Sukses Konveksi Seragam Sekolah SD Berkah

Profil Pengusaha Munawaroh Abdul Fatah 


 
Penjahit juga bisa sukses. Serta jangan pernah memandang sebelah mata profesi penjahit. Inilah kisah dari satu pengusah konveksi sukses. Namanya Munawaroh Abdul Fatah. Ibu empat anak berhasil mesejajarkan dirinya dengan pengusaha konveksi kenamaan. Penjahit bukanlah pekerjaan bergairah tidak menjanjikan.

Dibalik bangunan megah daerah Kuningan, Jakarta, ada seorang wanita paruh baya, sukses mendulang untung dari berbisnis konveksi. Dia yaitu penjahit. Penghasilnya sudah besar alasannya sudah menjalankan urusan ekonomi ini semenjak 1984.

Dia sedikit dari banyak pengusaha bisa melewati animo resesi. Sudah menjalankan profesi penjahi semenjak tahun 84. "Tadinya cuma jahitan biasa buat orang kampung," tutur dia. Mendapatkan pembinaan maka beliau sekarang bisa menjadi pengusaha konveksi.

Bisnis bertahap


Ia mengisahkan, himpitan ekonomi menjadi alasan utama. Perempuan kelahiran 22 Juli 1968 ini kemudian mencar ilmu menjahit. Dia lantas menjadi penjahit. Semua alasannya beliau mau sekolah terus lanjut berkuliah. "Eh tapi sayangnya enggak jadi kuliah alasannya keburu menikah," tambah dia.

Alhamdulillah sekolah Muna final berkat bekerja menjadi penjahit. Dari hasil menjahit pula dapat memberi uang komplemen buat suami. Alhasil beliau mamp menyekolahkan hingga menguliahkan. Berlanjut beliau kemudian menggeluti menjahit seragam sekolah.

Keberuntungan makin terlihat menggeluti urusan ekonomi jahit seragam sekolah di tahun 1996. Lalu beliau melanjutkan membuat baju ibu pengajian, kemudian menjahitkan seragam sekolah dari SD hingga ke SMA. Inspirasi jadi penjahit selain alasannya faktor ekonomi, Muna senang melihat baju- baju bagus, sayangnya tidak sanggup beli.

Dia terinspirasi baju- baju bermodel cantik. "...terus kepingin... Yaudah aku mencar ilmu jahit," kenang dia. Muna mau menjahitkan tetapi tidak punya uang cukup.

Kini delapan sekolah mempercayakan seragamnya ke Muna. Omzet per- tahun disebutkan mencapai Rp.40 juta bahkan hingga Rp.50 juta. Selain omzet pertahunan juga menerima omzet bulanan teratur. Omzet tertinggi yaitu Rp.50 juta datang dikala ada tahun fatwa baru.

Omzet bulanan mencapai Rp.3 juta hingga Rp.5 juta. Jika berbicara desain, wanita yang diperistri oleh Juru Sita Pengadilan Agama ini, menuturkan desain asli buah pemikiran dia. Bahkan beliau menceritakan desainer sekalas Kanaya Tabitha pernah menjahit kepadanya.

Dia pernah menerima pesanan mantan Menteri Perekonomian Orde Baru, Pak Ali Wardhana. "... dan Kanaya Tabitha waktu belum terkenal," ujarnya bangga. Ketekunan merupakan kunci sukses Muna hingga bisa ibarat sekarang. Pantang menyarah apapun bisnisnya, halangan mewarnai, kau harus menyikapinya baik.

"Tantangan mah selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapi saja," tutup dia.
Read More

Inspirasi Mengajari Anak Sholat Berbuah Bisnis

Profil Pengusaha Nenden Nurjanah



Inspirasi mengajarkan anak sholat berbuah manis. Dari sekedar pandangan gres dadakan berkembang menjadi urusan ekonomi sukses. Inilah dongeng Nenden Nurjanah (29 tahun), pengusaha pembuat sajadah khusus anak. Sajadah lucu dibuat khusus supaya anak tertarik mau sholat. Warna- warna ngejreng mengambarkan keceriaan sesuai dunia anak kita.

Meninggalkan urusan ekonomi semula mereka yakni pembuatan boneka. Berawal dari perjuangan milik keluarga berjulukan Panda Berdikari semenjak 1982. Yang semenjak tahun 2005 mulai bergeser ke boneka peraga, khusus anak usia dini PAUD dan TK. Hingga tahun 2009 sepenuhnya berbisnis sajadah hingga sekarang.

Permintaan boneka menurun menjadi alasan lain. Berbekal materi membuat boneka yakni materi katun serta diadora. Jadilah Nenden membuat aneka sajadah bermotif lucu. Sajadah bermotif kartun Thomas Kereta Api, Cars, Upin & Ipin, Angry Bird, serta motif buatan sendiri baik bertema binatang, tanaman, atau alat transportasi.

Total ada 40 motif diedarkan ke pasaran. Nenden dibantu delapan bekerja dan bertambah kalau masuk empat bulan sebelum Lebaran.

Bisnis mengajar


Usaha berjulukan Nafeesa Kids ini bukanlah tanpa hambatan. Nenden sendiri mengaku tidak bisa jahit. Lalu ia mengajak sang suami bersama memulai dari nol. Dengan meminjam pegawai perjuangan keluarga, Nenden bersemangat menyambut pagi. Sang suami sendiri ikut membantu desain dan memproduksi.

Perempuan asli Bandung ini memang menyukai dunia anak. Sebagai pengajar baginya mengajak anak buat sholat harus semenjak dini. Melalu urusan ekonomi ini dijadikan cara terbaik mengajar anak. Harga sajadah dibandrol itu seharga Rp.80 ribu hingga Rp.100 ribu.

Adapula berbentuk paket sajadah dan sarung seharga Rp.150 ribu. Kemudian adapula satu paket sajadah dan juga mukena seharga Rp.220 ribu.

Dia mengajak keluarga. Dibantu adik memasarkan produk ke banyak sekali penjuru. Untuk pemasaran utama ia fokus menggunakan sosial media, menyerupai Facebook, Twitter, WeChat, dan BlackBerry Messanger. Melalui pemasaran jejering sosial produknya menyebar ke seluruh penjuru Indonesia.

Tidak cuma disitu, ia juga merambah pasar luar negeri, utamanya pasar negara tetangga Malaysia. Meski sudah tersebar masih belum puas. Nenden mengakui penyebaran produk Nafeesa Kids masih belum merata. Dia sekarang ini lebih fokus ke membenahi sistem ditribusi supaya produk sajadahnya merata.

Kunci sukses pengusaha ibu dua anak ini. Dia menyebutkan ada di kualitas produk. Menomor satukan soal kualitas produk memang wajib. Baginya konsumen tidak boleh kecewa begitu mendapatkan barang. Kunci ini dibawa hingga sekarang ia menghasilkan omzet puluhan juta.

Bayangkan di bulan Ramadhan menghasilkan Rp.90 juta sebulan itu. Sedangkan buat sehari- hari, Nenden bisa mengais omzet Rp.40 juta hingga Rp.50 juta. Dimana ia mengaku margin keuntungan mencapai angka 50% atau Rp.20- 45 juta per- bulan.
Read More

Tempat Makan Mahal Bercita Rasa Seni Tinggi

Profil Pengusaha Dara Setyohadi 


 
Muda dan bagus serta memiliki jiwa seni tinggi. Dara Setyohadi memiliki banyak prestasi. Didukung oleh kreatiftas membawa gadis kelahiran 18 September 1988 ini, memiliki kerajaan urusan ekonomi sendiri. Dari urusan ekonomi Hyde Restaurant & Bar, Maison Ten- Ichi, ARDS Studio, Gaia Tea & Cakes, dan Y&D Stylist Dinnerware.

Untuk urusan ekonomi terakhirnya yakni Y&D Stylist Dinnerware memang berbeda. Dia berkolaborasi dengan sang mama, Yulie Nasution Grillion, istri duta besar Paraguay untuk Indonesia. Perempuan bagus anggun berjulukan lengkap Adindara Jelita Setyohadi ini fokus di bidang interior dan arsitektur.

"Mama bilang, kalau saya udah suka seni semenjak kecil," lanjutnya. Sejak TK pun, Dara sudah dikenal jagonya menggambar. Masuk SMA tahun 2006, memilih melanjutkan kuliah ke jurusan seni interior dan arsitektur di Lasalle Collage of the Arts Singapore. Dan tahun 2012 ia sudah menyandang gelar S2 untuk jurusan sama.

Sudah lulus kuliah tinggal bekerja. Dara seharusnya mudah mendapat pekerjaan. Ibu Dara dikenal memiliki perusahaan sendiri. Namun, ia memilih mandiri, wanita yang suka main piano ini memilih bekerja di galeri seni selama dua tahun di Singapore.

Di Indonesia, ia memilih bekerja menjadi pegawai di perusahaan interior. Selama enam bulan, kemudian ia menerima proyek sendiri berbekal pengalaman dan kecerdasan. Kreatifitas mendorong ia membuka satu perjuangan yang sama dengan milik mama.

Selain bekerja Dara dikenal sebagai pemain piano. Tidak sekedar hobi tetapi dilanjutkan mengikuti aneka kejuaraan. Dia menerima nilai tertinggi buat konser piano Yamaha tahun 2000, 2002, 2004, dan 2005.

Bisnis bersama


Dia tidak suka bekerja sendiri. Ia mengajak sahabat mengerjakan proyek. Termasuk bekerja sama dengan mama sendiri. "Aku banyak berguru urusan ekonomi dari mama, jadi kenapa saya enggak coba berpatner sama mama," jelasnya.

Karena passion mereka sama di bidang desain painting. Jadilah urusan ekonomi berjulukan Y&D Stylist Dinnerware, membuat desain buat kawasan teh, kopi, atau perlengakapan makan ekslusip. Mereka pun memecahkan satu rekor MURI yakni "Kolaborasi Pertama di Indonesia Antara Ibu & Anak di Atas Porceline", sebuah karya seni.

Selain urusan ekonomi Y&D Stylist Dinnerware, ia bersama beberapa sahabat membuka perjuangan berjulukan Hyde. Yang mana menjadi kawasan nongkrong keren menyalurkan kreatifitas.

Untuk urusan ekonomi masakan sendiri Dara mengaku cukup kesulitan. Sudah bangun semenjak 2013 silam dimana banyak orang bergabung. Banyak huruf bercampur layaknya bumbu. Komplain sudah menjadi biasa, yang dapat ia lakukan cuma merubahnya menjadi bumbu memperbaiki kualitas pelayanan.

"Kadang mampu menjadikan stress, tetapi dikala itu berhasil menjadi kepuasaan tersendiri," ujarnya merujuk kepada urusan ekonomi Hyde Restaurant and Bar.

Menjadi pemilik perjuangan maka lingkungan dibuatnya senyaman mungkin. Bukan cuma buat dirinya tetapi juga bagi karyawan. Wanita penggemar lukis ini sangat memperhatikan kesejahteraan mereka. Baginya mereka merupakan pilar urusan ekonomi mereka semenjak dirintis.

Dara cuma mau apa adanya. Harus fleksibel soal bagaimana memanajeri karyawan. Ia melanjutkan bahwa ini merupakan bisns kreatif tidak mampu saklek. Dia harus memiliki komunikasi dua arah.

Selain dua urusan ekonomi diatas juga ada Yulindra Gallery. Menampilkan hasil painting ia keseluruhan. Salah satu proyek terbaik Dara yaitu melukis tas Harmez bersama mama. Dia sendiri diminta pribadi oleh rumah mode Lotuz bersama @hunt_street. Tujuan awal proyek tas Harmez ini sendiri yaitu untuk program lelang amal.

Bukan perkara mudah lantaran medianya kulit. Apalagi kulitnya hitam tidak mudah menempelkan warna. Dia kemudian mempostingkan itu ke Instagram. Alhasil selepas program Dara menerima banyak orderan. Dia sendiri tidak dapat menolak sebab mereka orang dekat.

Keduanya benar mengambil rasiko. Bayangkan tas Harmez harganya mencapai ratusan juta. Soal melukis di kulit keduanya sempat berlatih dulu.

Bisnis ekonomi kreatif


Yuli, sang mama, dan Dara sudah dikenal sukses melukis porselin. Dimana kita tau mereka melukis di atas media keramik. Bedanya sekarang, mereka melukis di atas Hermes Birkin, yang mana itu merupakan wujud dari kelas pemiliknya. Harga tas ratusan juta sempat membuat keduanya nerves buat melanjutkan melukis.

Disisi lain, Dara bersemangat apalagi 100 persen hasil lelang akan disumbangkan ke Sampoerna Foundation, yang mana akan digunakan buat anak- anak Indonesia. Dia bersemangat sebab belum pernah melukis ibarat ini sebelumnya. "...saya cukup puas dengan hasilnya. Semoga banyak yang suka," tutur Dara.

Mereka melukis bunga tulip, mawar, dan jasmin, yang warnanya menonjol dan memiliki gradasi tepat dengan latar belakang kulit hitam. Harga lelang di Gala Fashion Show tanggal 22 Maret 2016 mencapai nilai Rp.260 juta atau dua kali lipat dari harga sebenarnya.

Pengusaha bagus ini mengendalkan jiwa seni tinggi. Yuliandra Gallery memajang peralatan makan dengan seni lukis diatas. Produknya memang bertaruh pada nilai artistik. Yuliandra memproduksi berdasarkan tema, sebut saja bunga tulip atau Blooming Blossom, lalu ada tema bunga jasmin.

Dia bekerja sebagai Painting Artist dan Art Director di perjuangan sang mama ini. Dia bertanggung jawab atas hal desain buatan tangan. Inilah kenapa terlihat ekslusip diburu kolektor. Bahan baku juga dibuat khusus jadilah ini tidak cuma melukis diatas benda.

Sebut saja Yuliandra pernah menerbitkan koleksi ke- 3 menggunakan materi bone china. Peralatan makan ini disebutkan Dara menggunakan sahabat jasmin. Tidak cuma mendesain ataupun dilukiskan. Dara dan usahanya juga menunjukkan kesempatan buat menatakan ruang pembeli. Tujuannya biar selaras dengan dinnerware karyanya.

Bone china merupakan sebutan bahan. Katanya lebih baik dibanding keramik ataupun porselin. Bahan yang ringan tetapi tidak mudah pecah -jika tidak dibanting. Harga per- set dinnerware naik hingga Rp.1.500.000 per- set. Butuh waktu 4- 5 bulan untuk membuat satu setnya. Sedangkan porselin diharapkan 2- 3 bulanan.

Agar pembeli lebih tertarik ada kekhususan. Dia mengaku per- tema cuma akan dibuat tidak lebih dari 1.000 buah. Sebagai pengusaha muda, tidak sekedar khusus orang tertentu, ia memiliki hasrat biar lebih banyak orang memakai. Itulah ada lini ke dua, satu perjuangan fokus memproduksi besar- besaran buat masyarakat.

Meski berarti bersaing dengan produsen masif peralatan makan umum, tidak takut Dara buat hadapinya. Dia yakin karya miliknya cocok buat mereka pecinta seni. Dia fokus di barang yang tidak ada duanya di pasaran. Berkat visi dan ambisinya mulai banyak pihak hotel dan restoran tertarik akan karya Dara, mulai piring,cangkir teh dan kopi.
Read More

Jual Ikan Lele Asap Piko Resign Pegawai Bank

Profil Pengusaha Al Iskandariah



Ide urusan ekonomi terkadang terinspirasi perjuangan lain. Kalau ada ikan bandeng diasap, kenapa tidak kita membuat itu dengan materi ikan lele. Mungkin ini dibenak Al Iskandariah, cowok 26 tahun asal Jambi yang mengaku beliau berhenti menjadi pegawai Bank buat berjualan ikan lele diasap.

Jika umumnya pecel lele digoreng kini tersedia diasap. Pengusaha ikan lele asap ini mengatakan rasa disuguh berbeda. Menjadi wirausaha dianggapnya memilik tantangan. Idenya datang sendiri. "Jadi lelenya diasapkan, di- smoke," imbuh cowok yang bersahabat dipanggil Piko.

Pemuda kelahiran 28 Februari 1988 memiliki cara pengasapan sendiri. Ia menyebutkan butuh 2 hari atau 2x 24 jam tetapi kemudian dioven. Pertama diasapkan bawahnya pakai asap kayu bakar. Menggunakan asap berpanas 40- 50 derajat celcius. Tetapi jangan hingga ada baranya terperinci Piko menjelaskan lebih.

Dia menambahkan jangan kayu sembarang kayu. Piko mengisyaratkan kayu dari pohon buah manis ibarat buah rambutan. Kalau memakai kayu sembarangan maka rasanya tidak akan sama. Rasa cenderung pahit rasa ikan lele tersebut. Sayangnya, kayu ibarat ini susah dicari, lantaran penebangan buat lahan dan pabrik.

Di Jambi menurut Piko memang susah di Sumber Daya Alam. "Kita perlu kayu, tetapi kayu langka," jujur dia. Modal awal usahanya hingga Rp.20 juta. Dimana untung beliau raup mencapai Rp.40 jutaan sekarang.

Kedepan, beliau berharap kemasan lebih bagus, jadi lele asap buatanya mencapai pasar modern. Caranya yaitu mengemas lebih berwarna dan menarik. Ia percaya diri akan mencapai pasar modern. Dia tidak tanggung keyakinan tersebut sudah dimulai dengan proses pengemasan. "...Insyaallah 3 bulan kedepan," tuturnya.

Dia rela melepaskan pekerjaan di perusahaan milik pemerintah. Bermodal tabungan Rp.20 juta dimulailah ia bekerja sendiri. Memang di benak Piko menjadi pengusaha lebih untung. Kini keberanian Piko terbayar dari keuntungan lebih tinggi dibanding gajinya dulu. Potenis urusan ekonomi lele dirasa memiliki potensi besar kalau serius.

Ia membeli lahan kemudian oven. Peralatan terpenting menurutnya ialah oven besar buat mengeringkan. Ia mengatakan fungsi oven buat menyempurnakan proses pengeringan. Ini dikatakan Piko sebagai ganti dari pengeringan lewat sinar matahari.

Cara Piko memang berbeda dan terbukti efektif. Fungsi pengeringan buat mengurangi kadar air ikan lele segar. Proses pengasapan sendiri butuh waktu 5 jam. Proses pematangan akan memunculkan aroma khas menggugah selera. Ikan lele asap akan terlihat mengkerut. Dia pun memiliki taktik menjual tersendiri lagi.

Ia mencoba membangun lele asap menjadi ikon Jambi. Dijualnya melalui toko oleh- oleh khas Jambi. Dia mempromosikan sebagai makanan ikonik budaya daerah. Dia membuat lele asapnya seolah harus dibeli jikalau kita mampir ke Jambi. Memang keraguan akan produk buatan rumah buatan Piko ada.

Tetapi beliau menjawab keraguan tersebut. Dia sekarang membuat kemasan bersih, higenis, dan menarik buat ditenteng. Cara ini menjadi andalan semoga meyakinkan bahwa lele buatanya sehat dan bersih. Tidak ibarat hal ikan asap dipajang di pinggiran jalan. Cara kemasan juga digunakan untuk membuat tahan lebih lama lagi.
Read More

Bakso Rumput Laut Mahasiswa Maha Bakso

Profil Pengusaha Zaenal Arifin dan Mohamad Haiba 



Bosan akan bakso itu- itu saja. Zaenal Arifin bertekat membuat perbedaan mencolok. Bersama rekannya sesama mahasiswa, Mohamad Haiba, mengembangkn bakso berbahan rumput laut. Tidak cuma sebatas itu, mereka lantas membuatkan bakso kelapa muda. Jika dilihat bentuknya tidak berbeda sama- sama bulat.

Bakso buatan Zaenal tidak sekedar daging sapi. Tambahan rumput laut menimbulkan bakso makin gurih. Dia juga punya senjata lain yaitu bakso jamur. Berkat wangsit kreatif dua orang mahasiswa bisa meraih omzet mencapai Rp.13 juta.

Mahasiswa salah satu Universitas Swasta asal Jombang. Bermodal semangat kewirausahaan membuka satu gerai bakso di Jalan Raya Ceweng No.9, Kecamatan Jombang, Jawa Timur -depan SPBU Ceweng. Kedai bakso buka pukul 10.00 pagi hingga 10.00 malam.

Cara membuat bakso umum. Bedanya ditambah banyak sekali bahan, termasuk rumput laut, kelapa muda, dan juga jamur kecil- kecil. Semua dicampur bareng menjadi satu adonan. Rebus hingga matang hingga dapat dihidangkan.

Kesan bahwa materi baku biasa tetapi luar biasa. Para pengunjung mengaku senang bakso buatan Zaenal. Ia menyebut rasa rumput laut, kelapa muda, dan jamurnya bukan tempelan. Belum ada duanya di Indonesia kali yah. Sebagai mahasiswa keduanya mengaku senang dapat berbisnis sambil tetap berkuliah.

Berjalan hingga 1,5 tahun usahanya stabil. Rata- rata omzet Rp.13 juta selalu diraih. Gerai bakso yang lantas diberi nama Maha Bakso memang beda. Tambahan gerai milik keduanya memakai konsep lesehan. Konsep yang fokus menjadi daerah istirahat apalagi posisinya strategis arus mudik.

Di daerah ini dibutuhkan bisa menjadi daerah istirahat, meeting, ataupun sekedar ngobrol. Nuansa dibikinnya senyaman mungkin bermodal televisi laya datar dan alunan musik menghibur. Kedua mahasiswa ini masih mau terus berkreasi menciptakan materi bakso lain, yang tidak melulu menggunakan materi daging sapi.
Read More

Dilarang Usaha Aqiqah Tetap Ngotot Hasilkan Ratusan Juta

Profil Pengusaha Teguh Arif Hidayat 


 
Menjadi pengusaha muslim perjuangan apa terbaik. Apalagi kalau bukan perjuangan aqiqah. Ini salah satu pedoman yang disunahkan umat muslim. Bayangkan 4,5 juta bayi terlahir dan beraqiqah menjadi sunahnya. Dan banyak umat muslim mulai sadar pentingnya beraqiqah. Di masa sekarang aqiqah tidak lagi rumit banyak kemudahan.

Banyak pengusaha aqiqah bermunculan. Dari pengusaha veteran hingga yang pengusaha muda sukses. Salah satu pengusaha veteran dibidang aqiqah yakni Teguh Arif Hidayat. Tahun 2007 silam, dirinya mulai berbisnis aqiqah berjulukan As Shidiq. Kala itu mencari lembaga pemberi layanan aqiqah tidak semudah sekarang.

Ia harus mencari kambing atau domba sendiri. Saking sulitnya mencari, hingga Teguh menerima kambing dari kawasan Priuk, Jakarta Utara. Disitulah wangsit mengenai perjuangan aqiqah terbentuk. Kenapa tidak beliau memberi layanan penjualan sekaligus pengolahan menjadi satu, sebuah urusan ekonomi profesional menyerupai sekarang.

Uang tabungan sebesar Rp.750 ribu dijadikan modal. Taguh lantas membeli beberapa peralatan memasak dari kompor dan penggorengan. Uniknya kambing dan domba gres dibeli setelah ada pesanan. Jadilah Teguh mulai memberikan perjuangan aqiqah tanpa kambing.

Sukses nekat


Strategi urusan ekonomi Tegus mudah kok. Dia eksklusif membagi brosur. Mencetak brosur mengenai usahanya lantas menempelkan di tempat strategis. Paling menarik iyalah Teguh menitipkan brosur ke apotik. Kemudian beliau juga memberikan informasi kepada rekan kerja, tetangga, dan saudara.

Untuk layanan tambahan, beliau mendobrak lewat cara mencicil kambing. Ini dapat mempermudah masyarakat menyiapkan aqiqah anak jauh hari. Nilai angsurang diubahsuaikan harga hewan ditambah perkiraan kapan si calon bayi lahir. Hasil layanan tersebut terbukti manjur. Bulan pertama berbisnis beliau menerima 7 pesanan kambing.

Pada bulan kedua beliau menerima 12 ekor. Bulan ketiga menerima pesanan hingga 20 ekor. Usaha beliau jalankan membaik membuat rekan kerja Tegus ikutan. Dia memberikan suntikan dana modal Rp.5 juta ke Teguh. Rekan kerja Teguh itu juga membuktikan tempat pemasok kambing dan domba asal daerahnya.

Semenjak itu pula perjuangan dijalankan Teguh makin berkembang saja. Sukses bukan berarti ia lekas puas akan hasilnya. Dia ngebut membeli lahan untuk dibangun rumah 3x5 meter sebagai dapur dan kandang. Rumah yang terletak di bilangan Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Rumah tersebut dijadikan tempat penggemukan kambing. Tempat pemotongan kambing sekaligus dimasak di sana. Teguh yakin akan kualitas nomor satu selalu punya cara meningkatkan itu.

Cara meningkatkan layanan menyerupai membuat varian masakan. Aqiqah berjulukan As Shidiq ini memiliki aneka menus menyerupai tongseng, gulai semur, kare, dan lainnya. Untuk kambing atau domba orang bisa datang ke tempatnya buat memilih langsung. Pembeli juga bisa melihat proses penyembelihan langsung.

"Ada bonus buku risalah akikah dan kalau diharapkan dokumentasi hewan," ia tambahkan.

Memang inovasi layanan selalu diberikan Teguh. Bahkan beliau sudah masuk ke ranah internet lewat website milik sendiri www.akikahmurah.com. Dimana beliau memberikan tipe layanan akikah. Juga termasuk harga kambing atau domba dijual serta aneka promosi lainnya.

Informasi lain juga berupa edukasi wacana aqiqah. Dia mengedukasi calon konsumen sehingga tidak salah memilih. Namun startegi melalui internet bukanlah taktik utama. Kesuksesan aqiqah As Shidiq memang dari offline. Dimana 90 persen konsumen gres merupakan hasil rekomendasi pelanggan.

Sukses layanan


Memberikan layanan satu atap membuat aqiqah lebih menarik. Berbeda kalau dulu dimana orang harus cari sendiri kambing ditambah masak sendiri. Konsep one stop solution dianggap lebih murah, serta gampang buat dijalankan, maka pelanggan tidak perlu khawatir kehabisan waktu buat aqiqah.

Pelayanan terbaik selalu diberikan Teguh. Dia sendiri bisa menjual hingga 750 ekor kambing atau domba per- bulannya. Mengejutkan omzet diraup Teguh telah mencapai Rp.750 juta. Untung kotornya hingga 20- 30 persen dari harga satu kambing yakni Rp.600 ribu hingga Rp.1 juta.

Teguh sadar membuka perjuangan aqiqah berarti ibadah. Makanya beliau lebih memilih menyasar masyarakat kelas menengah bawah. Ini ditunjukan dengan fasilitas membeli kambing atau domba lewat angsuran. Dia ingin mengedukasi bahwa aqiqah bisa murah. Orang Islam bisa mengikuti sunah tanpa khawatir soal uang lagi.

"Selama ini persepsinya aqiqah mahal, padahal tidak," imbuh dia. Dia bahkan menyebutkan uang Rp.400 ribu sudah dapat kambing dan diolah secara syar'i. "...umurnya cukup dan sehat," tambahnya.

Seiring kemajuan perjuangan aqiqah, pria penghobi baca ini melebarkan sayap ke urusan ekonomi lain. Seperti katering dan restoran khusus kambing atau domba. Semua alasannya yakni seruan konsumen sudah terpenuhi. Ia menambah lagi bahwa urusan ekonomi katering sejalan urusan ekonomi aqiqah. Berarti orang dapat memasakan ke beliau eksklusif tanpa repot.

Dia juga menyiapkan peralatan makan lengkap. Jadilah orang tinggal cari tempat buat program aqiqah dan isi semua ditangani As Shidiq aqiqah. Semua makanan tinggal dihidangkan ke pengunjung program aqiqah. Untuk perjuangan resto dibuka di JL. Ciledug Raya, Petukangan Selatan. Menu disajikan sate kambing dan domba beliau sendiri.

Walaupun terlihat biasa, restoran dihadirkan Teguh, menurut klaimnya memiliki cita rasa berbeda. Dimana beliau menyuguhkan sate barbeque, saos padang dan lada hitam. Suami dari Nurlela ini memang memiliki semangat wirausaha tinggi. Dia bahkan tengan mengkonsep sistem kemitraan modal biar usahanya makin menyebar.

Dia tidak memilih waralaba atau franchise. Dia lebih memilih ke sistem pendanaan bersama. Join venture mungkin istilah sempurna buat usahanya. Dari pihaknya yang akan mengelola sementara kesudahannya bagi hasil.

Dilarang jadi pengusaha


Kisah sukses Teguh bukanlah tanpa hambatan. Orang renta mana mau anaknya jualan kambing. Padahal beliau sudah disekolahkan tinggi- tinggi hingga kuliah. Padahal beliau bekerja di perusahaan sekelas Nokia. Ganjalan hati tersebut sempat membuat usahanya agak tersendat. Apalagi saat beliau memutuskan keluar dari perusahaan.

Orang renta mana mau anaknya bergaji tinggi kini jualan kambing. Pilihan sulit diambilnya di tahun 2008 tetapi beliau sudah melihat arah bisnisnya. Dalam benaknya ada kegamangan antara membesarkan perusahaan orang lain atau menjadi pemilik usahanya sendiri. Waktu itu seruan kambing aqiqah sudah meledak butuh beliau disana.

Butuh seseorang buat menjalankan perjuangan aqiqahnya. Dia sendiri harus turun tangan. "Tidak enak juga kalau harus sering terlambat ke kantor. Apalagi tanda tangan aku diharapkan untuk mengambil suku cadang," ia mengenang. Orang renta eksklusif protes mempertanyakan keputusan Teguh keluar dari kantor.

Masuk logika alasannya yakni berkat orang tua, Teguh bisa lulus kuliah jurusan ekonomi di Universitas Budi Luhur, beliau ingat betul kedua orang tuanya bekerja keras banting tulang. Tetapi beliau tetap yakin ngotot melanjutkan perjuangan di bidang aqiqah ini.

Dia membuktikan bahwa jualan kambing bisa sukses. Bahkan dari usahanya kini, Teguh bisa mengakat kedua orang tuanya berangkat haji. Dia juga membantu adik hingga kuliah. Tidak perlu khawatir alasannya yakni omzet usahanya sudah ratusan juta dan punya restoran sendiri.

Seiring perjuangan berkembang jumlah pegawai meningkat. Dia memiliki 29 pegawai bekerja. Dia mengambil orang- orang yang minim keahlian. Sebagian besar merupakan buta huruf yang membutuhkan pertolongan.
Read More

Peci Kopiah Anak Bergambar Kartun Untung Jutaan

Profil Pengusaha Ahmad Irwan


 
Kopiah seoalah ditelan masa. Padahal jikalau kita runut kebelakang kopiah merupakan identitas. Tidak ada satu presiden yang tidak memakai kopiah. Seolah sudah menjadi identitas petinggi negara. Kegunaanya tidak lagi berhenti buat sholat tetapi fasion itu sendiri. Inilah nampaknya peluang ditangkap oleh Ahmad Irwan.

Siapa sangka sosok sederhana ini seorang pengusaha. Sukses bahkan katanya nih, Ahmad meraup omzet mencapai ratusan juta. Seperti ditulis di SindoNews dikatakan bahwa beliau mengantongi Rp.500 juta. Atau beliau menjual sebanyak 300 kodi sekali produksi per- bulan.

Bukan sembarang kopiah biasa. Usaha pembuatan kopiah ini menyasar anak- anak. Lewat imajinasi mereka lah pria asal Bogor ini kaya. "Saya ketika itu masih buta soal bisnis," kenang Ahmad, ketika melihat sang ayah sedang menjalankan perjuangan keluarga. Usaha keluarga yang dirintis ayah Ahmad dulu tidak seramai sekarang.

Usaha tersebut dibangun di Gersik semenjak 1970 -an. Kemudian berpindah tangan ke Ahmad alasannya yakni ayah dipanggil Sang Khalik. Waktu itu, tahun 1991, beliau masihlah duduk di kursi Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan waktu itu masih kelas 3 jadilah wajar tidak tau. 

Dia hanya tau perusahaan ayahnya membuat kopiah hitam. Setumpuk- tumpuk kopiah tanpa corak ditumpuk di pabriknya. Anak SMP itu lantas menyerahkan jalannya perjuangan kepada pegawai ayah.

Bisnis mendadak


Lantaran buta soal urusan ekonomi maka wajar beliau dikibuli orang dulu. Dia lalu bercerita pelajaran pertama bisnisnya wacana kepercayaan. Pegawai kepercayaan keluarga malah membuat rugi. Selama berjalan waktu, beliau gres menyadari, bahwa sang pegawai mengalihkan pembayaran klien ke rekeningnya sendiri.

Total beliau kehilangan 30% transaksi bisnis. Menyadari hal tersebut, seketika beliau meminta ijin kepada kepala sekolah buat waktu khusus untuk usahanya. Singkat kisah beliau diijinkan mengurus ke Bank. Dia beri waktu khusus urusan ke Bank, yang mana waktu bukanya dibawah pukul 12 siang.

Memasuki masa SMA, tepatnya dua tahun kemudian, beliau total mengurus perjuangan keluarganya itu. Dan anak sulung dari dua bersaudara tersebut tetap menerima cobaan. Memang berbisnis tidak semudah membalik telapak tangan, ujar pria kelahiran 1974 ini.

Tahun 1998, perjuangan Ahmad terimbas krisis moneter, dimana cobaan sekarang berupa naiknya harga materi baku membuat kopiah. Harga materi baku melonjak tidak dapat ditebak. Kemudian tiga toko biro di Pasar Anyer, Bogor, ketiganya terbakar sekaligus. Rugi besar lantaran barang distok ludes terbakar belum laku.

Krisis moneter membuat Ahmad kehilangan stok. Dia rugi lebih dari Rp.180 juta lantaran barang ludes ikut terbakar. Namun beliau tetap berproduksi bermodal seadanya. Ayah empat anak ini menerima cobaan lain yakni enam tahun selepasnya.

Dua toko milik distributornya di Pasar Tanah Abang terbakar. Kerugian mencapai Rp.100 juta, memang tak sebesar dulu tetapi membuat Ahmad tertekan. Dia sempat stress berat buat berbisnis kembali. Karena kejadian kali ini beliau sempat berhenti berproduksi. Ahmad sempat menjadi pengangguran alasannya yakni tidak ada pilihan.

Rasa takut justru menjadi semangat. Entah menerima inspirasi apa, ia malah bersemangat buat mengambarkan bahwa beliau bisa. Mungkin alasannya yakni waktu itu beliau merasa diremehkan orang. Perasaan dihina justru membuat beliau bersemangat membukitkan, ibarat dikisahkannya dalam artikel tersebut.

"Saya terpacu untuk bangun kerena tidak ingin diremehkan, bahkan oleh keluarga sendiri," kenangnya. Inilah yang membuat proses produksi ditingkatkan.

Untung ada CSR dari Petrokimia menjadi jalan. Uang sebesar Rp.10 juta digunakan buat memproduksi. Dia kembali aktif dan mulai mengikuti sejumlah pameran. Dari sanalah lahir urusan ekonomi UD. Gading Gajah, yang mana produk andalannya NYIL dan Al Ichsan, yang mana bentuk ekspansi urusan ekonomi seorang Ahmad Irwan.

Melalui ekspo beliau mulai memahami selera pasar. Termasuk merencanakan penyempurnaan produk kopiah miliknya. Lankah selanjutnya dalam produksi ialah eksplorasi. Dia merancang kemungkinan buat membuat motif diluar kopiah hitam biasa.

Dia menemukan lebih dari 30 motif. Dia mantapkan diri menggarap pasar anak- anak. Kopiah yang memiliki aneka tema untuk desain motifnya. Ahmad membuat motif klub bola dan abjad kartun. Awalnya beliau cuma mau menarik perhatian saja. Coba- coba beliau melihat pasar dan pembeli meminati toko kartun seperi Naruto.

Dia lantas membuat aneka tokoh kartun. Daya tarik pasar didukung minat anak- anak sekarang. Juga satu kebutuhan akan orang bau tanah buat mendidik anak beribadah. Ia mulai membuat aneka abjad kartun yang beliau liat terbukti digandrungi anak- anak.

Kopiah motif bola juga menjadi primadona bagi pembeli anak- anak. Tidak cuma anak kecil tetapi cukup umur juga punya. Alasan mereka alasannya yakni ingin mengoleksi segala pernak- pernik klub kesayangannya. Mereka ini para kolektor pencari pernak- pernik. Juga dibuat kompak dengan atribut baju koko berkonsep club sama.

Bisnis Ahmad semakin sukses berkat sempurna membidik pasar. Dia memindahkan pasar ke Sumatra dan hasil penjualan meningkat. Ahmad bahkan masuk ke butik loh. Harga jual ditawarkan juga naik alasannya yakni sudah bisa masuk ke butik. Bagaimana beliau sepintar sekarang, bukan lagi kalau tidak alasannya yakni pengalaman bisnisnya.

Semua berawal dari pesanan dari sentra perbelanjaan Sarinah. Wawasan Ahmad terbuka wacana bagaimana cara masuk ke butik. Alhasil sekarang beliau mencetak dua jenis: kopiah buat pasar tradisional dan buat pasar swalayan atau butik.

Bisnisnya tersebar ke Sumatra, yakni Pekabaru, Medan, Palembang dan Batam. Untuk pasarnya di Jawa ada di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Perbulan beliau memproduksi 500 kodi omzetnya mencapai Rp.500 juta. Ia bahkan menyebutkan omzet naik dua kali lipat, utamanya ketika masuk dua bulan menjelang puasa. Dia mendapat Rp.300 juta untuk bulan pahala saja. Nilai omzet segitu jelasnya berasal dari butik mencapai 60 persen dari penjualan.

Harga jual butik dikisaran Rp.600 ribu hingga Rp.1 juta per- kodi. Kalau harga di pasaran tradisional cuma mencapai Rp.350 ribu per- kodi. Ahmad juga tidak seketika memasarkan produk ke suatu tempat. Dia lebih memilih mengamati pasar supaya produknya sesuai.

UD Gading Gajah memilih fleksibel soal produksi setiap bulan. "...supaya sama- sama menguntungkan," imbuh dia. Dia sendiri tidak takut bersaing dengan produk serupa dari produksinya. Ahmad malah besar hati alasannya yakni menjadi penggagas urusan ekonomi kopiah.

Dia meyakini kopiah harus makin kreatif. Supaya tidak ketinggalan ditelan masa. Kunci suksesnya berada di selalu fokus mengerjakan sesuatu. Jangan mengalah ketika ada masalah. Ahmad juga mengingatkan supaya kita selalu kreatif menciptakan trobosan. Harus bisa mengamati produk apa yang disukai konsumen kalian.

Untuk itu beliau bahkan membuat manekin sendiri. "...dan interior ekspo supaya produk terlihat yang terbaik di mata konsumen," imbuhnya.
Read More

Biografi Inspiratif Robert Herjavec Shark Tank

Biografi Pengusaha Juri Shark Tank



Juri Shark Tank satu ini telah menunjukan fakta wacana imigran. Bahwa imigran siapapun bisa merubah nasib. Dan juga bisa merubah dunia tempatnya menetap tinggal. Kelahiran Kroasia, sebelumnya Yugoslavia, 14 September 1962 merupakan pemilik Herjavec Group. Yang nilai kekayaanya naik tetap dari angka $200 juta.

Dia yaitu pengusaha asal Kanada. Seorang investor handal sekaligus penulis buku. Dia semakin terkenal dikala beliau menjadi salah satu juri Shark Tank.

"Terkadang itu terasa kau tidak layak masuk kesana," kutip Herjavec, merujuk kepada keadaanya sebagai orang imigran.

Herjavec tumbuh di Zbjeg. Namun terpaksa meninggalkan negeranya karena sang ayah. Ceritanya bahwa ayah Herjavec merupakan toko vokal. Alhasil, pada umur delapan tahun, tanpa tau sebabnya maka beliau ikut dibawa keluarganya keluar dari wilayah konflik

Satu keluarga kemudian hingga di kawasan berjulukan Halifax bermodal satu koper, dan uang $20. Bagianya ia merasa hidup sangatlah sulit. Waktu itu beliau hanya bocah biasa, yang bahkan tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Transisi hidup memang sulit dimana beliau lantas tinggal bersama nenek di sebuah pertanian.

Merasakan hidup sebagai petani harus mengikuti tradisi sekitar. Diantara tetangga gres yang sama bekerja jadi petani, beliau menemukan fakta bahwa keluarga Herjavec lebih miskin, dimana beliau merasa minder akan hal tersebut untuk bersosialisasi sebagai masyarakat ekonomi lemah.

Dia mengenang sang ayah bekerja di pabrik. Menghasilkan kurang lebih $76 seminggu -atau setara $464,26 kalau tidak terpengaruh inflasi- di 2015. Dia kemudian mengenang "bully" dirasakan dikala sekolah. Pernah ia mengadu kepada ibu karena diejek sahabat sekelas karena miskin.

Bayangkan ayah Herjavec bekerjanya jalan kaki. Dia mengumpulkan uang ongkos naik angkot, sampainya di rumah, dikala beliau mendengar ucapan sang anak. Ayah Herjavec berkata,"jangan pernah mengeluh," yang mana menjadi kata bijaknya hidup hingga sekarang.

Dia sangat mengagumi sang ayah. Dia menjulukinya "pria tangguh, yang sangatlah tangguh." Perkataan sang ayah akan jangan mengeluh mendorong beliau maju. Keinginan akan membangun kemapanan semakin tumbuh. Tambahan dorongan lain ialah dikala beliau mendapti sang ibu ditipu mentah- mentah.

Bayangkan seorang salesman datang, mengajak ibunya membeli alat pembersih bubuk seharga Rp.500, dan itu setara gaji ayah seminggu. Kejadian tersebut mendorong Herjavec harus lebih cerdas. Pemikirannya ialah beliau bersumpah tidak mau lagi orang renta ataupun beliau dimanfaatkan orang lagi.

Tahun 1984, beliau lulus kuliah dari University of Toronto, dengan latar pendidikannya Ilmu Bahasa Inggris dan juga Ilmu Politik. Dia bekerja semoga bisa mencukupi keluarga. Dia mengambil aneka pekerjaan dengan gaji mepet upah minimum di 1990 -an, menyerupai menunggui meja, mengantar koran, menjadi sales, debt collector.

Imigran sukses


Dia mendeskripsikan dirinya sebagai "Imigran dalam kapal". Merujuk pada imigran Timur Tengah yang mulai masuk ke Eropa melalui kapal- kapal kecil. Umur delapan tahun beliau mencicipi sendiri ikut ayahnya masuk ke Kanda menghindari penjara.

Dia mengenang bagaimana beliau tidur di basement. Cuma punya satu sepatu terpasang dikakinya. Mungkin ia mencicipi kemerdekaan di negara baru. Namun perasaan emosional melanda transisi hidup Herjavec. Dia menginjak dunia gres berbeda. Herjavec bahkan dibully sahabat sekelas karena hidup miskin sebagai imigran.

Ia bahkan dipukuli karena memakai pakaian tidak keren. "Ketika saya berkata kepada ibu saya, beliau lantas berkata, "Robbie, tidak ada seorangpun di dunia lebih baik dari kau dan kau tidaklah lebih baik dari siapapun di dunia"," ia berkata kepada majalah Entrepreneur bahwa mengeluh tidak ditolerir.

Tumbuh besar beliau sempat merasa minder. Dia merasa semakin menyerupai orang abnormal di negeri asing. Sempat ia melihat ayah berangka kerja berjalan kaki. Ayahnya bekerja menjadi tukang sapu di sebuah pabrik. Lalu ia menjadi saksi ibunya ditipu tukang jual mesin penyedot debu.

"Saya menyadari bahwa dibandingkan orang lain, kami sangatlah miskin," kenangnya. Umur 14 tahun muncul rasa ambisi untuk menjadi multi- miliarder, karena ia ingin menyampaikan kehidupan keluarga lebih baik.

Ia ingin lebih dari bayangan kosong keluarga wacana "kembali ke Kroasia". Dia tidak mau keluarganya malah kembali kesana dan memulai dari nol (lagi). Herjavec menginginkan hidup diatas semua pikiran liar tersebut. Dia lantas berkata kepada orang tuanya bahwa beliau akan menjadi bos.

Seseorang yang tidak akan dipecat dan bisa bersantai. Bukan hidup menyerupai pekerja pabrik bersama ayahnya dulu. Dia ingin menjadi seseorang yang bebas menentukan jadwalnya sendiri. Dia mau menjadi entrepreneur. Bekerja seadanya menyerupai dongeng diatas, beliau mulai bekerja lebih keras semoga menjadi sosok menyerupai di citakan.

Karir bisnis


Karir di bidang perfilman dimulai semenjak dini. Dia bekerja di belakang kamera di banyak sekali rumah produksi. Ia kemudian menjadi ajun direktor, filmnya menyerupai Cain and Abel dan The Return of Billy Jack. Karirnya di bidang ini mengalami puncak sebagai produser siaran pribadi Olympic Musim Dingin XIV untuk Global TV.

Herjavec menerima penghargaan termuda meliput Olympic. Mencari pekerjaan dibidang produksi, ia lantas mendaftar ke perusahaan Logiquest menjual produk IBM, namun karena tidak sesuai pengalaman maka beliau ditolak. Herjavec tidak putus asa malah menyampaikan bekerja selama enam bulan tanpa gaji.

Karena beliau bekerja gratis maka Herjavec mencari sambilan. Bekerja keras lalu naik pangkat sangat jauh yakni menjadi Jendral Manajer di Logiquest. Di 1990 -an, beliau dipecat oleh perusahaan, lantas mendirikan perusahaan sendiri berjulukan BRAK Systems, perusahaan keamanan internet Kanda, berkantor di basement rumah.

Kemudian BRAK Systems sendiri dijual ke AT&T Canada di Maret 2000 senilai $30,2 juta. Dan setelah tiga tahun pensiun, serta menumpang tinggal di rumah ayahnya bersama tiga anaknya, jadinya Herjavec menemukan satu lagi perusahaan berjulukan Herjavec Group di 2003.

Bisnisnya meliputi keamanan jaringan internet, menjual dan memanajemen layanan provider, dimana beliau jadi CEO perusahaan. Perusahaan ini tumbuh sangat cepat dan menjadi provider IT terbesar Kanada, menurut Branham Group. Herjavec Group (THG) memiliki tiga pegawai di 2003 jadi 150 pegawai pada tahun 2013.

Total pertumbuhan perusahaan 630% dari 2007- 2014 lalu. Dari penjualan yang cuma $400 K pada 2003 menjadi $125 juta masuk 2012. Perusahaan mencapai target penjualan lebih dari $500 juta.

Mimpinya menjadi imigran sukses telah tercapai. Dia selalu percaya akan hidup sukses dan jadinya sukses melebihi imajinasi terliar. Hidup baginya terbagi dua, orang yang sudah ditakdirkan Allah sukses semenjak lahir dan mereka yang menjangkaunya kesuksesan.

"Saya salah satu diantara orang yang sukses karena menanggung luka di kehidupan mereka, yang tau bahwa mereka tidak akan bisa bertahan lagi dan mau merubah nasib," imbuhnya kepada Entrepreneur.com

Menjadi imigran, kemudian menerima kewarganegaraan Kanada tidak mudah. Dia tidak seketika jadi warga negara karena entrepreneur. Butuh waktu tumpuan saja entrepreneur salain dirinya. Mereka harus siap menghadapi perbedaan budaya dan bahasa, dan norma hidup sementara tetap berusaha semoga sukses.

Menurutnya tidak sangatlah sulit menjadi entrepreneur imigran. Susah buat mencampur di tempat tinggalnya sekarang. Namun tidak berarti menghentikan kau mencari tempat menjadi sukses. "Tidak problem siapapun kau atau darimana pun kamu," Herjavec menambahkan lagi.

Pada dasarnya dalam hati terdalam orang tidak peduli. Tidak peduli warna kulit. Tidak peduli wacana apa agama ataupun jenis kelamin. Mereka cuma peduli berapa nilai kau taruh dalam kehidupan.

Hidup biasa


Pilihan terbaik seorang Herjavec bukanlah memilih berbisnis awal. Bukanlah mencar ilmu bahasa gres semoga bisa menyatu dengan lingkungan. Bukanlah pula menjual perusahaan ke AT&T untuk jutaan dollar. Adalah beliau memutuskan untuk menolak virus beliau sebut hidup biasa. Menolak hidup biasa saja dalam bentuk apapun itu nanti.

"Dunia tidak menghargai kebiasaan," ujar Herjavec. Kamu harulah menjadi hebat untuk sesuatu. Tidak ada namanya cukup baik. Cuma ada terbaik ataupun kata lebih hebat. Pengusaha besar bermata biru savir, sekarang berumur 52 tahun, kini menduduki posisi sebagai pemilik perusahaan keamanan internet.

Dengan sagala macam problem dilalui. Dia pernah bekerja menjadi penjual koran loh. Juga pernah bekerja menjadi kolektor utang. Dia pernah bekerja menjadi pembersih lantai bergaji $76 per- minggu. Herjavec memang hidup berkecukupan tetapi beliau ingin lebih.

Umur 14 tahun beliau "digigit" serangga entrepreneurship. Dia lantas menyatakan harapan menjadi pengusaha kepada kedua orang tua. Ayahnya lantas menyampaikan saran. Ayah Herjavec menunjuk jabatan tertinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Tetapi sosok tersebut tidak membuat Herjavec berpuas.

"Bagi orang renta saya, orang itu yaitu sosok paling sukses mereka tau karena beliau yaitu sosok yang tidak akan dipecat dan pekerja keras."

Tanpa adanya mentor membuat beliau cukup kesulitan. Dia ingin menjadi orang yang tidak peduli akan gajinya ataupun sewa. Ingin menjadi seseorang sukses dan besar. Dia kemudian menyasar buku- buku menjadi sang mentor. Sasarannya tidak lain yaitu kisah- kisah biografi pengusaha.

Dari sanalah beliau menemukan tidak seorang pun peduli akan orang biasa. Kesuksesan yaitu bisa dihitung. Ia mau menjadi sukses dan menghasilkan banyak uang. Atau apapun yang mendefinisikan kesuksesan tersebut. "Lakukan satu hal dan lakukan itu lebih baik dari siapapun," jelasnya. "Lakukaan apapun buat menjadi paling hebat."

Jika tidak mau, maka kau tidak akan pernah melihat titik potensi kamu. Kamu tidak akan pernah sukses buat menghidupkan mimpi kamu.

"Temukan talenta kamu, jadilah hebat dan lakukan hal hebat dari telanta kau sendiri. Jika kau lakukan, tidak cuma kau akan sukses, kau akan menerima kepuasan pribadi dan mencukupi sesuatu uang tidak dapat beli."

Catatan: foto diatas yaitu fotor Robert Herjavic di rumah lamanya
Read More