dari obrolan ia tertarik dengan perjuangan temannya yaitu budidaya jahe merah. Meneliti lebih dalam Wahyu tak cuma membukan buku juga membuka internet.

Bisnis jahe


Disela pelatihan ia mulai mengumpulkan informasi wacana jahe merah. Pemuda ini memang sudah ingin jadi pengusaha semenjak lulus SMA pada 2014 silam. Pulang pelatihan kakak meminjamkan uang Rp.200.000 buat usaha. Kemudian mengumpulkan uang jajan hingga Rp.400 ribu dibuat membeli bibit jahe dari internet.

Sayangnya, bertani tidak semudah dibayangkan, apalagi tanaman tengah dibudidaya ialah komoditas yang mahal dan susah. Awal memulai semua bibit ditanam ia mati. Dia tidak pantang menyerah. Dia kemudian kembali Sragen membrowsing dan mencari buku literatur. 

Ia membaca bagaimana cara membuat bibit jahe merah sendiri. "Ketika ingin menanam jahe lagi tetangga saya tertawa alasannya kegagalan sebelumnya," kenang Wahyu. Justru saat ia mencoba kembali malah hasil bibit jahe Wahyu lebih indah dibanding bibit beli.

Sudah sukses mau diapakan pikir Wahyu. Dia ingat memiliki akun Facebook. Ia lalu memfoto bibit ia miliki dan memposting ke sosial media, meminjam komputer dari Perpusdes. Pagi bangkit tidur ia sudah bangkit memfoto bibit jahenya. Dia masih memakai kamera jadul hp kemudian dimasukan komputer lalu diupload.

Dua jam saja seseorang dari Purwodadi menelepon. Kemudian disusul orang asal Solo dan Purwerojo. Dia menghantar sendiri ke pesanan ke kota tersebut. Dua bulan kemudian datang dari Jawa Barat serta Sumatra. Lima bulan kemudian lebih banyak pesanan, bahkan mencapai Rp.4- 10 juta lebih dari cukup membiaya kuliah.

Lalu, ia memutuskan melanutkan kuliah, menjadi mahasiswa jurusan Agrobisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Semua ia syukuri beruntung ia mengikuti saran orang tua. Dia mencari ilmu dari perpustakaan  Dari membaca kemudian memanfaatkan koneksi internet dan komputer. 

"...akhirnya saya mampu membuka perjuangan sendiri dengan berjualan online dari perpustakaan," tutur dia.

Dia kemudian ingin menjadi eksportir jahe merah. Tidak berhenti disana, ia membuka perjuangan lain menyerupai hal urusan ekonomi penjualan karung, tetes tebu, kemudian ia akan menyasar jahe gajah. "Omset saya hingga Rp.10 juta per- bulan," imbuhnya.
Read More

Teh Pinggir Jalan Your Tea Waralaba Murah Thamrin

Profil Pengusaha Indra Thamrin 



Seorang pria kelahiran 29 Juni 1988 asal Palembang, Sumatra Selatan. Namanya Indra Thamrin atau sering dikenal sebagai pemilik waralaba teh berjulukan Your Tea. Pendidikan formal Indra mulai TK hingga SMA di Yayasan Xaverius Lubuklinggau. Dia memiliki banyak prestasi dibidang akademis semenjak bersekolah dulu.

Hanya cowok biasa yang kini menjadi pengusaha sukses. Juga pengusaha biasa mengawalai hidupnya dari serangkaian kegagalan. Bermula di 2006, dimanan beliau merantau hingga ke Bogor, Jawa Barat dengan niat melanjutkan kuliah Sarjana mengambil Komunikasi dan Pembenganan Masyarakat, Institut Pertani Bogor.

Dalam empat tahun berkuliah ia menyadari akan hal. Bahwa Thamrin memiliki passion dibidang bisnis. Maka beliau mulai melirik aneka macam peluang berbisnis sendiri. Sambil berkuliah, mengikut ekstra, beliau juga sibu urusan ekonomi yang dibantu beberapa temannya.

Kemampu dibidang public- speaking yang terasah. Ia bisa meyakinkan bahwa urusan ekonomi dijalankan bukanlah sekedar bisnis. Tetapi peluang bagi kita semua mengusung konsep waralaba. Bisnis diusung Thamrin bukan tanpa perjalanan panjang, banyak trial and error dijalaninya.

Usaha dirintis semenjak 2008 mengusung selogan bahwa teh menjadi minuman kedua. Setelah air putih makan orang akan melirik minuman lain, ibarat teh atau kopi. Rasanya tidak berat serta kandungan nutrisi baik buat badan menjadi pilihan. Dibanding kopi teh lebih baik buat wanita apalagi jikalau bukan buat kulit.

Spontan berbisnis


Sebagai mahasiswa aktif mengikuti kegiatan. Terbersit dipikiran Thamrin disuatu siang akan minuman yang hambar menyegarkan. Menurut Thamrin pilihan minuman favorit orang pertama yaitu air putih. Sedangkan kopi menjadi pihak ketiga setelah teh. Lalu kenapa tidak Thamrin membuka perjuangan teh di kampusnya?

Pemikiran tersebut disambut beberapa sahabat Thamrin. Mereka sepakat mencoba aneka macam macam cara supaya bisa menyuguhkan teh berbeda. Potensi mahasiswa IPB kan mencapai 20 ribu jiwa. Susana cukup panas saat siang hari di ekspresi dominan kemarau juga mendukung.

Tiga bulan beliau mencoba meracik. Memang teh biasa dibuat semua orang. Hanya saja, Thamrin ingin minuman teh berbeda yang akan menjadi sumber bisnisnya. Sekali dipasarkan cita rasa berbeda segera disambut oleh masyarakat sebagai peluang.

Maka nama CV. Sari Hijau Lestari didirikan. Brand andalan mereka yaitu Your Tea beralamat lengkap di situs www.waralabateh.com. Tidak buru- buru diwaralabakan, Thamrin segera menyusun rencana hingga ia memasukan tehnya ke HAKI, serta membuat standar operasional.

Konsep waralaba diluncurkan pada tahun 2010. Kemudian Thamrin aktif melaksanakan digital marketing pada 2013. Tahun 2012 saja, beliau sudah mengantungi 82 mitra yang tersebar dari Jakarta, Sukabumi, Bogor. Dan itu tidak berhenti disana bahkan merambah ke Surabaya, Sidoarjo, bahkan Papua.

Sebenarnya jikalau dilihat sekilah sama ibarat teh lain. Namun Thamrin mewajibkan pewaralaba memakai es watu kristal dari air matang. Agar tidak menjadi teh biasa, aneka varian rasa ibarat honey tea, flavor tea, serta cappuccino tea dihadirkan. Kulitas daun teh juga diperhatikan betul oleh Thamrin supaya aroma melatinya kentara.

Harga ditawarkan setara minuman teh di warung. Dengan kepraktisan urusan ekonomi model booth membuat perjuangan ini lebih mudah dijangkau. Harga per- gelas dibandrol Rp.3000- 5000 bukan pukul 08.00- 21.00. Jika jualan Thamrin bisa menjual 900 cup gelas per- hari dengan omzet Rp.900.00 per- hari.

"Yang paling banyak diminati pelanggan yaitu varian rasa original tea dan milk tea," terang Thamrin.

Paket investasi antara Rp.2 juta hingga Rp.4 jutaan. Dengan peralatan yang telah disediakan oleh pihak Your Tea. Menariknya kontrak kerja bersifat selamanya dan tidak ada royalti fee. Hanya saja kau wajib membeli materi baku dari Thamrin.

Agar lebih menarik banyak calon mitra. Thamrin memiliki kelebihan soal pinjaman suport. Jika pengusaha biasa cuma melihat konsumen tetapi Thamrin lebih. "Saya juga akan membeberkan cara menjalankan urusan ekonomi teh kepada mitra," Thamrin menjelaskan. Ada panduan lengkap berbentuk e-book buat kau sebagai mitra.

Waktu balik modal menurut Thamrin tergantung pada cuaca dan lokasi. Kalau sukses mitra dapat kantongi omzet Rp.9 juta per- bulan yaitu menjual minimal 100 gelas saja. Finalis Wirausaha Muda Mandiri ini yakin bahwa tehnya memiliki kelebihan.

Bisnis teh Thamrin memiliki segmen luas, tidak tergantung kelas ekonomi, tidak umur, ataupun jenis kelamin jadi ceruk pasarnya luas. Lokasi juga gampang sebab sifatnya booth. Makara kau bisa jualan di pinggir jalan sebab mudah dibawa- bawa.

Selain menunjukkan peluang investasi ke banyak orang. Thamrin juga berinvestasi ke dirinya sendiri. Yakni ia hidup sebagai vegetarian. Dia juga menjadi pembicara aneka macam program kewirausahaan. Dia pernah menjadi ajudan dosen di kampusnya juga loh. Pria perfeksionis ini sudah 10 tahun lebih menjalani hidup cuma makan sayur.

Thamrin juga ketua Indonesian Vegetarian Society (IVS) cabang Bogor. Dia tertarik akan investasi properti dan emas. Ia kemudian melanjutkan kuliah pasca sarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor. Pria yang dikenal dengan motonya "Never Give Up" mengajak kau menjadi wirausaha muda juga, yuk.
Read More

Contoh Sukses Warung Pecel Bu Wied Barokah

Profil Pengusaha Wiedyanti 


 
Tidak semua perjuangan keluarga berjalan lancar. Beberapa anak memilih membuka perjuangan sendiri, tidak maunya meneruskan perjuangan keluarga. Beberapa orang terpaksa menjalankan amanah tersebut. Namun tidak sedikit orang nrimo menjalankan perjuangan keluarga sebagai bakti maupun passion.

Panggilan hati Wiedyanti melanjutkan perjuangan keluarga. Wanita 56 tahun ini merupakan anak pemilik perjuangan pecel asli Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Nama perjuangan Warung Pecel Bu Wied, sebab dijalankan penuh ikhas oleh Wiedyanti jadinya perjuangan tersebut makin moncer.

"Ya, saya pilih pecel sebab disamping tradisional juga sayuran kan lebih banyak peminatnya," ujar ia terang singkat.

Meneruskan perjuangan ibu bukan berarti tanpa modal. Berkisah ia mengeluarkan uang Rp.500 ribu. Ibu empat putra ini telah bisa mengantungi Rp.7 juta hingga Rp.10 juta per- bulan. Untung memang banyak yah ia menyebut sebab harga sayur tidak terlalu mahal.

Kualitas bumbu kacang pecel Bu Wied memang legit. Itulah kenapa pelanggan akan kembali apalagi harga murah. "Yang penting semuanya senang, pelanggan balik lagi," tandasnya.

Dia sendiri tidak mau untung sendiri. Wied menerima pemberian banyak orang. Saking ramainya ketika hari libur ia dibantu lima orang. Kalau hari biasanya Bu Wied cuma dibantu dua orang karyawan. Kalau di hari biasa memang tidak begitu ramai. Tetapi sebab enak pelanggan pastilah akan balik lagi.

Rahasia urusan ekonomi pecel


Sebagai pengusaha perjalanan Wied memang tidak gampang. Dia berkisah pernah mengalami masa dimana tidak ada pembeli. Susahnya mencari pelanggan pernah dirasakan dia. Wied cuma berdoa kepada Yang Mahakuasa biar diberi kesabaran serta kesuksesan nanti. Bertahap perjuangan sederhana itu mulai membenahi diri mengikuti arus.

Warung Pecel Bu Wied terkenal rasanya. Berkat kegigihan dan selalu menjaga pelanggan, membuat Bu Wied bisa menguliahkan dan menyebabkan putra- putranya pegawai negeri. Dia begitu terharu dari cuma jualan pecel bisa menghantarkan anak- anaknya mapan.

Tiga putra Bu Wied menjadi pegawai negeri sipil. Sementara satu lagi memilih membantu ibunya berjualan. Mungkin yang satu ini lebih berminat ke dunia wirausaha. Mereka yang menjadi PNS bertempat di Medan, Kalimantan dan Jakarta. "Mereka suka pulang kesini," tuturnya terharu.

Prinsip perjuangan Bu Wied ialah demi keluarga. Dia bekerja sekuat tenaga biar anaknya jadi orang. Tidak apa jikalau ia tidak bersekolah tinggi asalkan anaknya sukses. "...anak- anaknya bisa kuliah semua, bisa sukses. Saya kadang- kadang enggak percaya, kok bisa ya," imbuhnya.

Ia mengingatkan pengusaha muda bahwa tidak ada perjuangan sia- sia. Terpenting bagi pengusaha menurut ia ialah harus ulet, ikhlas, dan jujur, maka akan dimudahkan segalanya. Menurut Wied tidak ada perjuangan sia- sia. Asal kita mengikuti tiga kunci diatas -ulet, ikhlas, dan jujur- maka perjuangan akan berjalan sesuai arahnya.

"Kalau moda bisa dicari kan, kalau kitanya ulet," imbuh dia.

Usaha sederhana untung banyak

Pelanggan Wied kabanyakan warga sekitar. Jadilah pastikan perjuangan kau bersahabat dengan daerah keramaian. Ia menuturkan perjuangan buka pukul 08.00- 09.00 wib kalau dihari biasa dan pukul 06.00 kalau final pekan. Untuk konsep urusan ekonomi ditawarkan Bu Wied terbilang unik dan modern.

Dia menawarkann konsep prasmanan. Tujuan ia biar pelanggan tidak ribet dan ia enak. Pembeli sesuai selera bisa memilih sesuai selera. Kalau ia pilihkan terkadang malah dibuang. Mubazir katanya,  terbukti dari konsep prasmanan membuat perjuangan Bu Wied lebih menonjol.

Pembeli tidak mengeluh hingga ketika ini. Kualitas kuliner Bu Wied memang jos gandos. Kebanyakan sudah jadi pelanggan tetap pecel Bu Wied. "Saya menjaga mutu, harga naik tidak apa- apa yang penting mulutnya terjaga," imbuhnya. Biarkan saja produk kau naik sesuaikan modal tanpa mengurangi cita rasa.

Takaran bumbu tidak berubah meski harga cabe naik, misalnya. Wied tidak pernah mengurangi takaran dari bumbu pecelnya. Namun ia tetap berharap harga tetap stabil tidak berubah. Tujuannya biar memudahkan ia menentukan harga tidak merepotkan.

Kadang naik- kadang turun membingungkan Wied. Dia sendiri susah menaikan meski kenaikan tidak dapat dihindari -kualitas merupakan nomor satu. "Kalau jualan gini kan enggak bisa naiki harga sembarangan," ia menutup.
Read More